coretan

antara cinta dan setia

Posted on Agustus 30, 2008. Filed under: coretan |

(masih kontemplasi..)

berjalan dan berjalan
berbagi senyum dan cinta
membuat si kecil bahagia

tapi tuhan baiknya
tak terkira dan tak terbayangkan
maka dikirimnya cinta tuk si kecil

betapa tak kuasa kaget
dan bingung si kecil
mendapatkan cinta

yang tiba-tiba memeluknya
yang tiba-tiba merangkumnya
yang tiba-tiba ada

maka hangat menjalar
damai dan haru bergetar
si kecil terpukau nanar

tuhan kau baik sekali
belum kalimat itu usai
bibir si kecil gemetar

sebuah rasa sakit
menusuk di ulu hati
memberi perih

hangat menjalar
itu darah segar
mengalir merembes

masih dalam pelukan cinta
si kecil kesakitan
nafasnya sesak
tubuhnya lemas

dingin hati
hangat darah
jadi satu padu

kesadarannya mulai mengambang
antara terjaga dan tertidur
darah mengalir merembes

tuhan
kenapa cinta menusukku?
kesadarannya mulai hilang

perlahan pandangnya memudar
tapi lihat, di sana tampak indah
kabut tipis menyeruak

akar beringin berjuntai
bak tirai menyingkap alam
daun gugur tanpa angin

air danau tenang
semua tersenyum
tapi tak kenal

lihat, bunga mekar
warna-warni malambai
kupu-kupu dan serangga
riuh rendah

lihat, langitnya biru terang
dalam mata berkabut
terasa terbang ke awan

tapi perihhhhh..
ada yang tertusuk di sini
hangat ini darah

tuhan,
ada apa ini?
mengapa cinta selalu bermata dua?

dia memeluk
dia menusuk
dia kasih, dia juga nyeri

maka apa yang harus ada
diantara pandang indah berkabut
dan nyerih juga perih luka di perut?

maka apa yang harus kulakukan
antara sadar dan tak sadar
antara ada dan tiada?

tuhan,
aku mencari apa yang harus ada
katakan, apa yang harus ada saat aku begini?

pandangku semakin buram
tubuhku melayang
dengan tikaman dalam peluk yang kuat

tuhannn…
maka diantara ada dan tiada
aku hanya bisa percaya

tuhann..
maka diantara cinta dan setia
aku belajar percaya

aku..
sesak..
gelap..

aku..
lemas..

tuhan
peluk

aku
mau
jatuh

aku




suara itu
sayup
jauh
memanggilku

aku


tuhan

aku


sesuatu seperti keluar dari tubuhku
mengguncangku

aku hilang


dalam peluk
aku ringan

antara cinta dan setia : aku percaya

salam
anis

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

setelah cinta

Posted on Agustus 30, 2008. Filed under: coretan |

(hmm..)

ketika sudah cinta
maka apa lagi ya tuhan?
tanya si kecil kebingungan

dengan tangan mungilnya
dan kaki kecilnya
si kecil kesana kemari
membawa cinta

mencinta
cinta
cinta

lalu badai datang
tubuhnya menggigil
bibirnya beku

lalu kemarau panjang
tubuhnya kering
bibirnya pecah-pecah

lalu hujan deras
tubuhnya basah
bibirnya merah

lalu bahkan pagi direngut
gelap dipertahankan
bibirnya gemetar

si kecil sendirian
dengan rasa cinta
dan tetap cinta

maka si kecil berkata pada tuhan
aku tahu, tuhan
setelah cinta
aku belajar setia

meski badai
kemarau
hujan
bahkan pagi yang direngut

aku yang cinta
akan selalu
dan selalu setia

begitukan tuhan?

maka si kecil tersenyum
merasa kehangatan
rasa cintanya yang pertama
semakin dewasa

pernah sih datang ragu
tentang cinta yang di sia-sia
mengapa tak pergi saja?

tapi setia menjaganya
tetap di sana
dan tetap cinta

maka si kecil berbisik
bunda, lihatlah aku
ayah, ingatlah aku

dengan cinta aku belajar setia
dan dengan setia aku menjaga cinta
karena cinta itu cinta yang pertama

terdengar sayup suara
jika ada cinta yang kedua
bagaimana?

si kecil terbelalak
cinta kedua?
maksudnya?

tuhan tertawa
si kecil menatap terpana
dan ingin bertanya

tuhan, kalau setia
mengapa kau cipta
cinta yang kedua?

maka si kecil berlalu
tak mau banyak tahu
yang malah bikin ragu

berjalan ia di pinggir jalan
di bawah pohon rindang
menghitung jumlah

kalau aku cinta
maka pertama
kedua
ketiga
keempat
sejuta
se dunia
aku tetap cinta
utuh
satu

begitukan tuhan?

dan kalau aku setia
maka pertama
kedua
ketiga
keempat
sejuta
se dunia
aku tetap setia
utuh
satu

ya kan tuhan?

karena aku sudah tahu cinta
dan tahu dengannya ada setia
maka biar waktu memberi urutannya
aku tetap cinta dan setia

kalau saja waktu bisa tak memisahkan
kalau saja waktu bisa menyatukan semua
tentu aku tetap cinta dan setia
bahkan selalu cinta dan setia

***

si kecil duduk di bawah pohon
menatap matahari yang mengintip
di sela-sela dedaunan
membuatnya merasa perlahan

setelah cinta
aku belajar setia

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

cinta yang pertama

Posted on Agustus 29, 2008. Filed under: coretan |

(hmm..)

si kecil diajari
tuk mencintai semua
seperti mencinta dirinya sendiri

bahkan si kecil diajari
tuk mencintai musuhnya
sebagaimana mencinta dirinya sendiri

si kecil terpana
oleh kata cinta yang pertama
dihadirkan di telinganya

maka suatu hari
si kecil menatap manusia
ada yang nestapa dan ada yang amarah

bahkan tak di sangka
si nestapa ingin menyentuhnya
si pemarah ingin memukulnya

maka berlarilah si kecil
kepada ibunda
dan bercerita

bunda, aku mencintai si nestapa
bunda terdiam..

maka berlari lagi si kecil
kepada ayahanda
dan bercerita

ayah, aku mencintai si pemarah
ayah terdiam

maka berlari si kecil
ke rumah tuhan
dan bercerita

tuhan, aku menemui si nestapa
aku juga menjumpai si pemarah
aku mencintai mereka

tuhan terdiam
si kecil mendekati tuhan perlahan
bisiknya : seperti mencintai diriku sendiri..

bolehkan tuhan?

tuhan masih diam
maka si kecil kembali berbisik
bukankah kau bilang aku harus mencintai mereka
sebagaimana aku mencintai diriku sendiri?

tuhan bahkan diam
ketika ibunda marah
dan ayah nestapa

membuat si kecil berteriak
aku tetap mencintai ayah dan bunda!
tapi tuhan masih diam

maka si kecil termangu
berkata lirih pada tuhan
tuhan, engkau tidak konsisten!

bukankah itu adalah cinta yang pertama
yang kau bisikan di telingaku
dan yang kau tanamkan di hatiku?

si kecil ganti terdiam
melihat tingkah laku tuhan
tentang alam dan sekitar

si kecil masih terdiam
melihat tingkah laku tuhan
tentang manusia yang beragam

si kecil akhirnya berkata
tentang cintanya yang pertama
yang menoreh luka dan berdarah

akan mencintai semua
seperti mencintai dirinya sendiri
bak cinta bertepuk sebelah tangan

pasti tuhan salah mengajarkan cinta
si kecil mulai marah dan cembetut
tapi lagi-lagi nyatanya hanya itu
cinta di hatinya

yang mencintai semua seperti mencintai dirinya sendiri
karena dialah cintai itu

cinta yang pertama

***

stt… si kecil terlewat
ketika tuhan tersenyum
memandang dari kejauhan
ketika tangan mungilnya
menghapus luka mereka yang nestapa
dan membuat tertawa mereka yang pemarah

dengan cintanya yang pertama

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

suka

Posted on Agustus 27, 2008. Filed under: coretan |

(ehmm..)

alkisah saya suka
tanpa tahu mengapa
rasanya ya suka saja
membuat saya menikmatinya

lah, siapa sangka
suka itu berbahaya
membuat yang disuka
enggan ada

kok gitu yaa?

saya hanya suka
tanpa tahu mengapa
pokoknya suka
dan ya itu saja

tapi jika itu berbahaya
terutama bagi yang disuka
ya sudahlah
saya ga jadi sukanya

hehehe..

suka tanpa banyak alasan
memang gampang-gampang susah
saya juga tak bisa bilang tidak suka
karena memang yang ada adalah suka

suka tanpa banyak alasan
memang mungkin berbahaya
karena bisa tiba-tiba
menjadi seperti tidak pada tempatnya

apa boleh buat??

haruskah saya bohong?
bilang tidak suka lagi
mungkin ini bohong yang diizinkan
karena demi banyak kebaikan

maka saya ingin terakhir bilang suka
pada sesuatu yang memang saya suka
demi tetap menjaga dan bahagia
demi tetap ada dan biasa-biasa saja

kalau baca di banyak katanya
itulah yang namanya pengagum rahasia
halahh.. kok jadi gitu yaa?
kenapa jadi susah kalau suka?

bingungg..

tapi saya rela
suka itu kan bukan kata
suka itu adalah rasa
suka itu ya suka saja

dan jika harus tak ada kata suka
saya juga tak apa-apa
tapi rasanya sudah ada
itu saya sadarinya

saya suka
pada sesuatu yang sederhana
yang juga dinikmati banyak pemirsa
saya hanya satu diantaranya

saya bukan apa-apa
tapi saya suka itu iya
dan saya tak lagi suka
juga tak apa-apa

demi rasa suka itu sendiri
saya akan sembunyi
terhitung hari ini
saya simpan rasa suka ini

hmm, sebetulnya saya suka apa sih??
hihihi, bingung sendiri..
😀

salamsukasuka
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

“isolasi”

Posted on Agustus 27, 2008. Filed under: coretan |

(dari diskusi dengan seorang teteh..)

masih soal homo nih..
tadi ga sengaja pembicaraan saya dan seorang teman saya mengalir ke masalah homo. mengingatkan akan tulisan saya sendiri di sini, ttg saudara-saudara kita yang demikian.

teman saya bercerita ttg temannya yang bercerai karena ternyata suaminya homo. mereka sudah punya anak. tapi sang suami akhirnya menyerah dan mengakui kesulitan dirinya terkait kenyataan homo itu. walhasil, cerai adalah yang terbaik dan saat ini mantan suaminya memilih tuk tinggal di luar negeri. konon pula, mantan suaminya rajin mengirimi uang dan memantau perkembangan anaknya di tangan temannya itu. hanya temannya belum menikah lagi. agak trauma juga dengan kenyataan itu.

satu lagi, temannya malah digantung oleh suaminya yang juga ternyata homo. maaf ya, dia hanya digauli sekali dalam hampir 5 tahun pernikahannya. hanya di saat pertama dan setelah itu tidak pernah disentuh sama sekali. saat ini belum bercerai. keduanya masih belum bisa rela menerima kenyataan itu. temannya ingin suaminya sembuh, sementara suaminya lebih memikirkan perasaan orangtua dan sekitar dsbnya, kalau tahu ternyata dia homo. setelah mencoba berprilaku normal, suaminya malah merasa jijik pada istrinya. kadang malah bersikap penuh penolakan, kasar dan ga masuk akal deh. sensitif. dan istrinya….. bisa sabar sekali menghadapi itu. walau tentu, masih belum membuahkan hasil hingga saat ini. dalam arti, sang suami tetap tidak bisa menyentuhnya.

hmm, kenapa kompleks gitu yaa..? di satu sisi kasian, di lain sisi bingung.

masih dari cerita teman saya nih..
dia bilang sepertinya ada peran cewek dan peran cowok di kaum sejenis ini. yang cowok di satu sisi masih bisa jadi cowok. dalam arti bisa menggauli istri (meski wanita sekalipun) dan bisa memutuskan tuk bercerai dsbnya. sementara yang berperan sebagai cewek, ya jadi sama saja dengan kita yang cewek-cewek normal. lebih feminim, relatif tidak agresif dsbnya. maka tuk kasus yang satu lagi, dia tidak berinisiatif menggauli istrinya karena di lebih feminim. bahkan juga tidak bisa menceraikan, karena perasaannya terlalu peka dan banyak pertimbangan. khas cewek gitu deh.

hehehe, padahal kita-kita yang asli cewek bisa kok yang duluan inisiatif ke suami tuk soal gituan.. ya ga? 😛

soal peran, saya jadi inget. pernah suatu ketika di warung sayur langganan, saya bertemu pasangan lelaki aneh. dulu, saya ga kepikir soal beginian. jadi saya ga sadari. hanya mas marno, sang penjual warung yang becanda dengan mereka, yang membuat saya sadari apa yang terjadi. mas marno itu bertanya gini kepada pasangan itu..
– masak apa nih om?
– ah engga, biasa saja kok.
lelaki yang menjawab ini lebih terlihat feminim
– wah, lagi wiken masak yang enak donggg..
mas marno juga ikutan centil lagi.. 😛
– cuma kesukaannya saja.
lelaki feminim itu menunjuk ke pasangannya yang terlihat lebih macho. lelaki macho itupun menjawab
– biasa saja mas. yang gampang2 saja.
datar, ga feminim. tapi terasa pengertian gitu.
haduhhh.. speech less deh..
ketika pasangan itu sudah berlalu, jelas saya memandang minta penjelasan pada mas marno. dia malah terbahak-bahak melihat saya yang kebingungan. jawabnya..
– biasa bu. namanya hidup..
masih terbahak-bahak.
– serius mas. itu…..??
– itu apa??
– itu… itu, mas?
aah, saya ga bisa berkata-kata waktu itu.
– sudah lama kok mereka di sini, ga papa bu.. ga ganggu. tenanggg… ga selera deh mereka lihat bu anis, beda kalau saya yang lihat.. hahaha..
dasar mas marno..😀
ya udah deh, waktu itu saya cuma bisa menahan geli melihat mas marno. selebihnya saya sadari kalau memang ada pembagian peran di sana..

hmm, hidup..
saya seperti kecil deh dalam hidup ini… 😀

teman saya itu juga sekedar buang sampah ke saya, dia pusing tapi empati. ingin membantu teman-temannya tapi bagaimana?? maka saya ceritakan tulisan saya itu kepada teman saya. teman saya ini bukan blogger, jadi ga pernah buka blog saya. belum dapat pencerahan. dibaca: belum tahu enaknya ngeblog. hihihi.. 😀

hmm, jadilah kami berdiskusi.
temannya yang pertama, tidak mengetahui persis kenapa suaminya homo. sementara yang satu lagi pernah diceritakan oleh suaminya kalau suaminya itu -maaf- pernah disodomi oleh kerabatnya sendiri ketika kecil. berlangsung cukup lama. ini juga yang membuatnya bersikeras mempertahankan rt mereka, karena sadar suaminya demikian bukan karena “bawaan”. yang menyesakkan dada, meski bukan bawaan, suaminya pernah mengakui ketertarikan pada sesama jenis. artinya suaminya sendiri, sudah terbiasa demikian. malah sempat “jatuh cinta” pada “seorang” yang terasa lebih memahami dirinya.

halahhh…

maka izinkan saya menyampaikan maksud saya menuliskan itu lebih jelas disini yaaa.
ibarat penyakit, ini sudah akut. ibarat tubuh yang sudah salah setting, ya sulit untuk setting ulang. karena ini manusia, bukan mesin. dia sudah butuh yang demikian. memaksakan menikah normal dengan wanita, mereka gagal toh?? maka ini serius berat tuk mereka maupun tuk pasangannya yang normal.

sehingga daripada ini terus menerus dibendung, ya salurkanlah pada tempatnya. semoga dengan bisa disalurkan pada tempatnya, mereka tidak melakukan pelecehan sexual pada anak-anak yang normal dan menyebabkan penyakit ini menular. sebagaimana suami teman yang satu itu.

maaf ya buat saudara-saudara saya yang demikian, bukan bermaksud menyebut ini sebagai “penyakit”. ini hanya karena saya ga punya kata yang tepat.. maaph, pliss 🙂

saya pikir, berlaku hukum sebab akibatlah. kalau kita beri keadilan maka keadilan akan tegak juga tuk kita. kalau kita beri solusi tuk ini, semoga kondisi ini bisa minimal ter”isolasi” secara positif dan tidak menjadi penyakit sosial yang meluas dan tidak terkendali.

di beberapa yang demikian, memang memilih hidup selibat. dalam arti, bisa mengatasi kebutuhan tubuhnya dengan caranya sendiri. sebagian lagi memilih berpasangan dengan sesama jenis. dan semoga sebagaimana kita, berpasangan inipun bisa saling mengukuhkan mereka dan penuh kesetiaan.

dan sadari tidak, kalau alam memang akan mengatur keseimbangannya sendiri.
jika kaum homo menikah dengan sesamanya atau selibat, ya maka jumlah ini akan terkendali dan tidak banyak. alam tahu bagaimana mempertahankan “kondisi ideal”nya — dengan sendirinya.

dan bukankah dimana-mana, memang manusialah yang suka merusak keseimbangan alam, baik atas nama kebodohan, nafsu dan mengatasnamakan tuhan?

teman saya bisa menyetujui pendapat saya. karena akhirnya kita harus mengakui, kalau kita -semua manusia ini- berasal hanya dari bapak bernama adam dan ibu bernama hawa. lalu berkembang biak dengan banyaknya, hingga tidak mustahil di keturunan tertentu terdapat “sifat” bawaan yang “tidak sebagaimana mestinya” yang kemudian menguat (ini menurut kerangka kita loh). sebagaimana yang sering dikhawatirkan dari bahaya incest itu. karena kalaupun itu masalah kejiwaan, teman saya juga mengakui kalau hal kejiwaan itu juga ada yang diturunkan, baik genetis maupun imitasi prilaku.

hehehe… entahlah, saya juga tidak tahu persis harus bagaimana..

di satu sisi, agama bersikeras manusia terlahir fitroh, suci dan akan bisa kembali suci. walau tentu suci seperti apa sih definisi itu? tapi di lain sisi, sangat nyata hal ini ada di sekitar kita dan menjalar dengan kecepatan tak terkirakan saat ini. bahkan ditambah dengan persoalan kemiskinan dan keterbelakangan, sudah kompleks dan menelan korban sebagaimana kasus ryan itu.

saya hanya sadari kita harus membantu mencarikan jalan keluar tuk masalah ini. baik tuk kita sendiri maupun -jelas- tuk mereka, dan terlebih tuk keseimbangan kehidupan di masa yang akan datang.. generasi yang akan datang.

ini cuma pelepasan saja yaa..
selebihnya biarlah alam yang menentukan jalannya.

sebagai manusia biasa, saya respek dan menghormati, jika saudara-saudara kita itu bisa menemukan kehidupan yang sehat lahir batin untuk mereka. dan kemudian menjadi bahagia, berkarya yang baik, saling menjaga kehidupan sosial bersama kita. menjaga anak-anak kita dan membangun masa depan yang baik tuk kita semua.

soal tindak kriminal sebagaimana ryan itu, saya rasa itu bisa menyerang siapa saja. bukan hanya persoalan sesama jenis.

adilkah tuhan tuk pesoalan ini?
adil jika kita mampu menegakkan keadilan itu bersama-sama.
karena jika mereka bisa menjalankan dan menikmati hidup dengan baik lalu banyak berbuat baik, saya rasa dan percaya, bahwa tuhan tidak pernah membedakan bagaimanapun manusia itu selain atas ketakwaannya saja.
ini menurut saya… 😀

ps. tuk hal yang bahkan lebih parah. seorang gila ditinggalkan keluarganya di seorang kyai di gunung sana. istri kyai bilang pada saya,
– kita tidak bisa membuatnya kembali seperti kita lagi nis. tapi kita ajar kendalikan emosinya, bahagiakan dirinya dan penuhi kebutuhannya. kita menjaganya.

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

keadilan tuhan

Posted on Agustus 26, 2008. Filed under: coretan, Indonesiana |

(menulis yang bukan kapasitas memang susah yaa… nulis yang lain aja deh)

bicara keadilan, ini memang relatif yaa.
sekalipun itu bernama keadilan tuhan.

mengapa?
karena kita belum sepenuhnya memahami tuhan.
bahkan belum sepenuhnya menjadi tuhan itu sendiri.. 😛

ambil contoh saja, saya yang terlahir sebagai cina di indonesia.
sebuah negara yang pernah sangat mendiskriminasi ras cina. apapun alasannya.
maka, apakah itu adil buat saya?
ataukah itu keadilan tuhan untuk saya?
tentu lebih enak jika saya terlahir jadi asli indonesia, ya kan? atau jadi cina di negeri yang memang cina. menjadi sama seperti negro atau kulit hitam yang terlahir di amerika, sebelum masalah kulit hitam itu lebih terbuka di sana, dst-dstnya… bahkan sampai sama seperti kaum homo yang telahir di dunia hetero..

halahh, kesana deui.
hihihi 😀

hmm… saya jadi berpikir panjang nih.
maka apa sih keadilan tuhan itu?
buat saya, tuhan selalu benar dan selalu adil.
yang jadi masalah adalah.. apakah kita sebagai manusia bisa adil atau tidak? “kerangka” kita ini yang mampu adil atau tidak?

apalagi kalau kita meyakini manusia adalah wujud tuhan di muka bumi, maka keadilan itu ya ada ditangan manusia yang dihatinya ada tuhan. hehehe 😀

saya salut dengan amerika yang bisa menyelesaikan politik kulit hitamnya saat ini. salut dengan terwacanakannya obama. ini sebuah kemajuan dari bentuk keadilan di amerika.

maka, sadari atau tidak, keadilan itu tidak datang dari langit. dia hadir dari kita yang manusia ini.

termasuk tuk persoalan homo.
keadilannya tidak bisa diliat dari langit.
justru kitalah yang harus bisa memberi keadilan bagi mereka.

samalah, dengan terwacanakannya kembali kwik kian gie, hermawan kertajaya dstnya sebagai cina indonesia tuk turut berkarya optimal di kehidupan kita bersama. termasuk dengan diterimanya saya di sini.
inilah bentuk2 “keadilan tuhan” yang seolah “turun dari langit”. yang perlahan membumi.. karena keadilan datang dari semua kita, manusia di indonesia.

saya berterimakasih sekali loh..
sie-sie kalau kata bang manurung, mauliate kalau kata saya, hehehe
😀

itulah keadilan tuhan sesungguhnya.. menurut saya.
yakni ketika manusia mewujudkan keadilan itu secara bersama di kehidupan bersama kita.
maka atas nama keadilan,
lahirlah kesejahteraan..
dan karenanya lahir pula kejayaan.

sederhanakan?

maaf ya, saya mungkin sudah down to earth, hehehe maksa :P.
saya sudah nyata-nyata saja. tidak lagi menaruh mimpi di langit tapi ingin membangun surga nyata di bumi. maka maaf, kalau cara berpikir saya jadi berbeda yaa. hehehe..

tapi saya terbuka kok.
bisa jadi saya salah. maafkan ya. mungkin saya terlalu letih beragama dengan beragan-angan.
maka saya lebih terdorong tuk menyelesaikan masalah secara nyata, bahkan dengan logika sesederhana mungkin agar bisa nyata di bumi.

sudahlah..
keadilan itu bukan seperti bintang dari langit
keadilan itu harus nyata mengejawantah di bumi
keadilan itu bukan hanya di angan-angan dan pikiran
keadilan itu harus dirasa dan dinikmati bersama

semoga kita bisa mewujudkan keadilan tuhan di muka bumi
karena kitalah wujud tuhan dalam kehidupan
rasa ketuhanan kita yang esalah, tuhan itu…

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

dis-orientasi

Posted on Agustus 26, 2008. Filed under: coretan |

(e, mau iseng mikir nih.. kalau salah, tolong dikoreksi yaa..)

berkaca dari banyak kasus disorientasi sexual di sekitar kita, saya jadi mikir nih.
sebelumnya terimakasih tuk seorang teman yang sangat inspiratif. saya tidak bisa menyebut namanya, khawatir dia ge-er sehingga rontoklah semua amal baiknya pada saya. hihihi, maksa 😀

sederhananya, sebelum adanya agama-agama besar ini, manusia sudah memiliki kealamiannya dalam hidup. sebut saja, adalah manusia itu merupakan ruh yang ditiupkan pada jasad dan wadah bernama jasad ini memiliki instrumennya tersendiri. dalam bahasa agama, disebut memiliki nafsu dan syahwat tuk kelanjutan/keberlangsungan wadah/jasad itu sendiri. komplektisitas jasad ini sampai diperumpamakan sebagai dari tanah. tanah itukan bisa subur, bisa tidak. ada yang gembur, ada yang keras. bisa tumbuh, bisa hancur dstnya.

seperti tuk tumbuh kembang, jasad butuh asupan. maka dia merasa lapar dan kemudian dia makan. selanjutnya, makanan ada yang diserap ada pula yang harus dikeluarkan karena tidak bermanfaat. maka dia merasa mules lalu membuang kotoran. sehingga jasad manusia ini dikatakan memiliki instrumen yang luar biasa.

demikianpun tuk berbiak. maka manusia membutuhkan pasangan, lalu merasa terangsang dan dengan alami bisa melakukan hubungan sexual. selanjutnya dia hamil, lalu melahirkan. dengan hadirnya keturunan membuat manusia belajar bertanggungjawab. ada rasa “inilah anakku”. maka manusia kemudian menjalankan peran bapak dan ibu. dari tanggungjawab itu pula, seperti memberi makan anak dan istri, manusia belajar “setia”. disini, kecenderungan manusia tuk berpoligami berhadapan dengan rasa keadilan dalam tanggungjawab. bahkan sebagian melarang perceraian demi tanggungjawab ini.

total general, dari semua itulah kemudian kita mengenal apa yang dinamakan “konsep pernikahan”

oya, di sini pula, pernikahan terasa membahagiakan, maka ada yang namanya “resepsi pernikahan” itu. manusia merayakan rasa bahagianya. dan karenanya manusia juga belajar mensimbolkan pernikahan menjadi suatu yang sakral dan agung. dst-dstnya

semua itu natural.. alami-alami aja.

kemudian, manusia ini juga memiliki beberapa “penyimpangan” – ini dalam kerangka kita loh, karena mayoritas yang “normal” adalah yang seperti kita.
padahal, manusia itu diciptakan banyak dan beragam. ada yang kerdil, ada yang raksasa, ada yang macam-macam… sampai… ada yang homo. kelompok ini, jumlahnya sedikit atau sebut saja ini kelompok “minor”.

seperti waktu kita belajar biologi di sma, ttg gen itu loh. sederhananya, kelompok “minor” ini adalah kelompok gen “resesif” itu deh. ga banyak tapi ada.

perhatikan contoh tuk kelompok manusia berukuran kerdil. pada saat mereka menikah dan berketurunan. ada kemungkinan gennya (kembali) melahirkan yang normal seperti kita. ya kan?artinya ini ya kewajaran hidup, tidak harus dikucilkan.

tapi tuk kelompok homo, jelas ini tidak bisa berketurunan. maka jumlah ini ya dikiiittttt atau bahkan cenderung musnah deh.

sehingga, tudingan salah pola asuh itu hanya “trigger”.. pemicu dari sesuatu yang memang sudah ada dari bawaannya. artinya, kelompok resesif ini (bisa) ada di setiap keturunan, jika memang sudah sampai pada kemungkinan gen resesifnya menguat.

sekali lagi, ini natural.

simple toh? hihihi, ini pake kesederhanaan logika saya aja.. maaf ya kalau salah.

kemudian, perlakuan terhadap kelompok resesif ini tidak bisa menggunakan kerangka mayoritas kita itu. sulit. mereka punya kebutuhan tersendiri, sebagaimana kita aja. secara pararel : kita dan mereka itu eksis dengan ciri khas masing-masing.

nahhhhhh…
hadirnya agama-agama tuh, ketika yang natural ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. tepatnya ketika peradaban yang tinggi menguasai yang lemah. dan tepatnya ketika manusia berlebih-lebihan dengan instrumen jasadinya itu alias terlalu bernafsu, “mentuhankan” nafsu dan bahkan manusia menjadi tuhan tuk manusia yang lainnya.

agama dititipkan lewat manusia yang tercerahkan/terpilih/utusan yang dinamakan nabi itu. tuk memberi petunjuk pada segala penyimpangan saat itu dan tuk menginspirasi buat generasi kedepannya, agar ga melawan kealamian alias fitroh hidup tea. sederhananya, ga untuk mengulang kesalahan yang sama.

dalam islam, manusia diberi visi dan misi, menjadi khalifah dan mewujudkan rahmatan lil alamin. maka buat saya, konteksnya ya untuk mengembalikan semua itu kepada naturenya. sehingga dalam menghadapi persoalan dis orientasi dari gen resesif ini ya harusnya islam juga bisa bersikap “bijaksana”.

terhadap hadist : menikah adalah sunnahku, … tuk berketurunan, kemudian disebut jika tidak demikian bukanlah termasuk golonganku..
plis deh, jangan dikit2 itu diartikan bukan golongan itu adalah bukan kelompok islam.
dalam konteks agama fitroh (dalam pengertian fitroh yang selama ini terbangun), maka semua itu –termasuk kelompok minor tersebut– ya fitroh.
maka saya melihat, yang dimaksud “bukan golonganku” itu ya bukan kelompok heterosexual dan bukan kelompok gen sebagaimana Muhammad yang normal seperti kita. kemudian nikah menjadi sunnah, karena akhirnya tuk kelompok tertentu itu tidak bisa diwajibkan menikah dalam kerangka kita yang hetero ini.

memaksakan kelompok homo ini menikah “normal” seperti kita, memungkinkan mereka berketurunan. di satu sisi, secara gen memang memiliki kemungkinan kembali menjadi “normal”, tapi di lain sisi, persoalan prilakulah yang berkembang. lewat imitasi dari dan pada keturunannya.
bahkan kemudian banyak persoalan prilaku ini lebih menjadi gejala “pemberontakan” tuk eksistensi mereka, akibat dari pemaksaaan kerangka itu tadi. membuat mereka melakukan banyak penyelewengan, seperti malah mensodomi yang normal dsbnya dan menjadikan ke”resesif”an mereka sebagai life style.
nah, ini yang salah.. ini bablas, ga lagi fitroh.
inilah yang dilaknat di kaum nabi luth tea.. – menurut saya loh-

logika saya gini..
kalau tuhan menciptakan semua “normal” -sesuai kerangka kita- ya seharusnya tuhan tidak mengilhami penyimpangan berupa prilaku homo. tapi karena tuhan tidak mencipta sesuai kerangka kita saja, maka kalau ada “penyimpangan” berupa prilaku homo, sesunggguhnya itu bukan “penyimpangan”. itu hanya kondisi dimana seperti gen resesif yang menguat.
ini tentang keadilan tuhan yaa.
sehingga ketika prilaku menyimpang ini dijadikan life style, artinya yang “normal” ikut-ikutan menjadi seperti demikian atau mencoba-coba dan keenakan, jelas ini salah. ini menjadi sesuatu yang sengaja disimpangkan.

ini yang harus diluruskan, ini sudah bukan semata soal keberadaan kaum homo itu sendiri..

kembali ke visi misi manusia dalam islam.
maka dalam terminologi sufidoo-fidoo, dikatakan tingkat tertinggi sufi tuh adalah yang bisa menempatkan segala sesuatu sesuai tempatnya dan memenuhi segala sesuatu sesuai haknya.

ga dikatakan tingkat tertinggi itu yang banyak ibadah mahdohnya loh, hehehe (becanda) 😀
di sini kita juga melihat kalau berislam atau beragama itu bisa berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan deh. ga melulu melawan sunatullah atau kenyataan, cieee..

ini menurut saya loh, dari iseng-iseng berpikir.
saya hanya berharap, jika kita tahu makna penciptaan, visi dan misi, lalu kita mengenal dengan baik siapa diri kita dan kapasitas kita, maka semoga kita bisa mengisi kehidupan kita sesuai jalan yang diamanahkan pada kita. dan sebesar-besarnya diarahkan tuk menjadikan kebaikan nyata dalam hidup ini.

bukan melulu malah memperumit keadaan.
benang hidup yang tengah kusut ini, harus mau kita urai satu demi satu. saya tidak berharap kita main potong kompas, meminta tuhan memusnahkan suatu kaum.
halahhh.. udah ga zamannya kali yaa. 🙂

justru tantangan kita di zaman sekarang adalah bagaimana kita bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama, persahabatan, kekeluargaan dan penuh semangat saling membantu demi kebaikan kehidupan kita bersama pula.

selebihnya, pesoalan hidup kita ga melulu pada persoalan ini.

gitu deh. salah ga saya berpikir gini?
makasih tuk dikoreksinya yaa..
saya tunggu nih, dengan harap-harap cemas..
hihihi, kaya nunggu siapa aja yaa..?? 😀

ini hanya lahir dari sebuah keprihatinan jika kita merasa jenuh dan merasa tak pernah bisa menyelesaikan banyak permasalahan di sekitar kita,yang kemudian membuat kita apatis pada hidup ini. jangan gitu donggg, mari kita coba. break the limit kalau kata mbak darnia mah.. 😀

dan muara semua persoalan kehidupan ini adalah cinta. ini sangat menonjol di nabi isa. ttg mampukah kita mencintai mereka sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri?. kalau kita mampu, tentu kita bisa mencari banyak jawaban tuk persoalan saat ini. karena dengan empatilah kita bisa bersama siapa saja..

salam merdeka
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 9 so far )

ketika jiwa mencari belahannya

Posted on Agustus 25, 2008. Filed under: coretan |

(cerita yaa..)

saya habis mendengarkan curhat seorang teman nih…
bukan sesuatu yang penting, karena teman saya ini cerdasnya luarbiasa. dia hanya ingin mengutarakan kegelisahan yang lama dan berkali-kali bak turbulensi dalam jiwanya.

dia memilih saya. karena katanya, bicara dengan saya seperti bicara dengan mahasiswa. hah?? ga salah? hehehe, tepatnya karena saya ga lebih pinter dari dia deh.. 😛
selebihnya karena saya nih ya masih begini aja. yang menurutnya saya tetap aja ga dewasa-dewasa juga kaya ibu-ibu pada umumnya. saya masih aja bebas berbicara, sebagaimana biasanya, sebagaimana dia mengenal saya. tapi dia justru nyaman dengan saya.

hmm, emang saya harus berubah bagaimana yaa? saya ya begini-begini saja.. 😀

ehmm, rahasia kalau diceritakan ttgnya. tapi saya menemukan sesuatu dari curhat tadi. bahwa jika hidup hanya tuk diseimbangkan, mengapa kita terus menerus ribut karenanya?

saya yang (masih) belajar bertapa ini ( dibaca: belajar dewasa ), hanya bisa mentakjubi tuhan. semua derita dan kenestapaan jiwa, tak lain dan tak bukan, hanya seperti membuka satu demi satu pintu misteri kehidupan. tuk kemudian kita melihat dengan lengkap, perjalanan kita di dunia ini.. dalam mata yang fana, maupun dalam makna yang dalam..

maka kemudian saya mengerti, mengapa banyak hal tersimbolkan dalam peribadatan di semua agama. bahkan tersimbolkan pada banyak kata-kata kebijaksanaan tentang hidup di bumi. lagi-lagi tak lain tak bukan, untuk hidup yang terus menerus berusaha menerangkan misterinya. pada substansi dia sama, tapi dalam fana dia berbeda-beda.

sebut saja tuk teman saya itu,
dia menjadi bak hawa merindukan kesejatian adam. tentang jabal rahmah (monumen pertemuan adam dan hawa) yang nyata dan tuk ditemukan bersama. sehingga menangislah hawa merindukan sang adam, sebagaimana mungkin adam juga menangis mencari sang hawa. menjadi seperti deru yang selalu mengalun dan tiada henti sampai pertemuan tercapai.

maka dimanakah jabal rahmah yang jiwa dan bukan yang sekedar batu di tanah arab itu?

..biarlah dia tertunda sampai tiba saatnya, tapi kebaikan kita tuk semua nyata hari ini..

saya mengerti teman saya itu gelisah, marah, dan merana. saya juga tahu teman saya itu menangis, sedih dan perih. karena saya juga pernah. tapi saya hari ini, sudah bertekad tuk menjalaninya dengan kebaikan dan hanya dengan kebaikan saja.

sebut saja, jika saya ini kaya dalam jiwa, maka biarlah saya menjadi dermawan pada sekitar saya. membahagiakan semua yang saya bisa. atau sebut saja, jika saya ini miskin dalam jiwa, maka biarlah saya bekerja lebih keras lagi tuk perbaiki diri saya.

saya ingin menyeka air mata yang ingin jatuh dari mata sang adam. saya juga ingin menyeka air mata yang berlinang dari mata basah sang hawa.

dan luka?
jangan terus tutupi luka dengan perban. biarlah terbuka dan terkena udara. agar luka kering dan sembuh dengan sendirinya. di perban hanya akan membuat luka senantiasa basah dan perlahan membusuk ke dalam.

sudahlah..
biarlah luka itu sembuh..
dan udara segar keringkan airmata
mari hadirkan kebaikan yang nyata
membangun semua
bersama dia
yang masih boleh ada

teman saya itu tertawa
saya bahagia melihatnya
oya, saya mengajaknya les dansa
sebagai wanita yang pernah begitu keletihan jiwanya
tentu dia butuh kebugaran dan kembali cantik dengannya

dan saya?
ah, tuhan..
kalau aku tercipta darimu
tentu kaulah belahanku
dan jika kau kekasihku
dimanapun kau titipkan rasa itu
aku belajar setia padamu
menantimu menjemputku
membawaku bersamamu
selalu..

maka jika banyak agama masih berbicara tentang perbedaannya, atau membicarakan kerinduannya tentang sang kebenaran mutlak, saya hari ini ingin yang nyata-nyata saja. terus berbuat kebaikan dalam hidup. sesederhana yang saya bisa..

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

ketika tuhan terbelah

Posted on Agustus 25, 2008. Filed under: coretan |

(hmm.. refleksi dari beberapa komen..)

kalau saya boleh gambarkan rasanya, ketika saya meninggalkan katolik dan masuk islam, maka saya seperti berdiri di sebuah batas yang tipis, begitu tipisnya.. seperti berkabut dan saya di kabut itu.

ketika menghadapi saudara-saudara yang kristen, saya seperti tertikam dari depan. saya menanggung semua kemarahan mereka karena saya meninggalkannya. sementara berhadapan dengan saudara-saudara saya yang islam, saya seperti tertikam dari belakang. saya menanggung semua sikap mereka yang jauh panggang dari api.

maaf ya, memang begitulah rasanya. saya tidak membenci keduanya. dalam lebih dan kurang, keduanya adalah saya juga. saya menangis mengingat gereja, karena saya dulu di sana. dan saya suka berkaca-kaca setiap ke masjid, mengingat betapa sesungguhnya hanya cinta tuhanlah yang diajarkan di setiap rumah ibadah.

kalau bisa dilukiskan, berada diantara keduanya membuat saya berdarah-darah..
hehehe, jangan ditanya sakitnya. maju tak bisa, mundur juga tak bisa. tapi saya belajar tuk selalu memaafkan dan merelakannya..

maka saya hanya bisa perlahan meniti di perbatasan..

dan kalau sampai hari ini saya masih menemukan silang sengketa di antara keduanya, bahkan aneka provokasi dari keduanya, saya hanya bisa tersenyum saja. saya sudah tak tahu harus berkata apa. kalau cinta saya pun tak mampu menjembatani keduanya, ya apalah yang bisa saya perbuat??

tapi saya mencintai keduanya, itu iya.
bukan apa-apa, saya nih mencintai tuhannya isa/yesus dan muhammad. dalam apapun mau dimaknai tuhan mereka dari ayat-ayat kitab suci itu, saya sudah merasa sama saja tuhannya mereka bahkan dengan tuhannya nabi adam sekalipun.

dan kalau mereka menjadi nabi bahkan menjadi tuhan yang menjelma nyata di muka bumi, bukankah kita sebagai manusia juga merupakan wujud rasa tuhan di muka bumi? sebagai manusia, haruskah rasa tuhan yang menciptakannya menjadi berbeda-beda? kalau tuhan ada di mana-mana, bahkan ada dalam banyak nama dan cara, tidakkah itu untuk utuh hadirkan rasanya? semua pemikiran ttg tuhan, dari siapa saja, tidakkah itu hanya seperti sebuah kerangka tuk sampaikan makna dari rasanya?

saya mencintai tuhan dalam apapun dia dimaknai dan dinamai.. oleh langit juga bumi..

maka yukk amati lagi jika tuhan adalah air..
semua percabangan aliran air tuk aliri sawah, sesungguhnya bisa ditelusuri asalnya. dan tentu berhulu pada mata air di gunung, yang merupakan satu sumber kehidupan yakini air itu sendiri. dan kalaupun mau ditelusuri kemana bermuaranya, pastinya semua aliran sungai itu bermuara ke laut yang luas. yang merupakan air itu sendiri.

sehingga dari air kembali kepada air..
tidakkah itu cukup sederhana tuk lukiskan ttg tuhan?
tuhan yang awal dan akhir..

ah, maaf ya kalau sayapun tak mampu lukiskan tuhan.
saya bukan apa-apa. celoteh ttg tuhan di sini hanya sekedar berbagi rasa.
tentang cinta yang selalu memanggil dan meminta kembali..
cinta yang paling hakiki.. ciee.. 😀

saya hanya tahu, perjalanan air menjadi sumber kehidupan dan mewarnai kehidupan bersama matahari, udara, debu, dst bahkan peluh adalah perjalanan dari manusia itu sendiri. tuk mewarnai kehidupan dan memberi banyak kebaikan dalam hidup. cuma itu..
maka jika manusia itu bisa utuh menjadi kebaikan dan selalu menjadi sumber kebaikan, tentu manusia itu telah mewujudkan tuhan dalam hidupnya. hehehe, juga cuma itu..
sederhana.. 🙂

tapi sudahlah..
saya enggan membuat kisruh atau menambah kekisruhan
mari temui tuhan dalam apapun kapasitas kita
selebihnya mari saling menghargai dan menghormati

saya suka menatap langit, ketika bumi terasa padat dan penggap. maka mungkin dinamakan agama langit karena langit memang memberi cakrawala lebih luas. tapi tak ada apa-apa di langit, selain rasa yang ringan dan luas. selebihnya saya di bumi, bersama manusia dalam kepadatan dan kepenggapan, harus terus hidup dan terus saling berbagi rasa luas dan ringan itu. agar luasnya langit dan bumi, dinikmati dengan seimbang..

ketika tuhan terbelah
saya yang ditengahnya
berdarah dan hampa
sendirian menatap langit
berharap hujan mau hadir
basahi wajah dan rasa
agar hilang semua darah
agar terisi kehampaan jiwa
mengutuh
menyatu
meng- “aku”
mencinta

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 8 so far )

keakraban

Posted on Agustus 23, 2008. Filed under: coretan |

(refleksi aja yaa.. oya, tuhan tidak membedakan gender. lelaki dan wanita di sini hanya perumpamaan meminjam kerangka masa kini, tentang sebuah dominasi.. semoga bisa menginspirasi 😀 )

seorang lelaki menaruh tuhan di atas menara
tinggi menjulang lambang kesucian
selalu disembah dan dijadikan muara takwa
sang lelaki merasa benar dan tuhan berkuasa

seorang wanita membawa tuhan kemana-mana
disimpannya rapi di ruang hati terdalam
hangatkan senyuman dan lahirkan kebaikan
sang wanita bahagia dan tuhan tersenyum

tiba-tiba kilat menyambar bersahut-sahutan
bumi gelap tak terbendung oleh doa
petaka menjelma dan musibah menelan korban
nestapa mendera derita merajalela

sang lelaki memanggil-manggil manusia
mari ibadah dan lakukan pertobatan
sembah tuhan yang esa di atas menara
mari suci dan selamatkan bumi

sang wanita menggenggam banyak hati
menceritakan tentang malam menjelang pagi
tentang kehancuran buah dari perbuatan
tak untuk ditangisi mari saling bermaafan

sang lelaki masih berteriak atas nama tuhan
mari sembah dia di menara suci kuasa atas bumi
menjadikan manusia suci seketika atas derita
yang tak mau tentu tak layak bersama mereka

sang wanita tersenyum menikmati hujan
gelegar memudar dalam senyum penuh keyakinan
manusia bersama-sama membersihkan diri
melakukan kebaikan tak peduli warna dan rupa

lelaki marah melihat manusia tak mau ke menara
dia memaksa pertobatan mulia atas nama tuhannya
perkataannya pedas mentertawakan keakraban
malah diberi tanda tuk bedakan dari yang lainnya

sang wanita membebaskan manusia
mau ke menara ataupun ke mana saja
tak ada yang perlu ditakutan
karena muara tuhan ada pada rasa percaya

pedang terhunus membunuh sang wanita
dianggap sesat dan pembawa dosa
tapi langit mereda berganti pelangi
seolah sambut dan rindukan kekasih hati
terpanggil pulang kembali keperaduan

sang lelaki tertawa penuh kemenangan
pedangnya basah oleh merah darah sang wanita
terasa selesai tugas suci memberi kurban tuk tuhan
padahal merahnya nodai baju kesucian
dia tak melihat padahal semua nyata

maka bertanyalah orang sholeh itu kepada murid-muridnya
dimanakah tuhan?
murid-murid mencoba menjawab,
di menara lelaki itu
tidak! begitu jawabnya
di bawa oleh wanita itu
juga tidak! begitu jawabnya
murid-murid mencoba berpikir, tapi terasa nihil
lantas dimanakah tuhan itu, wahai guru?
tuhan ada di keakraban
tak bedakan warna apalagi rupa

gurupun tersenyum penuh kehangatan
murid-murid saling berpandangan
lalu tersenyum satu sama lain
rasakan sesuatu jalari hati
sesuatu yang hadirkan kasih
membuat tangan saling menggenggam pasti

tuhan ada dikeakraban
tak bedakan warna dan rupa

guru bergumam dalam hati
dia telah hadir di ufuk hati
sebentar lagi gelap berganti
cahaya dari rasa percaya
penuh percaya
saling percaya
tetap percaya
akan selalu percaya
satu dan yang lainnya

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...