1

pause

Posted on September 2, 2008. Filed under: 1 |

mualafmenggugat to robert manurung

abang

saya nangis nih baca komennya.
higs..

maaf ya bang robert..
saya bukan kehilangan keberanian tuk berbicara
selain saya ingin belajar lebih dewasa
dalam pamit ini
semoga mengajari sebuah “sikap”, bang
bangsa kita lebih suka memilih ngotot satu sama lain
tidak ada yang mau mundur
kalau dalam rasa benar saja saya bisa mundur
semoga yang dalam jelas-jelas salah lebih bisa mengakhiri sikapnya, bang..

ketika banyak kata mulai terasa sia-sia
dan hanya berbantah-bantah
maka hanya sikap yang membedakan kita
kebenaran tidak akan lari dari waktunya

gitu ga sih bang?

maaf ya bang
juga buat semua
kalau saya masih emosian
asli, ini demi menunjukkan sebuah sikap
saya tahu saya ambil resiko, dilupakan dan dianggap sia-sia
bahkan diragukan keimanannya
tapi saya percaya, akan ada manfaatnya sebagai pembelajaran sikap
walau mungkin tidak dalam secepat-cepatnya
perlu waktu tuk memahaminya

sekali lagi maaf ya bang
saya akan kembali
pasti..

horas!
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

,

Posted on Agustus 31, 2008. Filed under: 1 |

anis megawati to Fitra

neng, saya tuh selama jadi orang islam
kalau dalam bahasa jawanya liyep-layap ing aluyut
setengah tidur, setengah terjaga
sadar – ga sadar..

kenapa bisa begitu?
karena rasanya tertikam dari depan oleh kristen -agama saya sebelumnya dan tertikam dari belakang oleh islam sendiri – agama saya saat ini.
bayangkan saja begitu. belati di depan dan di punggung.
ketemu di titik jantung saya. maka saya dimana neng?

saya teh rasanya berdarah-darah, hidup ga – mati juga ga neng..
aduh… melayang deh.
di keduanya ada cinta tapi berdarah, amor tapi horror..
kalau dalam kedokteran mah, tinggal tunggu keabisan darah aja nih..
hahahaha..

entahlah..
pengennya sih mati aja deh neng..
dan semua selesai baik-baik.. berbaikan

tapi entah kenapa kok masih aja hidup ya neng?? hihihi..
padahal kejadian ini sudah berkali-kali loh
sejenak hilang rasa sakitnya,
e.. datang lagi tikaman barunya dan tetap dari dua arah itu..

maka bener deh neng
tinggal tunggu darahnya kering aja nih
jantungnya mah dah sobek-sobek deh
bocor di sana sini

e, si neng jadi dokter ga takut darahkan??
hahahahaha

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

pamit

Posted on Agustus 30, 2008. Filed under: 1 |

(serius nih..)

buat semua di sini, saya mau berpamitan yaa 😀

hmm, cerita nih..

seorang teman saya, pernah mengganggap saya seperti Muawiyah..
berawal ketika saya bertahan menyebut diri sebagai mualaf.
padahal seperti saya ceritakan di sini, saya memang masih sulit tuk menjadi seutuhnya muslim, jika itu harus bertentangan dengan nurani saya. saya yang pluralis, humanis, nasionalis dsbnya -seperti yang semua tahu di sini– maka biarlah saya perlahan belajar tuk menjadi muslim sejati. selama apapun waktunya untuk itu, saya pikir bukan masalah.

sebagai mualaf, saya tidak pernah minta diberi zakat. tidak pernah terpikir oleh saya masuk islam tuk jadi peminta-minta.
tapi itupun dipertanyakan. apakah sekiranya saya ini terus mengaku mualaf itu karena sudah tak lagi menerima zakat? becanda atau tidak, rasanya ga enak saja. dan pada kenyataannya, saya juga tidak pernah menerima zakat sepeserpun, seperti pernah saya ceritakan di sini.

mungkin sederhana yaa, tapi dia mempermasalahkannya. dengan alasan bahwa pengertian mualaf itu harus ditempatkan sesuai al qur’an dan asbabunuzulnya.
lalu mempertanyakan dan bahkan mewacanakan kalau sikap saya itu seperti muawiyah

aslinya, saya ga tahu siapa itu muawiyah. saya beragama lebih mengikuti intuisi saja.
tapi rasanya, muawiyah bukanlah seorang yang dirasa baik dalam sejarah islam. dan awalnya saya tersinggung disebut demikian.

saya baru tahu — setelah berselancar — kalau Muawiyah adalah simbol dari kemunafikan, kesesatan dan kekafiran dalam sejarah islam. walau banyak polemik juga ttg pendapat seputar Muawiyah.

lalu bahkan dia berkata, bahwa seharusnya saya bangga disebut sebagai Muawiyah. karena bukankah Muawiyah pernah menjadi “Pemimpin kaum-kaum yang beriman” (Amirul Mukminin), tercatat sebagai salah satu penulis wahyu, dan tergolong “ummat terbaik” karena sejaman dg Nabi.

tapi pakai tanda kutip..

saya merasa sangat tidak nyaman dengan pernyataan itu.
dalam arti, bukan pada pribadi saya yaa..

saya nih ga mau jika semua gagasan dan celoteh saya di sini dan dimana saja, malah menjadi polemik bagi dunia islam. saya tahu pasti, betapa islam begitu banyak rupa dan wajah. saya mungkin bisa berkelompok pada salah satunya, yang sejenis saya. dan itu tentu akan aman-aman saja.

tapi saya hanya merasa, sudahlah..
kasian islamnya muhammad, kalau saya juga bersikeras mempertahankan cara saya dan terus menggagasnya di sini. saya tidak mau ikut-ikutan merongrong islam. keterbatasan akal dan prilaku saya, –terutama tidak pernah pakai ayat– sungguh saya tidak ingin kalau itu sampai menjadi pencitraan yang semakin buruk bagi islam.

saya hanya satu noktah bahkan debu dalam islam, dipinggiran sekali mungkin. maka ada atau tidak, buat saya juga tidak masalah.

sungguh, saya hanya tidak ingin menambah polemik tuk dunia islam.

mungkin saya emosi, saya juga ga tahu. tapi itulah kejujuran yang ada dalam hati saya.
demi rasa cinta dan respek saya pada islam, pada muhammad, dan pada tuhan yang saya menyebutnya Allah swt, saya tidak ingin, — sangat tidak ingin — merugikan siapa-siapa.. apalagi merugikan sebuah institusi bernama agama.

tolong juga pahami, kalau sikap saya ini terdorong oleh rasa tanggungjawab saya yang besar pada dunia islam.

maka….
izinkan saya akhiri semua celoteh saya di sini
blog ini, mualafmenggugat.wordpress.com
mari kita akhiri bersama,
terhitung di awal ramadhan ini

saya berterimakasih..
tuk k’Iwal yang sudah membuatkan blog ini
tuk k’Fitra yang memberikan nama mualafmenggugat
dan tentu………..
TERIMAKASIH YANG TIDAK TERHINGGA UNTUK SEMUA DI SINI.. 😀
yang saya ga bisa menyebutnya satu-satu..
saya akan mengenang kebersamaan yang seru di sini, dalam setuju atau berbeda.. semua indah-indah saja.

sebagai manusia merdeka, mungkin saya akan membuat blog lagi, dengan tidak mengusung nama berbau islam tentunya. ingin yang lebih merdeka dan lebih universal lagi. hanya saya belum tahu kapan persisnya itu akan saya lakukan.

tuk sementara, saya ingin menikmati keheningan dalam pertapaan, hihihi (dibaca: demi menjadi lebih dewasa lagi) dan menikmati wajan pinter saya.. hahaha.. 😀

tidak ada kebencian sedikitpun dalam hati saya pada teman saya itu, dan juga tidak ada keraguan sedikitpun dalam hati saya tuk tetap menjalankan apa yang telah menjadi pilihan hidup saya, termasuk pilihan berislam. hanya mungkin, dalam sama atau tidak dengan islamnya teman saya itu atau yang lain di sini, biarlah saya terus dan terus belajar..

belajar islam adalah seperti belajar tentang hidup itu sendiri.

seperti beberapa postingan kontemplasi terakhir saya di sini
bahwa setelah cinta adalah setia.
lalu di antara cinta dan setia adalah percaya
maka setelah percaya adalah kerelaan tuk berkorban
itulah yang kemudian membuat bahagia mengetuk dan minta tuk selalu dimiliki..

dalam jauh dan dekat
kita sama-sama

kalau saya sudah membuat blog baru, akan saya release di sini..
makasih yaaaa…

i love u 😀
sengaja tunggal, biar terasa di setiap hati yang membacanya 🙂
lebih-lebih,
saya cinta INDONESIA!!!!!

salam hangat
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 12 so far )

redup

Posted on Agustus 29, 2008. Filed under: 1 |

(blue..)

saya suka memandang langit
menghitung bintang
bermandikan cahayanya

sampai suatu ketika
saya melihat sebuah bintang
meredup di ujung sana

awan hitam mengelayuti
badai silih ganti menutupi
langit kelam tak mau pergi

semua bintang di langit
pernah digelayuti gelap
pernah pula didera badai, senyap

semua bintang pernah demikian
hingga akhirnya gelap sirna
dan kembali bercahaya, kilap

atau malah sebagian terhilang oleh waktu?

maka untuk bintang yang satu ini
dialah bintang yang masih nyata tuk hari ini
yang saya tatapi malam demi malam ini

seandainya saya bisa membuatnya kembali bercahaya?

bintang itu..

bintang yang masih boleh ada hari ini
adalah bintang yang sederhana
dari seorang yang terpilih
tapi bukan dari mereka yang diwariskan sejarah

dia yang sahaja
bahkan dicela
pedangnya berdarah
dijadikan bahan tertawa

dia yang marjinal
dari mereka yang binal
tapi merubah dunia
dengan prilaku mulia

dia menorehkan sejarah
bukan yang warisan
tapi lembar baru
dan demi lebih utuh

ttg hidup manusia
yang penuh warna
tak ada yang salah
hanya perlu di tata

maka menata adalah wacananya..

saya suka memandang langit
menikmati bintang
bermandikan cahayanya

sampai suatu ketika
saya melihat sebuah bintang
meredup di ujung sana

seandainya saya bisa membuatnya kembali bercahaya?

tuhan,
bawa aku arungi langitmu
untuk menghampiri bintang itu
singkapkan gelap yang mengelayutinya
halaukan semua badai yang menutupinya

hingga terangnya kembali
memendar sampai ke bumi
membuat semua yang merindunya
bahagia kembali oleh cahayanya

dan tuhan..
izinkan aku tetap langitmu
menari dan melompat-lompat kecil
dari satu bintang ke bintangmu yang lainnya

hup.. hup.. hup..

ah, tuhan..
biarkanlah semua yang di bumi bahagia
kembali menari bermandikan cahaya
dari semua bintang-bintang yang boleh ada

untuk semua mereka yang dinamakan nabimu
utusanmu, kekasihmu, walimu bahkan dirimu
aku menyayangi mereka semua
sebagaimana mereka dibacakan untukku
dan sebagaimana mereka menjadi bintang di langitku
izinkan aku memelihara terangnya di hatiku
agar menjadi cahaya yang tak pernah redup
meski awan hitam, badai legam, dan langit kelam

***

seandainya saya bisa membuatnya kembali bercahaya..?
ah, ternyata saya terlalu kecil untuknya yaa..
maafkan saya..

atau semua bintang bisa bersatu dengannya?
mandikan bumi dengan cahaya di atas cahaya?
dan maka cahaya megah itu adalah engkau yang esa?

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

ketika saya belajar agama

Posted on Agustus 28, 2008. Filed under: 1 |

(dibagi yaa..)

ketika baca novel Ayu Utami berjudul Bilangan fu itu, saya merasa seperti melihat diri sendiri. merasa seperti dipetakan.

kenapa?
karena saya tidak mengetahui hal itu sebelumnya. saya beragama ini hanya seperti menjalani saja. mengalir saja. saya masuk islam, lalu merasa jauh panggang dari api, maka saya kritisi. di katolik dulu, saya masih sangat kecil deh tuk berpikir jauh. maka saya lebih banyak menghabiskan pembelajaran saya di agama islam. bahwa kemudian pengalaman katolik saya menjadi counter terutama pada semangat cinta kasih di setiap agama, saya juga ga tahu mengapa ternyata demikian.

saya ya saya apa adanya saja..

lalu membaca tulisan Agama Masa Depan-nya mas Dawam Raharjo, saya juga jadi baru tahu ada hal-hal demikian. hehehe..

selama ini, tepatnya tulisan2 saya disini, hanya lahir dari hati saja.
tanpa analisa ini itu, bahkan kadang hanya menggunakan “logika kebo” saja..
dalam arti, sesederhana yang bisa saya maknai.

saya menjadi tidak tahu harus berkomentar apa terhadap dua kutipan itu, selain saya ya memang sudah begini sajalah..

salahkah saya?
rasanya ini bukan soal benar atau salah
ini soal perjalanan kehidupan itu sendiri
saya sudah berjalan, itu iya
sejauh apa?
saya sendiri baru tahu..

buat semua di sini, semoga tidak bingung yaa
nikmati sajalah hidup ini..

jangan terlalu rumit dengan definisi-definisi itu
karena pada akhirnya
hidup itu lebih enak dijalanin
daripada sekedar di omongin

walau sesekali boleh juga di obrolin dengan santai

mari jalani hidup..
dengan semangat berbuat baik
dan terus membangun kebersamaan yang indah
dan mewujudkan kesejahteraan yang nyata tuk semua
di negeri kita tercinta ini..

saya cuma ingin itu..

seperti jatuh cinta
ehmm, saya hanya akan tahu
jika cinta itu memang sudah pada tempatnya
beribu kata tuk tuliskan cinta
pada akhirnya tak pernah sempurna
sampai saya menjadi cinta itu sendiri
hadir dan nyata bersama rasa cinta saya
bersama sang cinta
selama cinta masih wacana
maka selama itu juga saya belum tahu persis
apa rasa dan nyatanya..

begitulah ketika saya belajar agama
saya menjalaninya
saya melakoninya
saya menjadi bagaimana agama saya
bukan sekedar menjadi apa agama saya

maka masih perlukah saya bilang apa agama saya?
saya mualaf..

btw, tuk kedua kutipan saya itu.. maka mungkin memang demikianlah cara alam menjawab kebutuhannya, dan kembali menyeimbangkan dirinya..
gitu ga sih? 🙂

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

kutipan : Agama Masa Depan

Posted on Agustus 28, 2008. Filed under: 1 |

(ini juga asyik-asyik aja tuk dinikmati..)

Agama Masa Depan
oleh : M. Dawam Rahardjo
koran tempo, 27 des 2007

Dalam bukunya, The End of Faith (2005, 2004), Sam Haris mengungkapkan bahwa sejarah agama-agama, khususnya agama Smith atau agama Ibrahim yang menamakan dirinya agama langit, adalah sejarah konflik, peperangan, dan pertumpahan darah. Tapi, pada abad ke-21, wajah yang sama mewarnai agama-agama lain, misalnya konflik antara penganut agama Hindu dan Buddha, antara Hindu dan Islam, serta antara Buddha dan Islam. Justru itulah gejala kebangkitan agama-agama yang dimaksud oleh John Naisbitt. Bahkan konflik internal antara mazhab Sunni dan Syiah serta antara Sunni dan Ahmadiyah.

Di sini agama bukan lagi merupakan rahmat sebagaimana diklaim oleh semua agama, melainkan telah menjadi bencana, seperti kata Kimley. Sumber pokoknya adalah klaim eksklusif kebenaran iman atau akidah. Memang, berbagai kasus konflik dan peperangan dilatarbelakangi kepentingan ekonomi dan politik, misalnya di Indonesia, kasus konflik Ambon dan Maluku. Dalam kasus itu, agama hanyalah sumber legitimasi yang dimanfaatkan demi kepentingan politik ataupun ekonomi. Tapi mengapa agama begitu mudah dimanfaatkan? Sebab, agama itu mengandung fanatisme dan masing-masing merasa benar serta dibantu Tuhan masing-masing.

Karena itu, konflik agama atau antar penganut agama dan konflik yang melibatkan agama selalu sulit dicarikan penyelesaiannya. Ini sangat kentara dalam kasus konflik Poso. Hal ini terjadi lantaran konflik antar pemeluk agama itu selalu melahirkan dendam, karena terjadinya kekejaman, bahkan ketika konflik kepentingan ekonomi dan politik sudah memperoleh solusi yang adil. Selain itu, perbedaan iman atau keyakinan tersebut sulit dikompromikan, sedangkan pertentangan kepentingan ekonomi dan politik dapat dinegosiasi. Apalagi sekarang sudah dikembangkan teori-teori resolusi konflik dalam penelitian peace-research. Tapi metode tersebut belum bisa diaplikasikan untuk mencari penyelesaian yang damai dan adil dalam konflik agama, karena iman itu tidak bisa dikompromikan. Bahkan dialog antar-iman saja masih belum bisa diterima oleh semua pemeluk agama, karena bagi mereka iman atau akidah itu tidak bisa didialogkan. Itulah masalahnya ketika agama telah menjadi bencana.

Penyelesaian masalah agama yang telah menjadi bencana dewasa ini lebih sulit dan lebih rumit lagi, karena berbagai konflik kepentingan ekonomi serta politik di berbagai belahan dunia itu telah melibatkan agama. Konflik kepentingan ekonomi dan politik tersebut selalu dibarengi dengan konflik antarpemeluk agama. Konflik Irlandia Utara disertai dengan konflik antara penganut Katolik dan Kristen, konflik Kashmir juga merupakan konflik Islam-Hindu. Masalah separatisme Thailand Selatan juga dilatarbelakangi perbedaan agama Buddha dan Islam serta masalah yang sama di Filipina telah membawa konflik Islam-Katolik. Gerakan separatisme Maluku Selatan dilatarbelakangi oleh perbedaan Islam-Kristen, juga masalah gerakan Papua Merdeka. Konflik separatisme Aceh ternyata dapat diselesaikan melalui kompromi, karena tidak melibatkan perbedaan agama, mereka sama-sama muslim. Di lain pihak, persamaan agama bisa tidak menyelesaikan masalah, misalnya dalam kasus separatisme Kurdi, padahal suku Kurdi ataupun bangsa Turki dan Irak sama-sama muslim. Dalam kasus ini, timbul pertanyaan, lalu apa manfaat persaudaraan karena persamaan agama?

Mengapa agama secara potensial merupakan sumber konflik dan bencana sepanjang waktu dan di mana saja? Pertama, agama, terutama agama Smith, menekankan iman atau akidah yang tidak bisa dikompromikan dan tidak bisa didialogkan. Selanjutnya, kedua akidah itu selalu mengklaim kebenaran absolut yang eksklusif. Ketiga, agama terbesar di dunia, Kristen dan Islam, adalah agama dakwah atau evangelis, yang bertujuan memperoleh pengikut yang sebanyak-banyaknya. Keempat, dua agama itu cenderung berprinsip “tujuan menghalalkan cara” (the end justify the means), misalnya dalam kasus bom. Artinya, jika tujuannya itu dinilai benar, cara apa pun telah disucikan oleh tujuan itu, termasuk penggunaan kekerasan, kalau perlu berperang demi mempertahankan akidah. Kelima, dalam mencapai tujuan atau mempertahankan diri, agama pada umumnya meminta bantuan kekuasaan dan negara. Itulah sebabnya, dalam Islamisme diyakini prinsip kesatuan agama dan negara. Dalam kasus formalisasi syariat, negara diperlukan untuk melaksanakan syariat sebagai hukum positif yang sifatnya memaksa.

Karena itu, agar sikap dan pelaku agama tersebut bisa lebih teduh dan ramah, diperlukan pembaruan cara keberagaman baru di masa mendatang. Pertama, agama tidak lagi menitikberatkan iman atau akidah, tapi perilaku atau moral (al-akhlaq al-karimah). Kedua, komunikasi antarpenganut agama tidak perlu disertai dengan klaim eksklusif kebenaran, tapi koeksistensi kebenaran atau kebenaran yang plural. Ketiga, dakwah agama jangan menekankan kuantitas pengikut, melainkan kualitas keberagamaan dan pembinaan komunitas. Keempat, dalam persaingan antaragama, prinsip “tujuan menghalalkan cara” harus ditinggalkan. Tujuan yang benar harus dicapai dengan cara yang benar pula. Kelima, pelaksanaan ajaran agama tidak memerlukan bantuan kekuasaan yang memaksa, dalam hal ini negara.

Jika agama masih ingin memiliki masa depan, perubahan cara keberagamaan di atas perlu dipertimbangkan serius. Jika tidak, ramalan Sam Haris, yaitu berakhirnya iman, perlu diperhatikan secara serius. Tapi, menurut Sam Haris, agama formal yang melembaga sekarang memang tidak memiliki masa depan. Dan jika kita melihat Eropa sekarang, agama formal yang melembaga akan mengalami transformasi besar (great transformation) menjadi seperti yang diramalkan oleh Sapdo Palon Noyo Genggong, yaitu agama budi atau agama moral atau meminjam istilah Hans Kung, seorang pastor Katolik Jerman, etika global (global ethics). Agama seperti itu mengimplikasikan makna agama tanpa iman kepada Tuhan (religion without faith) atau agama tanpa Tuhan (religion without God). Di sini indikator religiositas bukan lagi iman kepada Tuhan atau ketaatan beribadah, melainkan moralitas atau perilaku dalam berkomunikasi dengan sesama manusia dan alam. Orang yang berkawan dengan alam atau hidup ramah dan damai umpamanya dapat disebut religius.

Dalam perspektif filsuf Muslim Jerman, F. Schuon, dan filsuf Syiah, Syed Hossein Nasr, agama masa depan adalah agama perenial. Agama perenial lahir jika agama-agama bertemu pada tingkat esensial atau hakikat. Artinya, syariat tidak lagi merupakan inti agama seperti sekarang ini. Dalam istilah para sufi muslim, terlahir kesatuan agama-agama (wahdatul adyan). Dalam praktek sufi, agama adalah proses transendensi mengatasi agama-agama formal dalam upaya memahami jati diri. Apabila seseorang telah mengenal dirinya, ia akan bertemu dengan Tuhan.

Dalam pengertian agama seperti itu, orang tidak perlu mengklaim kebenaran. Agama juga tidak perlu didakwahkan, apalagi dengan menggunakan pedang. Dengan perkataan lain, agama tidak memerlukan institusi negara karena agama tidak perlu perlindungan dari ancaman. Dalam pertemuan agama-agama itu tidak perlu persaingan, apalagi perjuangan antaragama. Agama-agama telah mengalami perdamaian (darr al-salam). Atau dalam bahasa Kristen, manusia telah memasuki kerajaan Tuhan yang aman dan damai. Dalam pengertian Islam, agama-agama telah terislamkan. Dalam keadaan seperti ini, agama tidak lagi bisa dimanfaatkan atau dimanipulasi untuk kepentingan individu dan kelompok.

Dalam perspektif seperti itu, agama sepertinya akan mengalami transformasi menjadi spiritualisme. Dalam situasi seperti itu, agama memang makin menjadi urusan pribadi. Dalam perspektif Durkhemian, agama menjadi tidak fungsional dalam perkembangan masyarakat. Padahal agama-agama di masa lalu itu selalu berperan dalam perubahan kemasyarakatan dan merupakan tiang penyangga penting dalam civil society, seperti dikatakan oleh Toquivile, sebagaimana ia lihat dalam masyarakat Amerika abad ke-19. Peran ini hanya bisa terjadi melalui agama yang melembaga sebagai bagian dari kebudayaan. Karena itu, dalam masyarakat modern yang sekuler, peranan agama yang melembaga tetap diperlukan. Tapi peranan itu diperlukan jika agama-agama bekerja sama dalam mengembangkan agama publik (public religion), sebagaimana dikembangkan dalam teologi pembebasan (liberation theology). Sebagai kekuatan pembebas dari segala bentuk tirani, itulah peran yang diharapkan oleh masyarakat modern.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 8 so far )

kutipan : tawaran bilangan fu

Posted on Agustus 28, 2008. Filed under: 1 |

Bilangan Fu karya Ayu Utami. saya juga baca novel itu loh. alhamdulillah, ada mas daniel yang kreatif merefleksikannya, sehingga saya tinggal mengutipnya. hehehe.. 😀

saya menyukai novel ini. sebagai seseorang yang pernah melakoni pindah agama, saya merasakan dengan persis, memang hanya kekritisanlah yang lebih dibutuhkan dari apapun agama dan keyakinan itu. tuk kemudian menjadi lebih “bijaksana” dalam membawakan diri di kehidupan nyata. itu yang terpenting.

saya mualaf dan saya sangat menghormati semua agama. lalu saya ingin -secara bersama- membangun kehidupan yang lebih baik tuk alam sekitar dan generasi muda kita. untuk anak-anak saya dan anak-anak kita semua..

tawaran seperti ini tidak hanya ada di novel bilangan fu. banyak dalam beberapa buku sufi di gambarkan tawaran yang sama. hanya uniknya di novel bilangan fu, dia beranjak dari realitas yang nyata di sekitar kita, tepatnya realitas di indonesia. sebagaimana kata persembahan dari ayu utami di novel tersebut…

“untuk indonesia yang dengan sedih aku cinta..”

selamat menikmati..

***

Tawaran Bilangan Fu
[Intisari kreatif dari novel “Bilangan Fu” karya Ayu Utami]
Posted by DANIEL!
http://binajaya.blogspot.com

Monoteisme — bertuhan satu — lahir sebelum konsep bilangan nol ditemukan manusia. Maka barangkali satu itu juga mengandung pengertian dan properti nol. Nol yang berawal dari konsep shunya, ketiadaan, kekosongan, arupa, purna, utuh, tak berbatas, serta kafi. Bilangan satu — atau nol — yang dihayati dengan mentalitas metaforis, tak sekedar matematis.

Namun kesadaran yang diwariskan mengurungnya menjadi sekedar logika. Yang dipelajari seperti memahami ilmu pasti; tanpa perlu hati. Serba matematis; bukan filosofis. Maka kebenaran — dan juga Tuhan — tak lagi menjadi misteri. Ia ditumpahkan ke tanah menjadi kekuasaan dan kecongkakan. Yang membuat penganutnya merasa lebih tinggi derajatnya dari sang liyan. Yang memaksa para pengikut tunduk taat tak menghargai proses pribadi mencari pencerahan. Seperti menancapkan infus ke dalam tubuh-tubuh para pesakitan untuk memaksa metabolisme instan dan seragam. Dunia akan menjadi tampak teratur, namun kering.

Bilangan Fu memberi tawaran. Sebuah agama baru. Agama dengan tata cara beribadah yang sama persis dengan masing-masing agama yang dianut sebelumnya. Hanya ditambah dengan laku baru: laku kritis. Kritis berarti tidak membabi buta. Tapi ia juga sama sekali tidak anti, apalagi membenci. Kritis terhadap ajaran-ajaran lain, mampu melihat nilai-nilai luhur pada agama bumi maupun agama liyan. Kritis terhadap agama diri sendiri untuk mencegah kesombongan dan memonopoli kebenaran.

Laku kritis memberi kesadaran untuk tidak hanya memandang ke langit dan hidup demi akhirat. Karena manusia hari ini – dan kelak anak keturunannya – tinggal di dunia. Maka yang utama adalah memelihara alam lingkungan. Demi kelangsungan hidup bumi. Demi kelangsungan hidup anak-anak generasi nanti. Agama-agama nenek moyang yang meyakini bahwa ada penunggu dalam pepohonan, ada penjaga gaib di gunung-gunung, ada penguasa di dasar samudera, harus mampu dilihat lagi secara kritis, bahwa ada nilai kebijaksanaan untuk berhati-hati mengolah alam. Untuk senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan.

Laku kritis mendakwahkan diri. Namun dengan cara satria dan wigati. Berdialog dengan sopan dan tidak memegahkan diri. Sabar menanggung segala sesuatu. Tidak dengan memaksa dan merusak, seperti cara-cara orang-orang tak beragama yang dikuasai sifat tamak dan sewenang-wenang.

Laku kritis juga menuntut untuk selalu sabar memanggul kebenaran, agar tidak jatuh menjadi ego yang mengalahkan kebaikan. Kritis untuk tidak menanggap kepercayaan orang lain sekedar dongeng dan kemusrikan . Dan sadar bahwa iman diri sendiri juga bisa berarti tak lebih dari tahyul bagi orang lain. Karena kebenaran sejati adalah misteri yang menjadi milik kala depan, bukan kala sekarang. Karena hakikat beragama adalah kebaikan. Maka, kebenaran tak perlu dipaksakan. Ia boleh tertunda esok hari nanti, asalkan kebaikan memenuhi hari ini.

Bilangan Fu menawarkan agama baru. Sanggupkah saya menjadi mualaf?

….

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

every beat of my heart

Posted on Agustus 24, 2008. Filed under: 1 |

( jika ingin tahu lebih dekat ttg saya.. doo.. hehehe 😀
maka saya persembahkan lagu ini.
‘cos dalam bentuk instrumen, lagu ini adalah lagu yang kerap menemani saya ketika menulis dan menulis di sini. terserah mau di maknainya apa, tapi memang begitulah adanya. seperti rasa yang memanggil-manggil dan minta kembali.. tuk diri sendiri, tuk sekitar dan tuk negeri tercinta.. )

***

Every Beat of My Heart
Rod Stewart

Through these misty eyes
I see lonely skies
Lonely road to Babylon

Where’s my family
And my country
Heaven knows where I belong

Pack my bags tonight
Here’s one Jacobite
Who must leave or surely die

Put me on a train
In the pouring rain
Say farewell but don’t say goodbye

Chorus:
Seagull carry me, over land and sea
To my own folk, that’s where I want to be
Every beat of my heart
Tears me further apart
I’m lost and alone in the dark
I’m going home

One more glass of wine
Just for auld lang syne
And the girl I left behind

How I miss her now
In my darkest hour
And the way our arms entwine

Chorus

And we’ll drink a toast
To the blood red rose
Cheer a while the Emerald Isle

And to the northern lights
And the swirling pipes
How they make a grown man cry

ps. cari aja di YT yaa.. hehehe, ngerjain 😛

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

sembunyi

Posted on Agustus 23, 2008. Filed under: 1 |

(isengg lagi, tapi konon katanya demikian…)

seblak-blakannya tuhan
tuhan tidak suka main vulgar
maka dia suka bersembunyi
di sudut-sudut hati

seorang duduk di teras rumah ibadah
berpakaian sederhana dan biasa saja
tak ada yang memperhatikannya
tak ada yang perdulikannya

maka tertawalah sang lelaki yang wajahnya bercahaya
semua yang hadir bertanya-tanya
katanya, seorang yang sederhana itulah tuhan
semua terbelalak
seorang itu sudah pergi kembali mengais rezeki

si miskin mengumpat-umpat
memarahi si kaya yang serakah
datanglah padanya seorang tamu sederhana
membawakan makan dan menemaninya bicara

tertawalah kembali sang lelaki yang wajahnya bercahaya
si miskin bingung dan bertanya-tanya
katanya, itu tadi tuhan yang kaya dan ramah
si miskin terbelalak
tapi tamu itu telah pergi

kita banyak mendengar kisah demikian
apakah gerangan yang diajarkan
dalam kekontrasan rasa dan penampilan
dari semua kisah itu?

bahwa tuhan
meski blak-blakan
tapi tidak suka main vulgar
dia suka sembunyi
di sudut-sudut hati

begitu cerita dari seorang sholeh
membuat saya iseng dan bertanya
kalau begitu, sekarang ini dimana tuhan itu?
saya menyapu semua ruang
dengan mata bertanya-tanya

dia terbahak-bahak
saya terdiam bingung
dia masih tertawa
saya mulai gelisah

ayoo, di mana tuhan saat ini?
kasih tahu dongg..
saya kembali menyapu ruang
dengan mata ingin tahu

dia menunjuk ke dada saya
ih?
saya memperbaiki baju
adakah yang salah?

dia lagi-lagi menunjuk dada saya
hmm..
bikin saya malu
saya diuji atau apa nih?

saya bertanya lagi
minta kata pasti dongg
dimana tuhan itu?
ayooo, yang jelas
pliss pliss pliss..

dia tersenyum
masih dengan senyum
dia berkata perlahan
– tuhan ada di dadamu
disudut-sudut hatimu

lalu dia beranjak dan mau pergi
meninggalkan saya yang melongo
ga ngerti ah

e, dia berbalik
katanya
tuhan pemalu
sangat pemalu
semalu kamu

hah??

saya jadi mengingat-ngingat
kapan dan apa ya yang bisa bikin saya malu?
hmm, hmmm, hmmmm…
tiba-tiba saya tersipu malu
tertunduk menahan senyum

ah, tuhan
kau begitu indah..

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

matahari

Posted on Agustus 23, 2008. Filed under: 1 |

(masih isengg..)

tangan mungil itu
meraihku
memintaku
katanya,
tolong aku..

wajah mungil itu
mengundangku
memanggilku
katanya,
bantu aku..

aku melihatnya
aku merasakannya
mereka memohon
terlalu lama memohon

aku bermimpi
tentang nasi yang basi
hatiku perih
diantara tangis lirih

aku bermimpi
tentang makanan yang kadaluarsa
begitu nyata bahkan persis sama
diantara tangan yang berebut jatah

seorang buta meraihku
– dimana cahaya?
seorang bisu menarikku
– ii aaau aaau aa-aa-aa?
seorang pincang memeluk kakiku
– jangan tinggalkan aku..
seorang berkulit kusam memaksaku
– ajak aku..
seorang wanita muda nan nestapa
– kembalikan hidupku..

tuhannnn….

aku gemetar
tubuhku dingin
berkunang-kunang pandang
terasa pecah kepala

nafasku sesak
melihat wajah-wajah rusak
dalam gelap dan penggap
seolah hancur luluh rantak

aku diajak berlari bolak balik
mencari cahaya
tuk terangi mereka
jadikan semua, jelas

aku diajak berlari bolak balik
mengambil cahaya
tuk sembuhkan mereka
wujudkan semua, pantas

aku diajak berlari bolak-balik
meraih cahaya
tuk bahagiakan mereka
hilangkan derita, tuntas

aku dibalut kain
dikurudungi putih
ditelanjangi kaki
diperjalankan pasti
dibawakan sebentuk api
nyalakan sumbu matahari

tapi mengapa ketika semua terang
aku malah menghilang?
tubuhku gemetar
aku memudar

maka tuhan
jika engkau inginkanku
ambillah aku semaumu
dan beri terangmu pada mereka
aku tak apa-apa
sungguh, aku tak apa-apa
aku sudah bahagia
sudah kutahu bahagiaku
sudah kulihat bahagia itu

***

mampukah kamu
relakan dirimu
menjadi cinta
untuk mereka
yang menderita?

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...