Puasakanlah Aku, Tuhan

Posted on Juli 30, 2011. Filed under: islam indie |

 hai.. apa kabar?

 

 

 

 

Hari ini, mengawali niat hening menyambut Ramadhan dengan sebuah kebetulan yang hadir. Persahabatan dengan seorang wanita cantik, yang terlahir sebagai pemeluk Ahmadi. Sepupu dari Tubagus Chandra, korban yang ditelanjangi dan dipukuli hingga mati, lalu digantung di tragedi Cikeusik, beberapa waktu silam. Katanya Chandra berjuang 6 tahun untuk memiliki putra. Ketika kejadian itu, istrinya tengah hamil 4 bulan. Juni kemarin, putra Chandra lahir, yatim.

 

kita mungkin berkoar di sini dan di aneka media tentang tragedi itu, tapi kini dia seperti bicara di muka kita sendiri..

 

Diapun memperkenalkan bagaimana kelompoknya. Juga ingin memberitahu siapa dan bagaimana dirinya. Bahkan minta izin tuk mengirim ba’iat kelompoknya ke alamat email. Seolah ingin dikenali lebih dekat dan hangat, di balik dinginnya tragedi demi tragedi yang telah dialami..?

 

Malam ini saya membaca dan tertegun dengan isi surat yang dikirimnya.

Tuhan, bagaimana saya harus menjawab?

Apakah perbedaan selalu menjadi jarak?

.

 

Maka inilah jawab itu:

 

Mbak cantik,

Bukankah pada dasarnya, kita memang cenderung nyaman dengan kelompok kita sendiri? Itu tabiat kita, manusia. Saya menghormati segala bentuk janji setia kelompok, sebagai kepastian dan komitmen kebersamaan. Itu sebuah kewajaran.

Saya pribadi  memiliki pengalaman tersendiri sebagai mualaf, yang memilih indie, dan selalu belajar menjadi diri sendiri. Kadang terasa sepi di keramaian. Tapi mungkin lebih baik begitu dari saya terpaksa dan tertekan?

Semua sepakat, kemerdekaan jiwa itu yang paling mahal.

Lalu kalau memang adalah seorang yang merdeka, apakah kita memiliki alasan tuk menjajah yang lain? Sejauh ini yang ada hanya keinginan berbagi. Betapa kemerdekaan ini, meski kadang sunyi, diam-diam, indah sekali.

Maka semoga benar yang disebut orang, bahwa hanya yang merdeka yang bisa memerdekakan.. ?

Dan kemudian pelajaran termahal dari sebuah kemerdekaan adalah pandai-pandai membawakan diri tanpa harus kehilangan kemerdekaan yang mahal ini. Sehingga karenanya semua kebersamaan yang hadir, dengan siapa saja, memang berteman dan berlandas atas kemerdekaan.

Bukan karena apa-apa dan bukan membeda-beda. Sungguh, karena sama-sama merdeka..

Secara kemerdekaan yang bertanggungjawab adalah kemerdekaan dengan kesadaran bahwa kemerdekaannya berbatas dengan kemerdekaan yang lain, sejatinya, seorang yang benar-benar merdeka, tahu menjaga relasi dengan semua pihak. Sadar mengharmonisasi diri dalam sebuah maha karya kebersamaan penciptaan.

Mungkin perjalanan kita masih jauh tuk menjadi insan yang merdeka di negeri kita sendiri. tapi selalu bisa kita awali dari satu demi satu kesadaran yang hadir di diri kita. Seperti tersingkapnya satu demi satu sekat jiwa..? Walau entah apa hasilnya..?

 

Peluk hangat,

tetap semangat

..

 

Demikianlah,

mungkin kata-kata hanya tinggal kata-kata.

ia berterbangan di udara, lalu menghilang

kau tak akan tahu rasanya, sampai kau menjadi dirinya.

empatimu, puasanya egomu..

 

Puasakanlah aku, Tuhan

dari lapar dan dahaga ini

sampai aku menjadi makanan itu sendiri

menjadi air bagi dunia

memberi kehidupan bagi sesama

Puasakanlah aku..

 

mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankannya

semoga sehat dan berkah, sampai bertemu di hari raya

 

anis

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Puasakanlah Aku, Tuhan”

RSS Feed for “Islam Indie” Comments RSS Feed

Pertama baca blog ini langsung tersepona.🙂 salam kenal dari Amaliyaw😀

miris dan empati terhadap suatu penderitaan ternyata belum apa-apa dibandingkan gelap yang kita hadirkan dalam kehidupan segelintir orang lainnya ya, mbak. mudah2an di ujung kegelapan akan terpancar sinar terang untuk hati kita semua agar dapat hidup damai meski dalam keragaman


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: