Jaka Tarub versi 7

Posted on Juli 12, 2011. Filed under: islam indie |

 

 tentang akar rumput yang tidak selalu mudah  setuju. cuma berbagi, semoga menginspirasi.

 

Syahdan, setelah waktu itu, Jaka Tarub diperkenankan tinggal di langit mengikuti bidadari yang pernah dicuri selendangnya ketika turun mandi ke bumi, maka Jaka Tarub telah mengetahui seluk beluk kehidupan khayangan, dalam bicara atau diam dan juga dalam pengamatan. Kesimpulannya, hidup di khayangan tak seindah bayangan. Karena tentu bukan hidup namanya, jika tanpa masalah. Sederhananya demikian, di mana-mana, sama saja.

Tapi mungkin memang beginilah takdir cerita tentang Jaka Tarub. Dia yang sesekali suka mencari tahu di tepi danau, lalu bertemu bidadari yang turun mandi. Maka kali ini, ketika Jaka Tarub mencari tahu di tepi awan, memandang bumi dari atas langit, hei.. ada sesuatu di bumi yang mengundang perhatiannya.

Katanya dalam hati, tentu itu bukan bidadari, karena ia hidup di bumi. Tapi ia wanita, sedang duduk di bawah pohon dan memandang ke langit. Cara memandang yang unik. Mengintip langit dari celah dedaunan pohon. Mengapa tak memandang langit dari tempat terbuka? Ia seperti malu-malu tapi asyik sekali.

 

Jaka Tarub pun ingin tahu. Mengambil selendang, cara untuk turun ke bumi dan menghampiri sang wanita.

– Hai..

Wanita diam saja, asyik sendiri.

– Hai.. indah ya langit dari sini?

– Oh? hai.. iya indah sekali, jawab wanita itu.

– Tapi sebetulnya, langit tidak selalu indah loh.

– Oya?

– Boleh kenalan?

– Eh, lain kali aja ya mas, saya ada perlu.

Jaka Tarub ditinggal sendiri. Lain kali. Gumam Jaka dalam hati, kalau berjodoh, nanti juga kenalan toh?

 

Hingga tiba lagi suatu hari, wanita itu kembali duduk mengintip langit dari dedaunan. Dan Jaka Tarub kembali mencoba kenalan.

– Hai..

– Oh hai mas.. maaf waktu itu ditinggal.

– Tidak apa-apa.

Merekapun berkenalan. Nama wanita itu Dara.

– Silakan loh mas, kalau mau duduk di sini. Tapi maaf cuma rumput

Dara menawarkan Jaka duduk dari hanya berdiri saja di samping pohon.

– Terimakasih.

Jaka duduk di rumput. Mereka duduk bersebelahan, agak jauh, tapi bersama di bawah pohon itu dan saling berbagi cerita, kesana-kemari.

 

– Apa? Mas tinggal di langit?

Suara penuh tanya keluar dari bibir Dara. Matanya berbinar, antara tak percaya tapi ingin tahu.

– Begitulah.

– Enak mas tinggal di sana?

Jaka Tarub sedikit geli mendengar pertanyaan Dara. Diam-diam merasakan betapa sudah lama ia tak duduk di rumput.  Dan jawabnya pada Dara,

– Tinggal di langit, kadang makan hati.

– Hah? Masa sih mas? Bukankah di langit tak ada rasa sakit?

– Ah, siapa bilang? Selama kita manusia, langit itu bukan surga toh? Itu cuma bayangan saja.

 

Jaka memang lebih ingin membangun surga di bumi, apalagi setelah tahu seluk-beluk kehidupan di langit.

 

Darapun makin banyak bertanya. Khas yang hidup dan duduk di rumput.

Termasuk pertanyaan-pertanyaan yang aneh.

– Mas, angin bertiup ke arah timur. Apakah itu berarti di langit sedang meniup dari arah barat?

– Mas, awan abu pucat. Apakah itu tanda langit sedang bersedih hati?

– Mas, gemuruh itu kapankah ia akan mengeluarkan pijar petir yang dahsyat?

 

Jaka ditanya dan ditanya. Tentang langit yang luarbiasa. Jaka pun berbagi beberapa dongeng langit yang tak semua dimengerti bumi. Hingga suatu ketika, Dara mempertanyakan keseluruhannya.

– Jadi langit itu ujungnya dimana sampe mana sih, mas? Bolehkah tahu seluruhnya?

Jaka menjawab sambil menahan geli, juga mungkin kewalahan sendiri.

– Tidak pernah ada yang tahu ujungnya langit, selain yang menciptakannya toh? Saya bisa tahu, sebut saja 80% nya, sudah bagus banget.

– Oh ya iya juga ya mas..

Ucap Dara polos.

 

Di kepolosan dan di bawah pohon itu, Dara memanggilnya dan bertanya. Kadang Jaka sempatkan turun ke bumi, kadang Jaka terlalu sibuk dengan urusan langit. Bukankah langit telah menjadi tempat tinggalnya?

 

Hingga mereka kembali duduk di rumput dan berselisih tentang angin. Angin yang suka bertiup terlalu kencang dan menggugurkan dedaunan bahkan meski bukan daun kering.

Jaka hanya menerangkan betapa angin tetaplah angin. Disuka atau tidak, perlu atau tidak, masuk angin atau tidak, angin tetap akan bertiup. Bahkan meski Jaka juga tak selalu suka berangin-angin di ruang terbuka, tapi Jaka tidak merasa harus menyalahkan angin. Hanya Dara bersikeras.

– Saya  ga suka angin itu, mas. Ia jahat.

– Jangan diklaim jahat. Di satu saat, angin kencangpun bermanfaat.

– Iya saya ngerti. tapi tetap aja mas, saya ga punya hati pada angin yang seperti itu.

– Memang tidak untuk disukai atau tidak toh? Meski tak suka tapi jika bisa bermanfaat banyak dengan bergerak bersama kecepatan angin, tetap bangga toh? Kita dahulukan manfaatnya buat yang lebih banyak kan?

Bahkan Jaka menambahkan.

– Kita jangan terjebak oleh dikotomi angin atau bukan. hingga semua angin kita salahkan dan bukan angin kita setujui. Meski kita jelas-jelas bukan angin, mengkritisi angin tapi tetap tidak melupakan apresiasi jika memang ada manfaatnya.

Jaka berusaha menjelaskan langit yang abstrak pada Dara.

– Saya paham maksud mas. tapi jangan suruh saya suka pada angin itu. simpati, boleh. suka, ga.

– Loh? Saya bukan pembuat angin, mengapa saya harus menyuruh suka pada angin?

 

Hening.

 

Kemarin, angin memang beritup terlalu kencang dan berubah-ubah arah. Membuat suasana tak nyaman. Merinding, dingin. Belum lagi daun-daun berguguran terlalu banyak. Dara tak mau pohonnya kehilangan daun. Dan Dara kedinginan di bawahnya. Lalu kehangatan ditemani Jaka seperti menghilang karena angin memenangkan suasana, mencekam mereka dengan jarum dinginnya yang menusuk-nusuk. Becandapun, oleh angin dibuat jadi dingin.

 

Maka Dara menulis dan menyematkannya di rumput

– Maaf ya mas Jaka. Saya cuma becanda. Jangan biarkan kita diadu domba oleh dinginnya angin. Bukankah kata mas Jaka, angin tetap angin, meski kita tidak suka, meski kita masuk angin? Dan sepertinya saya masuk angin deh mas. Lain kali saya bawa mantel. Ya mas ya?

 

Lalu Dara tertidur di rumput di bawah pohon itu.

 

Mungkin Jaka sudah kembali ditelan kesibukan di atas langit.

Satu pesan dan keinginan Jaka yang diingat Dara

Membangun surga di bumi

Karena selama mereka manusia

Maka langit bukan surga

Itu hanya bayangan belaka

Di langit Jaka belajar mengenali angin

Mengenali bagaimana langit bekerja

Sebagaimana ia hidup di dalamnya

Sebagaimana yang slalu ingin bisa diceritakannya pada Dara

 

Di bawah pohon itu, Jaka dan Dara

Yang mengintip langit dari celah dedaunan

Yang mengintip bumi dari balik awan

Duduk di rumput berdua dan berbagi bercerita

Tentang keharmonian semesta yang tak mudah

Namun harus diupayakan senantiasa

Dan kembali karena mereka manusia?

Harus mau sama-sama tanpa membeda-beda

Jangan terjebak dinginnya adu domba

Meski dalam sebuah canda

 

anis

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Jaka Tarub versi 7”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Ahh makin lapar… Tambah dunk kak… Huehueheue

service medical Indonesia


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: