Pada Langit-langit Kamar

Posted on Juli 12, 2011. Filed under: islam indie |

 

 

 

Melepas rindu, jemari menari, melukiskan imajinasi
Sudah lama sekali, jadi seperti latihan lagi

 

Sore belum lagi tiba, ketika Rama, bukan nama aslinya, menggoreskan warna jingga di langit-langit kamar. Sinta, juga bukan nama sebenarnya, menatap sebulat mata. “Mengapa jingga, Rama?” tanyanya menggambang di udara, ikut menatap langit-langit kamar itu.

 

Rama tersenyum. “Mengapa? Aku hanya sedang mencoba menggoreskan warna lain, ini coba warna jingga. Seperti rindu senja, siang ini terlalu merah membara, gerah”.
Merah? Ya. Di langit-langit kamar itu memang dominan merah.
Warna yang mempertemukan Rama dan Sinta. Dua orang yang menyukai pelangi untuk negerinya.

 

“Begitu membarakah merah, seperti api yang membakar dan menjadikan Rama arang hitam?”, tanya Sinta, geli dan penasaran. Sebagai penggemar pakaian warna hitam, sudah pasti Rama membela warnanya. “Bukankah gelapnya hitam membawa kita untuk peka cahaya?” Rama memang suka membalikkan tanya.
Lalui lanjutnya, “Aku tak takut hitamnya. Aku hanya enggan jadi arangnya. Enggan getas dan retas”.

 

“Tapi mengapa jingga?”, masih itu tanya Sinta.
Mengapa? Dalam diam, Rama juga ingin tahu.

 

Agar diam tak berlalu terlalu lama, Sintapun mencoba mencampur warna. Mencari komposisi seimbang, mencari jingga seperti yang tadi digoreskan Rama. Sinta tampak sibuk, tapi warna jingga itu tak kunjung ada. Kesal sendiri, Sinta bertanya.
“Rama, apakah tuk mencampur warna, kita harus berkompromi dengan komposisi?”
“Rama, mengapa jingga ini, tidak indah? campuran warna lamanya tak mau sirna?” tanyanya lagi.
dan “Rama, kok jingga ini terasa memaksa dan malah jadi tak suka?”
Tangan dan wajah Sinta belepotan warna.

 

Rama tersenyum, katanya, “Sudahlah. Kita sudah tahu jawabnya toh?”
“Jawab? Jawab apa?” Sinta memang suka lambat mencerna.

 

Rama, yang telah bermandi warna dan bertahan terlalu lama. Ditempa waktu, dicurangi nafsu, diiris ngilu. Memang sangat mendewasakan, hingga tak ada yang diingini Rama selain keserasian. Bukan lagi semata tentang warnanya atau warna lainnya. Lalu Sinta, yang masih muda untuk mengerti berjuta warna. Penuh tanya tapi telah berani memilih warna. Dan ternyata tak bisa pindah, walau mencoba mencampurnya.

 

Pada cita-cita untuk memberi pelangi, pada satu warna Rama dan Sinta bertemu. Namun begitu, Rama sudah langsung berkata, bahwa ia mengutamakan keharmonian warna dan tak selalu berarti membela satu warna yang itu.

 

Dan jingga?
Rama yang paham warna, tak tahu pasti
Ia tadi hanya melihat dan mencoba menggoresnya
Sinta ingin tahu mengapa, tapi tak mau suka.
Ada apa ya dengan jingga?

 

Di langit-langit kamar itu, kamar komunikasi
Rama dan Sinta, bukan nama sebenarnya
Bertemu dan setuju
Membicarakan dan menggoreskan warna-warna
Mencita-citakan pelangi untuk negerinya
Dalam apapun pilihan warna mereka
Yang kebetulan sama

 

Lalu ketika Rama mencoba menebalkan warna biru sebagai kontrasnya di langit-langit kamar itu
“Aaaaaaah….” Sinta mblalak, Rama terbahak-bahak.

 

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: