merdekakanlah Aku

Posted on Agustus 3, 2010. Filed under: islam indie |

berbagi cuma berbagi..

saat itu, mungkin baru setahun saya pindah agama. saya masih hangat-hangatnya belajar agama di masjid Salman, tempat saya masuk islam. hampir semua akang dan teteh aktivis di masjid itu tahu saya mualaf. maka pernah dibawa kepada saya seorang mahasiswi yang katanya sedang mengalami guncangan iman. dia ingin keluar dari islam.

wah, apa yang bisa saya lakukan?

tapi saya kaget. katanya Islam agama sempurna tapi ada juga nih yang mau keluar. maklum, waktu itu saya baru berusia 18 tahun, banyak hal yang belum saya pahami dalam hidup ini, bahkan mungkin sampai hari ini. seingat saya, dia mahasiswi jurusan Farmasi ITB dengan angkatan lebih tua dari saya.

alkisah dia punya pacar beragama katolik yang baik sekali. dan belum apa-apa, dia sudah bilang gini ke saya,
– katanya kamu dari katolik? pasti kamu juga baik.

mata saya mblalak. waduh. kecipratan apa nih?

mengalirlah cerita penuh keluh kesah darinya tentang agama.
– sebetulnya aku sudah lama mau pindah dari agama islam. semua serba ga boleh, semua serba salah. harus ini, harus itu. sholat aja 5 kali, kadang bentrok ma praktikumku. cape. harus ngaji, hidupku pusing.

ingin deh saya bilang padanya seperti yang sering diajarkan pada saya saat itu. bahwa semua itu untuk melindungi kita dari godaan setan dan neraka jahanam. bahkan lebih berat mana semua ibadah itu dibanding api neraka? pengen deh bisa bicara seperti penceramah agama gitu, tapi sepertinya saya kurang berbakat. dan sepertinya “not my tipe”. hehehe..

lalu apa hubungannya dengan pacarnya yang katolik? belum ditanya, dia sudah curhat lagi.
– setelah aku lihat yang lain, terlebih di pacarku, beragama itu ga repot. maka apa sih agama itu? kenapa yang ini repot, yang itu tidak?

haduh, baru umur 19 tahun, baru pindah agama setahun, sudah ditanya begini. maka saya coba deh bicara,
– saya memilih islam karena saya mau. tidak ada yang maksa.

dia diam.
– saya masuk islam tanpa siapa-siapa yang memberi alasan dan dorongan. saya juga tidak ingin ada pihak yang dituduh mengislamkan saya. saya tidak tahu islam itu repot dan susah. saya masuk ya masuk aja.

dia bertanya,
– kamu dibuang oleh keluarga?
– bisa dibilang begitu.
– kamu dianiaya?
– tidak secara fisik.
– kamu tidak lagi diberi uang lagi oleh keluarga?
– apa saya masih pantas meminta pada keluarga setelah pindah agama?

gantian saya bicara,
– jika tidak ada pacar yang beragama katolik, apakah kamu akan tetap meninggalkan islam?
dia diam.

saya jawab,
– saya tanpa pacar yang beragama islam, saya tanpa siapa-siapa dan saya tetap masuk islam. kalau kamu berani tanpa menggantungkan diri pada pacar yang katolik, mungkin itu lebih baik.

dia kembali bertanya,
– katolik di mataku baik. kenapa kamu meninggalkannya? kamu tidak setuju dg trinitas? kamu tidak setuju Yesus disebut tuhan.

gantian saya yang terdiam. tapi saya jujur padanya, bahwa kenangan saya tentang agama saya sebelumnya memang baik. bukan karena Tuhannya adalah Yesus, bukan karena trintasnya. tapi karena dibawakan dengan baik, setidaknya selama saya mengenalnya.

tidak ada yang marah jika saya tidak ke gereja. tidak ada yang marah jika saya tidak berdoa, tidak juga ada yang marah jika saya main-main di gereja. bahkan nyaris tidak ada dari gereja yang marah ketika saya masuk islam. mungkin karena waktu itu saya masih anak-anak.

saya pun bercerita padanya sebuah kisah lucu dari ibu saya. katanya, waktu kecil saya suka pingsan. bahkan di gerejapun saya sudah beberapa kali pingsan. sampai pihak gereja harus menilpun ke rumah tuk minta orangtua menjemput saya. seorang pasturpun pernah becanda ke ibu saya.
katanya,
– mungkin khusus untuk anis, boleh lahir di gereja tapi bukan tempatnya di gereja.

hehehe.. ya saya inget, waktu kecil saya beberapa kali pingsan di gereja.

maka ketika saya masuk islam, ibu saya baru menceritakan ucapan itu.
katanya,
– mungkin pastur bener juga..

walhasil, saya cuma bisa bilang padanya, bahwa saya tidak benar-benar tahu persis mengapa saya memilih islam. tapi saya mencoba memilih islam tanpa apa-apa. mencoba bener-bener tiada Tuhan lain selain Allah. tiada rasa lain selain rasa “itu”. tidak juga ada ingin lain, selain itu. juga tidak ada kebencian kepada agama sebelumnya, hanya ingin islam saja. membuang dan membuang semua yang lain yang sering menggoda. bisakah itu dan hanya itu? lurus dan lurus, dan jangan bengkok walau sedikit?

lalu Muhammad?
beliau bilang sendiri bahwa beliau cuma utusan. maka syariatnya, bukan berarti itulah Tuhan.

itu yang saya pahami dari sejak saya pertama memilih islam. entah siapa yang mengajari, tapi tahu-tahu rasanya ya begitu saja.

saya tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan tentang teman mahasiswi itu. saya cuma merasa sedikit bersalah bahwa saya tidak mencegah juga tidak mendukung pilihannya. saya hanya memerdekakannya tuk memilih. saya sendiri sempat berpikir, mungkin saya gila. giliran orang semangat dakwah islam, saya kok malah gitu? tapi ya memang begitulah saya, bahkan dari pertama saya mengenal islam.

saya mengenal kelompok yang sangat keras mengajarkan syariat islam. tapi sungguh, saya tidak bisa bertahan jika jiwa saya tidak merdeka. saya ingin bisa melakukannya ketika tidak ada Tuhan lain selain yg saya sebut Allah itu. tidakkah paksaan bisa menjelma menjadi “Tuhan lain”?

tapi bahwa saya belajar dan menjalankan tata caranya Muhammad, itu iya.

hari ini, di era semua berlomba-lomba tuk eksis di ruang publik, agama pun berlomba mencari eksistensinya di ruang publik, saya sering terdiam. bukankah di dalam diri sendiri saja memelihara eksistensi Tuhan sudah sulitnya setengah mati??

ah, Tuhan..

pertanyaan saya hari ini, setelah 20 tahun pindah agama, adalah..
– apakah bisa tanpa yang lain selain Engkau?

maka kadang ingin kumatikan semua rasa
kupejamkan mata dari semua rupa
kututup telinga dari semua katanya
sampai tak ada yang lain, hanya Engkau
tapi kadang juga aku berterimakasih pada sejuta rasa
sejuta rupa dan sejuta katanya
yang telah membuat dunia ini berwarna dan berirama
yang telah membuatMu hadir sebagai anugerah

maka lihatlah aku, Tuhan..
yang berjalan dan Kau perjalankan
yang berpindah dan Kau pindahkan
masihkah Kau ditempatMu?
diam dan kaku di situ?
atau Kau mau menari bersamaKu?
di jiwaku?

Tuhan…Tuhan..
Kaukan kupeluk
tak ingin Kau jauh dariku..
merdekakanlah aku
maka aku belajar memerdekakan jiwaku
aku belajar memerdekakanMu

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

24 Tanggapan to “merdekakanlah Aku”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Dengan hormat,
Mba Anis (boleh tahu umurnya) saya tertarik dengan pengalamannya boleh sharing lebih dalam mungkin dengan facebooknya atau email pribadinya, saya tertarik dengan budaya Tionghoa dan kebetulan Mbak Anis mencerminkan keragaman yang lain yaitu seorang Muslim, saya juga seorang muslim (pria)

@Astari Yahya : salam kenal mas Astari.. terimakasih🙂
add saja akun FB sy : Luzie Megawati

haduh…dalem banget..terima kasih mbak.

@mas Datyo : apa kabar mas Datyo? sehat-sehat sajakan? mbak Onter? mbak Myra? mas Gorda? halahh, absen.. hehehe.
oops, maaf.. kedaleman ya?!🙂

nggak nggak….bagus banget kok…
Alhamdulillah sehat semua…

terima kasih atas tulisan ini, mbak.
indah banget.
dalam beragama, kita memang tidak boleh memaksakan. makna kemerdekaan hanya bisa dirasakan sendiri, dijalani sendiri. meskipun terkadang terwarnai oleh pandangan dan sikap orang lain.
semoga Allah SWT senantiasa melindungi mbak Anis.
amin.

Dear Anis. Cukup unik juga “cara” kamu masuk Islam. Bukannya tidak ada yang seperti kamu, tanpa tahu kenapa memilih Islam? Misalnya seperti seorang wanita Jerman (atau Amerika? – maaf saya lupa), yang masuk Islam hanya karena mendengar bacaan Al Qur’an dari mulut seorang anak kecil… It’s OK.
Mungkin kamu perlu bergabung dengan saudara-saudara kamu yang lain sesama mualaf untuk sekedar sharing atau melampiaskan unek-unek di milis mualaf.com. Semoga tidak merasa sendirian. Wassalam

The New Rabiah… smoga Allah memberi kelimpahan rahmat dunia dan akhirat pada mbak dan keluarga..
Ntah napa ngebaca tulisan ini aku jadi lebih sejuk dan serasa tabir tentang Allah malah jadi lebih tersingkap, dibandingkan ndengerin khutbah2 ustadz yang jor2an ayat
Mungkin.. kata2 yang disampaikan lewat mulut, akan mampir ke kuping.. tapi kata2 yang disampaikan lewat hati, akan sampai ke hati..

Bu Anis boleh saya minta email pribadi ibu?karena saat ini saya merasa butuh bantuan ibu. Terima kasih..July

@July.. maaf, baru sy buka blog ini. kirim saja ke mualafmenggugat@gmail.com yaa.. kalau saja ada yg bisa sy bantu.

Mbak ani (kali ini sudah benar sapaan saya hehe).
Senang saya baca pengalaman iman Mbak Anis.

Tuhan memang membebaskan kita semua utk beriman dan bahkan utk tdk beriman. Dan ketika kita beriman, Dia juga biarkan kita menyapaNya dalam cara yg kita rasakan sebagai cara yg paling intim denganNya.

Setiap individu adalah diciptakanNya bebas. Dan dalam kebebasanNya itulah kita mengenalNya.

Bila Tuhanpun membebaskan, maka memang tak seorang manusiapun berhak menentukan bagaimana kita hendak menyapaNya. Tidak pacar, tidak sahabat, tidak suami atau istri, tidak juga orang tua, tidak jua pendeta,dan ulama lainnya

Tuhan yg Esa memang disapa dengan beragaman Nama. Sapalah, bercengkramalah, dan berbahagialah!

Salam
Bona Sigalingging

bukankah sudah diberi kebebasan untuk pilihanmu, manusia terdiri dari jiwa, raga dan roh, kebebasan yang terakhir yang diberikan Tuhan kepada manusia yang serba terbatas kemampuannya ialah setelah roh manusia terbebas dari jiwa raganya, tidak seperti jiwa dan raga Yesus yang mampu bersatu kembali dengan Rohnya setelah jiwa dan raga Yesus tidak mampu menahan penyiksaan yang diperbuat manusia

ukhti,
Alloh itu memilih hati hambanya yang pantas untuk mendapatkan petunjuk. Sebagaimana Alloh memilih Muhammad SAW sebagai utusannya karena beliau memiliki hati yang paling baik diantara umat manusia,Petunjuk itu datang kepada hamba yang memiliki ilmu dan menginginkannya, maka beryukurlah engkau sudah mendapatkannya, tetaplah istiqomah di jalanNya, tuntutlah ilmu Agama dengan belajar Qur’an dan tafsirnya, bisa dg tafsir ibnu katsir, ibnu jarir, al qurthubi, juga pelajarilah sunnah yang shohih besrta syarahnya. berusahalah untuk selalu mengingat Alloh karena dengan mengingatNya hati menjadi tenang, dan salah satu tanda hati yang sedang sakit adalah jiwa yang gelisah dan ragu-ragu. Berlindunglah kepada Alloh atas kegalauan dan keraguan hati yang dihembuskan oleh syetan. Barokallohu fiikum

“jika tidak ada pacar yang beragama katolik, apakah kamu akan tetap meninggalkan islam?”
Saya sangat terkesan dengan kalimat ini, karena siapapun akan kecewa, kalau mereka pindah agama bukan karena pemahaman, tetapi ada sesuatu yang ‘lain’, yang menjadi tujuannya.
Ada sebuah hadits yang berbunyi “siapa saja yang hijrah (pindahnya) karena wanita yang dicintainya maka hanya sebatas itulah ia mendapatkannya”.
Trima kasih.

wow.. tulisan yang keren🙂
saya share di FB yaa..

anda meninggalkan kristen kita percaya tidak ada satupun ajaran kristen yg harus membenci anda, sy tidak tahu kalau anda kelak menjadi murtad, hukum islam jelas MATI!!!
Siapa saja yang mengganti agamanya maka bunuhlah. (HR al-Bukhari, an-Nasa’i, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad)

kiranya anda menjadi berkat

catatan yang menarik….

tidakkah paksaan bisa menjelma menjadi “Tuhan lain”?
aaah suka sekali dengan kata kata itu mbak🙂

membaca tulisan mbak anis, seperti duduk dibawah pohon yg rindang dan rumput hijau dan bunga-bunga yang menghampar luas….he he he

mohon ijin copi paste kisanya , mbak ! tolong dong di telusuri lagi si gadis itu … moga dapat hidayahNya.

ikut nyimak sis..🙂

Bagus bgt mbak..

Saya jadi teringat kisah kunjungan pendeta Rudolf Tendean ke ponpes al zaytun indramayu, di mana pak pdt smp menangis melihat ada pesantren Islam yg tdk m’nolak non-muslim, pendeta2 b’kunjung.

Lebih haru lg ketika pimpinan ponpes mau berkunjung ke gereja pdt Rudolf di Koinonia jatinegara sebelum itu.

Kata2 pdt Rudolf di akhir kunjungan di Al Zaytun, kira2 ‘Tuhan, aku rela mati sekarang setelah menyaksikan semua ini’

andai kisah pertemuan dua umat ini bisa abadi, saya yakin tidak ada org yg perlu meninggalkan agamanya masing2. Benarlah Tuhan, DIA Rabb Nas, tidak Tuhan menyebut dirinya Rabb Ummah. Salam😀

Semoga bu anis Selamat sepanjang masa. Amin.

heeemmm menarik!!!


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: