islam indie

Pancasila Rumah Kita

Posted on Agustus 17, 2011. Filed under: islam indie |

simpan di sini..

Pancasila rumah kita, rumah untuk selamanya. Pancasila ada karena kita bhinneka. Tumbuh bersama sebagai Indonesia. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Dalam puspa warna, menjadi Indonesia. Nilainya bukan hanya debu sejarah. Hari ini ada di tangan kita. Jika indonesia lupa dan hilang arah. Saatnya kembali, kembali kepadanya…

 

 

anis

 

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

Indonesia Pusaka

Posted on Agustus 16, 2011. Filed under: islam indie |

simpan di sini..

sentuhan di sini berbeda dari biasanya. tetap menggetarkan jiwa, layak selalu menghiasi doa-doa dan menjadi nafas kita.. anak bangsa Indonesia..

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Puasakanlah Aku, Tuhan

Posted on Juli 30, 2011. Filed under: islam indie |

 hai.. apa kabar?

 

 

 

 

Hari ini, mengawali niat hening menyambut Ramadhan dengan sebuah kebetulan yang hadir. Persahabatan dengan seorang wanita cantik, yang terlahir sebagai pemeluk Ahmadi. Sepupu dari Tubagus Chandra, korban yang ditelanjangi dan dipukuli hingga mati, lalu digantung di tragedi Cikeusik, beberapa waktu silam. Katanya Chandra berjuang 6 tahun untuk memiliki putra. Ketika kejadian itu, istrinya tengah hamil 4 bulan. Juni kemarin, putra Chandra lahir, yatim.

 

kita mungkin berkoar di sini dan di aneka media tentang tragedi itu, tapi kini dia seperti bicara di muka kita sendiri..

 

Diapun memperkenalkan bagaimana kelompoknya. Juga ingin memberitahu siapa dan bagaimana dirinya. Bahkan minta izin tuk mengirim ba’iat kelompoknya ke alamat email. Seolah ingin dikenali lebih dekat dan hangat, di balik dinginnya tragedi demi tragedi yang telah dialami..?

 

Malam ini saya membaca dan tertegun dengan isi surat yang dikirimnya.

Tuhan, bagaimana saya harus menjawab?

Apakah perbedaan selalu menjadi jarak?

.

 

Maka inilah jawab itu:

 

Mbak cantik,

Bukankah pada dasarnya, kita memang cenderung nyaman dengan kelompok kita sendiri? Itu tabiat kita, manusia. Saya menghormati segala bentuk janji setia kelompok, sebagai kepastian dan komitmen kebersamaan. Itu sebuah kewajaran.

Saya pribadi  memiliki pengalaman tersendiri sebagai mualaf, yang memilih indie, dan selalu belajar menjadi diri sendiri. Kadang terasa sepi di keramaian. Tapi mungkin lebih baik begitu dari saya terpaksa dan tertekan?

Semua sepakat, kemerdekaan jiwa itu yang paling mahal.

Lalu kalau memang adalah seorang yang merdeka, apakah kita memiliki alasan tuk menjajah yang lain? Sejauh ini yang ada hanya keinginan berbagi. Betapa kemerdekaan ini, meski kadang sunyi, diam-diam, indah sekali.

Maka semoga benar yang disebut orang, bahwa hanya yang merdeka yang bisa memerdekakan.. ?

Dan kemudian pelajaran termahal dari sebuah kemerdekaan adalah pandai-pandai membawakan diri tanpa harus kehilangan kemerdekaan yang mahal ini. Sehingga karenanya semua kebersamaan yang hadir, dengan siapa saja, memang berteman dan berlandas atas kemerdekaan.

Bukan karena apa-apa dan bukan membeda-beda. Sungguh, karena sama-sama merdeka..

Secara kemerdekaan yang bertanggungjawab adalah kemerdekaan dengan kesadaran bahwa kemerdekaannya berbatas dengan kemerdekaan yang lain, sejatinya, seorang yang benar-benar merdeka, tahu menjaga relasi dengan semua pihak. Sadar mengharmonisasi diri dalam sebuah maha karya kebersamaan penciptaan.

Mungkin perjalanan kita masih jauh tuk menjadi insan yang merdeka di negeri kita sendiri. tapi selalu bisa kita awali dari satu demi satu kesadaran yang hadir di diri kita. Seperti tersingkapnya satu demi satu sekat jiwa..? Walau entah apa hasilnya..?

 

Peluk hangat,

tetap semangat

..

 

Demikianlah,

mungkin kata-kata hanya tinggal kata-kata.

ia berterbangan di udara, lalu menghilang

kau tak akan tahu rasanya, sampai kau menjadi dirinya.

empatimu, puasanya egomu..

 

Puasakanlah aku, Tuhan

dari lapar dan dahaga ini

sampai aku menjadi makanan itu sendiri

menjadi air bagi dunia

memberi kehidupan bagi sesama

Puasakanlah aku..

 

mengucapkan selamat berpuasa bagi yang menjalankannya

semoga sehat dan berkah, sampai bertemu di hari raya

 

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

Jaka Tarub versi 7

Posted on Juli 12, 2011. Filed under: islam indie |

 

 tentang akar rumput yang tidak selalu mudah  setuju. cuma berbagi, semoga menginspirasi.

 

Syahdan, setelah waktu itu, Jaka Tarub diperkenankan tinggal di langit mengikuti bidadari yang pernah dicuri selendangnya ketika turun mandi ke bumi, maka Jaka Tarub telah mengetahui seluk beluk kehidupan khayangan, dalam bicara atau diam dan juga dalam pengamatan. Kesimpulannya, hidup di khayangan tak seindah bayangan. Karena tentu bukan hidup namanya, jika tanpa masalah. Sederhananya demikian, di mana-mana, sama saja.

Tapi mungkin memang beginilah takdir cerita tentang Jaka Tarub. Dia yang sesekali suka mencari tahu di tepi danau, lalu bertemu bidadari yang turun mandi. Maka kali ini, ketika Jaka Tarub mencari tahu di tepi awan, memandang bumi dari atas langit, hei.. ada sesuatu di bumi yang mengundang perhatiannya.

Katanya dalam hati, tentu itu bukan bidadari, karena ia hidup di bumi. Tapi ia wanita, sedang duduk di bawah pohon dan memandang ke langit. Cara memandang yang unik. Mengintip langit dari celah dedaunan pohon. Mengapa tak memandang langit dari tempat terbuka? Ia seperti malu-malu tapi asyik sekali.

 

Jaka Tarub pun ingin tahu. Mengambil selendang, cara untuk turun ke bumi dan menghampiri sang wanita.

– Hai..

Wanita diam saja, asyik sendiri.

– Hai.. indah ya langit dari sini?

– Oh? hai.. iya indah sekali, jawab wanita itu.

– Tapi sebetulnya, langit tidak selalu indah loh.

– Oya?

– Boleh kenalan?

– Eh, lain kali aja ya mas, saya ada perlu.

Jaka Tarub ditinggal sendiri. Lain kali. Gumam Jaka dalam hati, kalau berjodoh, nanti juga kenalan toh?

 

Hingga tiba lagi suatu hari, wanita itu kembali duduk mengintip langit dari dedaunan. Dan Jaka Tarub kembali mencoba kenalan.

– Hai..

– Oh hai mas.. maaf waktu itu ditinggal.

– Tidak apa-apa.

Merekapun berkenalan. Nama wanita itu Dara.

– Silakan loh mas, kalau mau duduk di sini. Tapi maaf cuma rumput

Dara menawarkan Jaka duduk dari hanya berdiri saja di samping pohon.

– Terimakasih.

Jaka duduk di rumput. Mereka duduk bersebelahan, agak jauh, tapi bersama di bawah pohon itu dan saling berbagi cerita, kesana-kemari.

 

– Apa? Mas tinggal di langit?

Suara penuh tanya keluar dari bibir Dara. Matanya berbinar, antara tak percaya tapi ingin tahu.

– Begitulah.

– Enak mas tinggal di sana?

Jaka Tarub sedikit geli mendengar pertanyaan Dara. Diam-diam merasakan betapa sudah lama ia tak duduk di rumput.  Dan jawabnya pada Dara,

– Tinggal di langit, kadang makan hati.

– Hah? Masa sih mas? Bukankah di langit tak ada rasa sakit?

– Ah, siapa bilang? Selama kita manusia, langit itu bukan surga toh? Itu cuma bayangan saja.

 

Jaka memang lebih ingin membangun surga di bumi, apalagi setelah tahu seluk-beluk kehidupan di langit.

 

Darapun makin banyak bertanya. Khas yang hidup dan duduk di rumput.

Termasuk pertanyaan-pertanyaan yang aneh.

– Mas, angin bertiup ke arah timur. Apakah itu berarti di langit sedang meniup dari arah barat?

– Mas, awan abu pucat. Apakah itu tanda langit sedang bersedih hati?

– Mas, gemuruh itu kapankah ia akan mengeluarkan pijar petir yang dahsyat?

 

Jaka ditanya dan ditanya. Tentang langit yang luarbiasa. Jaka pun berbagi beberapa dongeng langit yang tak semua dimengerti bumi. Hingga suatu ketika, Dara mempertanyakan keseluruhannya.

– Jadi langit itu ujungnya dimana sampe mana sih, mas? Bolehkah tahu seluruhnya?

Jaka menjawab sambil menahan geli, juga mungkin kewalahan sendiri.

– Tidak pernah ada yang tahu ujungnya langit, selain yang menciptakannya toh? Saya bisa tahu, sebut saja 80% nya, sudah bagus banget.

– Oh ya iya juga ya mas..

Ucap Dara polos.

 

Di kepolosan dan di bawah pohon itu, Dara memanggilnya dan bertanya. Kadang Jaka sempatkan turun ke bumi, kadang Jaka terlalu sibuk dengan urusan langit. Bukankah langit telah menjadi tempat tinggalnya?

 

Hingga mereka kembali duduk di rumput dan berselisih tentang angin. Angin yang suka bertiup terlalu kencang dan menggugurkan dedaunan bahkan meski bukan daun kering.

Jaka hanya menerangkan betapa angin tetaplah angin. Disuka atau tidak, perlu atau tidak, masuk angin atau tidak, angin tetap akan bertiup. Bahkan meski Jaka juga tak selalu suka berangin-angin di ruang terbuka, tapi Jaka tidak merasa harus menyalahkan angin. Hanya Dara bersikeras.

– Saya  ga suka angin itu, mas. Ia jahat.

– Jangan diklaim jahat. Di satu saat, angin kencangpun bermanfaat.

– Iya saya ngerti. tapi tetap aja mas, saya ga punya hati pada angin yang seperti itu.

– Memang tidak untuk disukai atau tidak toh? Meski tak suka tapi jika bisa bermanfaat banyak dengan bergerak bersama kecepatan angin, tetap bangga toh? Kita dahulukan manfaatnya buat yang lebih banyak kan?

Bahkan Jaka menambahkan.

– Kita jangan terjebak oleh dikotomi angin atau bukan. hingga semua angin kita salahkan dan bukan angin kita setujui. Meski kita jelas-jelas bukan angin, mengkritisi angin tapi tetap tidak melupakan apresiasi jika memang ada manfaatnya.

Jaka berusaha menjelaskan langit yang abstrak pada Dara.

– Saya paham maksud mas. tapi jangan suruh saya suka pada angin itu. simpati, boleh. suka, ga.

– Loh? Saya bukan pembuat angin, mengapa saya harus menyuruh suka pada angin?

 

Hening.

 

Kemarin, angin memang beritup terlalu kencang dan berubah-ubah arah. Membuat suasana tak nyaman. Merinding, dingin. Belum lagi daun-daun berguguran terlalu banyak. Dara tak mau pohonnya kehilangan daun. Dan Dara kedinginan di bawahnya. Lalu kehangatan ditemani Jaka seperti menghilang karena angin memenangkan suasana, mencekam mereka dengan jarum dinginnya yang menusuk-nusuk. Becandapun, oleh angin dibuat jadi dingin.

 

Maka Dara menulis dan menyematkannya di rumput

– Maaf ya mas Jaka. Saya cuma becanda. Jangan biarkan kita diadu domba oleh dinginnya angin. Bukankah kata mas Jaka, angin tetap angin, meski kita tidak suka, meski kita masuk angin? Dan sepertinya saya masuk angin deh mas. Lain kali saya bawa mantel. Ya mas ya?

 

Lalu Dara tertidur di rumput di bawah pohon itu.

 

Mungkin Jaka sudah kembali ditelan kesibukan di atas langit.

Satu pesan dan keinginan Jaka yang diingat Dara

Membangun surga di bumi

Karena selama mereka manusia

Maka langit bukan surga

Itu hanya bayangan belaka

Di langit Jaka belajar mengenali angin

Mengenali bagaimana langit bekerja

Sebagaimana ia hidup di dalamnya

Sebagaimana yang slalu ingin bisa diceritakannya pada Dara

 

Di bawah pohon itu, Jaka dan Dara

Yang mengintip langit dari celah dedaunan

Yang mengintip bumi dari balik awan

Duduk di rumput berdua dan berbagi bercerita

Tentang keharmonian semesta yang tak mudah

Namun harus diupayakan senantiasa

Dan kembali karena mereka manusia?

Harus mau sama-sama tanpa membeda-beda

Jangan terjebak dinginnya adu domba

Meski dalam sebuah canda

 

anis

 

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

Pahlawan Pilihan

Posted on Juli 12, 2011. Filed under: islam indie |

 

 

 

 Simpen di sini yaa..

 

Masih pagi ketika saya dikabari sosok yang mendapat gelar pahlawan kemanusiaan, berpulang ke rahmatullah oleh seorang teman jurnalis. Dia memberi kabar itu lengkap dengan tautan tentang tokoh yang dimaksud.

 

Ah, maaf teman, saya ini terlalu awam, tidak mengikuti jejak langkah sang pahlawan.

Lah, kenal dengan teman jurnalis itu saja, masih berbilang bulan.

Tapi sy sampaikan turut berduka yang mendalam. Sayang memang, tak sempat mengenal.

 

Orang kecil dan termarjinal butuh pahlawan. Lebih banyak sebagai bentuk kepedulian dari bentuk perlawanan itu sendiri. Setidaknya begitu, setuju?

 

Bukan mengulas tentang sang pahlawan kemanusiaan yang berpulang, ingatan saya melayang pada cerita-cerita tentang hidup yang tidak selalu hitam putih, yang pernah saya dibacakan.

 

Alkisah, sebuah tanah nan kaya raya yang terletak di sebuah persimpangan jalan. Menggoda semua orang yang melintas di dekatnya. Tak terkecuali, juga menggoda tetangga-tetangganya. Keluarga besar pemilik tanah itu, kerap dibuat bertengkar agar satu-satu dari keluarga besar itu bubar. Sang kakak terbesar, memilih memakai kekerasan untuk menenangkan suasana dan adik-adiknya, sambil memberi perlawanan kepada usaha adu domba dari tetangga-tetangga itu. Tapi memang wataknya agak kasar, tangan kekar kakak terbesar malah menghujam dan merajam sekeras perlawanan adik-adiknya yang sebenarnya juga tak kalah kasar.

 

Tak banyak yang tahu ada apa sebenarnya. Yang terjadi hanya pertengkaran demi pertengkaran. Kakak terbesarpun tak mungkin selalu menjelaskan duduk keadaan. Tetangga-tetangga itu menfitnah dan mengadu domba mereka. Dan sang kakak memang juga main mata, secara paling besar dan kaya, tak terbukti benar-benar membela tanah itu untuk adik-adiknya. Lebih sering tuk dirinya sendiri? Rumit.

 

Maka datanglah seorang sepupu mereka, masih saudara juga, tapi penuh rasa peduli. Memperhatikan adik-adik di tanah itu dan menyuarakan hasrat adik-adik itu. Kakakpun marah, berusaha mengingatkan sang sepupu. Jelas sia-sia. Malah jadi bertengkar dengan sang sepupu juga. Hingga akhirnya, adik-adik itupun benar-benar memilih bubar. Sang kakak kehilangan.

 

Seorang tetangga menyeringai diam-diam. Dia berhasil memisahkan adik-adik itu dari kakaknya yang kekar. Kini sang tetangga bisa mendekati adik-adik itu dengan leluasa, tak lagi dibayang-bayangi ketakutan akan kekuatan sang kakak. Lalu adik-adik itupun mengangkat sepupunya sebagai pahlawan. Kepedulian sang sepupu kepada mereka, di saat kakak terbesar berusaha menguasai keadaan, sangatlah layak dikenang dan dirayakan sebagai bagian dari kemenangan mereka. Tetangga itupun turut memberi tepuk tangan atas gelar kepahlawanan. Tanah kaya raya, sudah satu langkah dalam genggaman. Sang kakak menerima kekalahan dengan mata nanar.

 

Maka katanya, sering pahlawan dipilih, dari sudut sejarahnya sendiri-sendiri.

 

Untuk cerita tadi, siapa sebenarnya sang pahlawan?

Pada siapa sebenarnya kepedulian?

Yang pasti, ada yang kehilangan

Ada yang dimenangkan

Dan ada yang menyeringai diam-diam

Tergantung di sudut mana kita berdiri memandang

 

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

Memilih dengan Hati

Posted on Juli 12, 2011. Filed under: islam indie |

 

 

Nyampe ga sih ke 2014? *oops*.  Simpan di sini yaa..

 

Lupakan pertanyaan itu, saya ingin tuliskan dampak dari pengalaman saya pertama memilih di Pemilu th 2009 kemarin. Setelah dari usia pilih, saya selalu golongan putih-putih melati.

Saya memilih oposisi di th 2009, sebagai panggilan nurani, karena nyaris tanpa alasan yang memadai selain intuisi. bahkan karena mimpi loh. mimpi yang membuat saya memilih. Dan sebagai pemula yang memilih, saya terdorong untuk memperhatikan apa yang saya pilih. Seperti tak lama sejak memilih, saya dikejutkan dengan melihat oposisi diberi tempat sebagai ketua majelis rakyat tertinggi. Entah apa nilai strategisnya? atau apa negosiasi dibaliknya? tetap kaget. Secara saya cuma awam, maka mungkin cuma Tuhan dan mereka-mereka yang bersangkutan yang paham.

 

Itu pelajaran pertama, bahwa pilihan kita itu tidak akan selalu seperti mau kita.

 

Sambil lalu, tentu sambil lalu, karena saya kan cuma pemilih di akar rumput. Tapi saya boleh berlega hati bahwa oposisi pilihan saya bertahan melawan kasus bank yang akan berdampak sistemik itu. Yang seperti pernah saya tulis di sini, bahwa otak dan rasa saya tetap tidak bisa membenarkan kasus tersebut walau teman-teman saya yang ahli, sudah berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya. Bisa di cek di tulisan itu, saya mencium kejahatan perbankan di balik kasus tersebut.

 

Lalu tentu, yang selalu ditertawakan oleh banyak orang adalah sang ibu, yang namanya sama dengan nama belakang saya. Membuat saya seperti harus turut menanggung nama itu. Menurut banyak orang, beliau sudah saatnya mundur dan sebaiknya tidak mencari calon pengganti dari keluarganya. Sampai-sampai, ada teman yang mengejek bahwa partai itu seperti perusahaan keluarga dengan kursi di parlemen.

Halaah, susah banget memahaminya. Emang gimana dengan partai lainnya?

Dan saya memang harus berbesar hati bahwa tiba-tiba sang ibu membawa putranya, yang selama ini jarang dibicarakan. Kaget. Dan makin kaget karena diberitakan bahwa membawa sang putra itu mengindikasikan ada perpecahan antara kubu sang ibu dan kubu sang ayah. Tapi saya boleh senang, ketika sang ibu bertahan mengoposisi, melawan suami dan anaknya sendiri. Membuat saya merasa bangga harus bernama belakang yang sama.

 

Namun ah, ternyata hidup tak sesederhana seperti ketika saya memilih ya?

Yang sekedar ikuti kata hati?

 

Lah, belum lagi ada yang menghubung-hubungkannya dengan kelompok kiri. Dengan kasus pembubaran forum yang diadakan tokoh kelompok kiri dari partai itu, oleh sebuah kelompok agama.

Haduh, kiri kanan, atas bawah, saya tak pernah memikirkannya ketika memilih dulu.

Belum lagi, walau berinisiatif dengan pengakuan membuka kasus cek perjalanan, tapi tetap saja masuk penjara.

 

Duh, Tuhan, polosnya saya..

Tapi jadi bertanya pada diri sendiri nih. Saya ini memilih untuk apa dan siapa sih?

Kok saya tidak banyak mengerti apa yang saya pilih?

Judulnya, mendadak milih?

 

Dan jadi bertanya-tanya juga, apakah yang lain yang turut memilih, dalam apa saja pilihannya, juga merasa seperti saya ini ?bingung sendiri? atau mempertahankan pilihannya dengan semangat menghancurkan yang lain? atau sudah memilih dan sudah?

Lah, kok saya memilih dengan penuh introspeksi begini ya?

 

Ah Tuhan..

 

Tapi alhamdulillah, ada kejaiban, bahwa pilihan ini telah mempertemukan saya dengan mimpi-mimpi saya. Memenuhi suara nurani tanpa benar-benar mengerti kenapa. Di perjalanan panjang konsekuensi pilihan ini, itulah yang paling nyata saya dapati. Hati saya lega bahwa saya sudah memilih. Memilih mengikuti kata hati, sehingga menemui jawaban juga dengan hati. Penuh introspeksi, tetap mengkritisi dan bukan semangat menghancurkan.

 

Elegan bertahan, mawar merah menawan, meski seperti tertawan duri-duri keadaan.

 

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Pada Langit-langit Kamar

Posted on Juli 12, 2011. Filed under: islam indie |

 

 

 

Melepas rindu, jemari menari, melukiskan imajinasi
Sudah lama sekali, jadi seperti latihan lagi

 

Sore belum lagi tiba, ketika Rama, bukan nama aslinya, menggoreskan warna jingga di langit-langit kamar. Sinta, juga bukan nama sebenarnya, menatap sebulat mata. “Mengapa jingga, Rama?” tanyanya menggambang di udara, ikut menatap langit-langit kamar itu.

 

Rama tersenyum. “Mengapa? Aku hanya sedang mencoba menggoreskan warna lain, ini coba warna jingga. Seperti rindu senja, siang ini terlalu merah membara, gerah”.
Merah? Ya. Di langit-langit kamar itu memang dominan merah.
Warna yang mempertemukan Rama dan Sinta. Dua orang yang menyukai pelangi untuk negerinya.

 

“Begitu membarakah merah, seperti api yang membakar dan menjadikan Rama arang hitam?”, tanya Sinta, geli dan penasaran. Sebagai penggemar pakaian warna hitam, sudah pasti Rama membela warnanya. “Bukankah gelapnya hitam membawa kita untuk peka cahaya?” Rama memang suka membalikkan tanya.
Lalui lanjutnya, “Aku tak takut hitamnya. Aku hanya enggan jadi arangnya. Enggan getas dan retas”.

 

“Tapi mengapa jingga?”, masih itu tanya Sinta.
Mengapa? Dalam diam, Rama juga ingin tahu.

 

Agar diam tak berlalu terlalu lama, Sintapun mencoba mencampur warna. Mencari komposisi seimbang, mencari jingga seperti yang tadi digoreskan Rama. Sinta tampak sibuk, tapi warna jingga itu tak kunjung ada. Kesal sendiri, Sinta bertanya.
“Rama, apakah tuk mencampur warna, kita harus berkompromi dengan komposisi?”
“Rama, mengapa jingga ini, tidak indah? campuran warna lamanya tak mau sirna?” tanyanya lagi.
dan “Rama, kok jingga ini terasa memaksa dan malah jadi tak suka?”
Tangan dan wajah Sinta belepotan warna.

 

Rama tersenyum, katanya, “Sudahlah. Kita sudah tahu jawabnya toh?”
“Jawab? Jawab apa?” Sinta memang suka lambat mencerna.

 

Rama, yang telah bermandi warna dan bertahan terlalu lama. Ditempa waktu, dicurangi nafsu, diiris ngilu. Memang sangat mendewasakan, hingga tak ada yang diingini Rama selain keserasian. Bukan lagi semata tentang warnanya atau warna lainnya. Lalu Sinta, yang masih muda untuk mengerti berjuta warna. Penuh tanya tapi telah berani memilih warna. Dan ternyata tak bisa pindah, walau mencoba mencampurnya.

 

Pada cita-cita untuk memberi pelangi, pada satu warna Rama dan Sinta bertemu. Namun begitu, Rama sudah langsung berkata, bahwa ia mengutamakan keharmonian warna dan tak selalu berarti membela satu warna yang itu.

 

Dan jingga?
Rama yang paham warna, tak tahu pasti
Ia tadi hanya melihat dan mencoba menggoresnya
Sinta ingin tahu mengapa, tapi tak mau suka.
Ada apa ya dengan jingga?

 

Di langit-langit kamar itu, kamar komunikasi
Rama dan Sinta, bukan nama sebenarnya
Bertemu dan setuju
Membicarakan dan menggoreskan warna-warna
Mencita-citakan pelangi untuk negerinya
Dalam apapun pilihan warna mereka
Yang kebetulan sama

 

Lalu ketika Rama mencoba menebalkan warna biru sebagai kontrasnya di langit-langit kamar itu
“Aaaaaaah….” Sinta mblalak, Rama terbahak-bahak.

 

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

merdekakanlah Aku

Posted on Agustus 3, 2010. Filed under: islam indie |

berbagi cuma berbagi..

saat itu, mungkin baru setahun saya pindah agama. saya masih hangat-hangatnya belajar agama di masjid Salman, tempat saya masuk islam. hampir semua akang dan teteh aktivis di masjid itu tahu saya mualaf. maka pernah dibawa kepada saya seorang mahasiswi yang katanya sedang mengalami guncangan iman. dia ingin keluar dari islam.

wah, apa yang bisa saya lakukan?

tapi saya kaget. katanya Islam agama sempurna tapi ada juga nih yang mau keluar. maklum, waktu itu saya baru berusia 18 tahun, banyak hal yang belum saya pahami dalam hidup ini, bahkan mungkin sampai hari ini. seingat saya, dia mahasiswi jurusan Farmasi ITB dengan angkatan lebih tua dari saya.

alkisah dia punya pacar beragama katolik yang baik sekali. dan belum apa-apa, dia sudah bilang gini ke saya,
– katanya kamu dari katolik? pasti kamu juga baik.

mata saya mblalak. waduh. kecipratan apa nih?

mengalirlah cerita penuh keluh kesah darinya tentang agama.
– sebetulnya aku sudah lama mau pindah dari agama islam. semua serba ga boleh, semua serba salah. harus ini, harus itu. sholat aja 5 kali, kadang bentrok ma praktikumku. cape. harus ngaji, hidupku pusing.

ingin deh saya bilang padanya seperti yang sering diajarkan pada saya saat itu. bahwa semua itu untuk melindungi kita dari godaan setan dan neraka jahanam. bahkan lebih berat mana semua ibadah itu dibanding api neraka? pengen deh bisa bicara seperti penceramah agama gitu, tapi sepertinya saya kurang berbakat. dan sepertinya “not my tipe”. hehehe..

lalu apa hubungannya dengan pacarnya yang katolik? belum ditanya, dia sudah curhat lagi.
– setelah aku lihat yang lain, terlebih di pacarku, beragama itu ga repot. maka apa sih agama itu? kenapa yang ini repot, yang itu tidak?

haduh, baru umur 19 tahun, baru pindah agama setahun, sudah ditanya begini. maka saya coba deh bicara,
– saya memilih islam karena saya mau. tidak ada yang maksa.

dia diam.
– saya masuk islam tanpa siapa-siapa yang memberi alasan dan dorongan. saya juga tidak ingin ada pihak yang dituduh mengislamkan saya. saya tidak tahu islam itu repot dan susah. saya masuk ya masuk aja.

dia bertanya,
– kamu dibuang oleh keluarga?
– bisa dibilang begitu.
– kamu dianiaya?
– tidak secara fisik.
– kamu tidak lagi diberi uang lagi oleh keluarga?
– apa saya masih pantas meminta pada keluarga setelah pindah agama?

gantian saya bicara,
– jika tidak ada pacar yang beragama katolik, apakah kamu akan tetap meninggalkan islam?
dia diam.

saya jawab,
– saya tanpa pacar yang beragama islam, saya tanpa siapa-siapa dan saya tetap masuk islam. kalau kamu berani tanpa menggantungkan diri pada pacar yang katolik, mungkin itu lebih baik.

dia kembali bertanya,
– katolik di mataku baik. kenapa kamu meninggalkannya? kamu tidak setuju dg trinitas? kamu tidak setuju Yesus disebut tuhan.

gantian saya yang terdiam. tapi saya jujur padanya, bahwa kenangan saya tentang agama saya sebelumnya memang baik. bukan karena Tuhannya adalah Yesus, bukan karena trintasnya. tapi karena dibawakan dengan baik, setidaknya selama saya mengenalnya.

tidak ada yang marah jika saya tidak ke gereja. tidak ada yang marah jika saya tidak berdoa, tidak juga ada yang marah jika saya main-main di gereja. bahkan nyaris tidak ada dari gereja yang marah ketika saya masuk islam. mungkin karena waktu itu saya masih anak-anak.

saya pun bercerita padanya sebuah kisah lucu dari ibu saya. katanya, waktu kecil saya suka pingsan. bahkan di gerejapun saya sudah beberapa kali pingsan. sampai pihak gereja harus menilpun ke rumah tuk minta orangtua menjemput saya. seorang pasturpun pernah becanda ke ibu saya.
katanya,
– mungkin khusus untuk anis, boleh lahir di gereja tapi bukan tempatnya di gereja.

hehehe.. ya saya inget, waktu kecil saya beberapa kali pingsan di gereja.

maka ketika saya masuk islam, ibu saya baru menceritakan ucapan itu.
katanya,
– mungkin pastur bener juga..

walhasil, saya cuma bisa bilang padanya, bahwa saya tidak benar-benar tahu persis mengapa saya memilih islam. tapi saya mencoba memilih islam tanpa apa-apa. mencoba bener-bener tiada Tuhan lain selain Allah. tiada rasa lain selain rasa “itu”. tidak juga ada ingin lain, selain itu. juga tidak ada kebencian kepada agama sebelumnya, hanya ingin islam saja. membuang dan membuang semua yang lain yang sering menggoda. bisakah itu dan hanya itu? lurus dan lurus, dan jangan bengkok walau sedikit?

lalu Muhammad?
beliau bilang sendiri bahwa beliau cuma utusan. maka syariatnya, bukan berarti itulah Tuhan.

itu yang saya pahami dari sejak saya pertama memilih islam. entah siapa yang mengajari, tapi tahu-tahu rasanya ya begitu saja.

saya tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan tentang teman mahasiswi itu. saya cuma merasa sedikit bersalah bahwa saya tidak mencegah juga tidak mendukung pilihannya. saya hanya memerdekakannya tuk memilih. saya sendiri sempat berpikir, mungkin saya gila. giliran orang semangat dakwah islam, saya kok malah gitu? tapi ya memang begitulah saya, bahkan dari pertama saya mengenal islam.

saya mengenal kelompok yang sangat keras mengajarkan syariat islam. tapi sungguh, saya tidak bisa bertahan jika jiwa saya tidak merdeka. saya ingin bisa melakukannya ketika tidak ada Tuhan lain selain yg saya sebut Allah itu. tidakkah paksaan bisa menjelma menjadi “Tuhan lain”?

tapi bahwa saya belajar dan menjalankan tata caranya Muhammad, itu iya.

hari ini, di era semua berlomba-lomba tuk eksis di ruang publik, agama pun berlomba mencari eksistensinya di ruang publik, saya sering terdiam. bukankah di dalam diri sendiri saja memelihara eksistensi Tuhan sudah sulitnya setengah mati??

ah, Tuhan..

pertanyaan saya hari ini, setelah 20 tahun pindah agama, adalah..
– apakah bisa tanpa yang lain selain Engkau?

maka kadang ingin kumatikan semua rasa
kupejamkan mata dari semua rupa
kututup telinga dari semua katanya
sampai tak ada yang lain, hanya Engkau
tapi kadang juga aku berterimakasih pada sejuta rasa
sejuta rupa dan sejuta katanya
yang telah membuat dunia ini berwarna dan berirama
yang telah membuatMu hadir sebagai anugerah

maka lihatlah aku, Tuhan..
yang berjalan dan Kau perjalankan
yang berpindah dan Kau pindahkan
masihkah Kau ditempatMu?
diam dan kaku di situ?
atau Kau mau menari bersamaKu?
di jiwaku?

Tuhan…Tuhan..
Kaukan kupeluk
tak ingin Kau jauh dariku..
merdekakanlah aku
maka aku belajar memerdekakan jiwaku
aku belajar memerdekakanMu

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 24 so far )

semoga Tuhan tidak seperti rumput yang bergoyang

Posted on Juli 29, 2010. Filed under: islam indie |

cerita cuma cerita..

masih jelas di ingatan saya, bagaimana mbak jamu langganan mengeluh. karena meski tergolong janda dan miskin, ia tetap tidak mendapat jatah tabung dan kompor gas gratis ketika program konversi itu sedang gencar-gencarnya disalurkan. katanya, yang dapat program konversi malah orang-orang yang tergolong makmur dibanding dirinya. bahkan ada yang rela membayar tuk dimasukkan ke dalam daftar orang yang layak dapat program itu.
saya sampai bertanya,
– gratis kok malah bayar?
jawabnya sederhana,
– iya bu. bayar dimuka untuk mancing yang gratis. itu biasa kok bu. katanya, kalau mau ikan yang besar ya harus mau umpan dengan ikan yang kecil.
ah, saya diam saja deh.
harga minyak tanah yang biasa dibuatnya tuk menggodok jamu, Rp 5000an/liter. itupun sudah mulai sulit didapat. saat itu, dia sudah menggunakan kayu bakar.suka ambil sisa-sisa kayu bekas bangunan dari komplek.
lah, si mbak jamu masih bisa bilang gini,
– pak SBY itu baik ya bu. gas gratis, sekolah gratis. cuma dimasa pak SBY aja katanya bu yang bisa begini..
ealah, polosnyaaa…
saya tidak bilang pada si mbak jamu, kalau gara-gara program konversi, LPG 12 kg yang biasa saya konsumsi jadi sulit dicari. saya sampai memiliki 5 nomor warung tuk mengejar keberadaan LPG 12 kg, dan saya pernah membayar100 ribu pertabung karena langka.

beberapa warung langganan itu turut menawarkan LPG 3 kg kepada saya. gantian saya yang polos bertanya,
– kok program konversi malah dijual?
kata mereka,
– lumayan bu, buat jaga-jaga kalau tabung yang 12 kg sedang langka. lumayan irit. 3 kg cuma 12 ribu. 12 kgnya berarti cuma Rp 48 ribu. sementara yang tabung 12 kg, Rp 80ribu. sudah banyak juga kok ibu-ibu komplek yang beli tabung 3kg.

mmm, memang irit sih, apalagi jika dibanding 12 kg yang sampai 100 ribu saat itu. mereka menawarkan harga awal tabung LPG 3kg Rp 125.000.
tapi entah kenapa, saya memilih tidak beli. saya dengarkan penawaran itu, tapi saya tidak pernah terpikir saja tuk membelinya. maka hingga hari ini, saya setia mengkonsumsi LPG 12kg.

lah, lain lagi dengan tetangga saya. kebetulan dia memiliki dua rumah. sebelum pindah satu komplek dengan saya, dia sudah menetap lama di Bogor. menurut ceritanya, dia dapat jatah kompor dan tabung gas 3kg gratis dari pak RT di kompleknya yang lama.
– hah? ga salah tuh?
tuk sekedar informasi, tetangga saya itu suaminya bekerja sebagai auditor perusahaan otomotif ternama di negeri kita. kendaraan pribadinya saja dua. usianya juga jauh lebih tua dari saya, yang kalau saya sih masih tergolong keluarga muda. halahh..
tetangga itu juga mengaku kebingungan kok bisa-bisanya dia dapat jatah program konversi.

saya jadi geli tapi juga mual. yang miskin berjuang setengah mati untuk memancing bahkan pakai umpan ikan kecil demi dapat ikan besar. lah, kepada yang sudah makmur, ikannya datang sendiri tanpa umpan dan tanpa dipancing.
tapi ya, itulah Indonesia..

sekarang, dengan kebocoran tabung gas 3 kg yang telah menelan banyak korban, semua pihak angkat tangan. tak ada yang merasa “bisa” atau tepatnya tidak ada yang “mau” bertanggungjawab atas pelaksanaan program itu. ibu pimpinan tertinggi Pertaminapun marah-marah merasa dibiarkan sendiri tuk kasus ini.
dalam hati, – rakyat lebih sendirian dan kesakitan ketika harus menjadi korban tabung gas itu, wahai Ibu pimpinan..

lalu kambing hitampun akhirnya ditemukan, dia bernama selang hitam.
oh, Tuhan.. memang selang tak bertulang.. tak mampu bicara tuk membela diri dari aneka tuduhan.
dan lihatlah, segera selang bisa diperoleh secara bersubsisi Rp 20 ribu.
selesaikah?

sebagian menyalahkan prilaku rakyat. untuk soal prilaku, saya merasa tidak tepat kalau selalu menyalahkan rakyat. ini program konversi secara besar-besaran dari prilaku menggunakan minyak tanah ke prilaku menggunakan kompor gas LPG.
dari beberapa pengalaman saya memiliki pembantu, diawal-awal kerja mereka sempat kesulitan menggunakan kompor gas. mereka takut memantik kompor, takut dengan bunyi kompor dan api yang menyala tiba-tiba. sangat berbeda, dengan biasanya mereka menggunakan api kecil tuk membakar sumbu kompor minyak, lalu menunggu perlahan sampai apinya rata. tanpa bunyi. tanpa banyak kekhawatiran. mereka merasa subyek dari kompor minyak tanahnya. sementara dengan kompor gas? mereka masih merasa asing. walau ujung-ujungnya, mereka akan berkata,
– wah.. mudah dan bersih ya menggunakan kompor gas dibanding kompor minyak tanah.
tapi mereka tetap butuh waktu tuk terbiasa.

tak cuma itu, saya juga kadang harus turun tangan sendiri tuk pemasangan ulang tabung jika habis. atau meminta tolong pengantar gas yang memasangkannya. itupun, saya memiliki dapur dengan tempat gas yang terlindung dari kompor juga dengan sirkulasi udara yang cukup baik. saya bahkan membeli regulator yang relatif mahal demi keamanan. padahal kata suami, itu tidak berpengaruh amat. tapi demi keamanan dan kenyamanan saya dan anak-anak yang di rumah, rela deh.
nah, bagaimana dengan mereka?
pernah saya lihat, tabung gas kecil itu diletakkan persis di samping kompor tanpa disekat apa-apa.
dimana edukasi atau supervisi penggunaannya pada rakyat sebagai pengiring program konversi itu?
pertanyaan ini seperti bertanya kepada rumput yang bergoyang.

lalu, di tengah banyak protes atas korban nyawa akibat teror tabung LPG 3kg, bergulir juga wacana ala konspirasi bahwa Pertamina sebagai perusahaan negara akan dilempar ke asing. kegagalan-kegagalan dari teror tabung gas sampai fuel pump dinilai sebagai upaya menjatuhkan perusahaan negara itu. nasionalisme kita seperti dipertaruhkan.

ealaaah rek.. di situ-situ yang buat dosa dengan salah dan asal bikin kebijakan, rakyat sudah jadi korban e… masih dipertanyakan rasa kebangsaannya.
haduh.. mbok lawannya Belanda aja deh, jadi jelas siapa musuhnya. ini mah musuhnya adalah kebodohan struktural, lalu diwariskan secara nasional juga diselenggarakan secara seksama dan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

dan pagi ini, kenapa saya menulis ini, karena saya membaca harian Kompas, 26 Juli 2010, halaman 13. judulnya : Katub Tabung Gas Sumber Masalah. BPPT lakukan audit teknologi.
kesimpulannya BPPT,
secara teknis :
– kerusakan bukan hanya karena buruknya kualitas komponen melainkan juga akibat pemaksaan pengisian tabung pada kasus pengoplosan.
– kebocoran paling besar terjadi pada sistem katub, bukan pada selang.
secara non teknis:
– disparitas harga. selisih harga dari tabung 3kg (Rp 13.000) dengan tabung 12kg (Rp 78.000) sangat menggiurkan tuk spekulan melakukan pengoplosan sampai penggadaan tabung ilegal.
– perlu disusun prosedur untuk penanganan dan keamanan tabung gas dalam sistem distribusi hingga tingkat pengecer. jika perlu, pakai sertifikasi agen, pangkalan dan pengecer.

lagi-lagi saya geli, untuk menyimpulkan seperti ini saja mesti menunggu banyak korban berjatuhan lalu saling lempar sana-sini, bahkan teori ini itu. padahal dari kisah sederhana yang saya alami sebagaimana di atas, yang tentunya juga dialami oleh teman-teman saya, sepertinya sudah banyak pihak bisa mengambarkan penyebabnya seperti yang diurai BPPT. inipun rasanya juga belum tentu ditanggapi baik dan segera oleh Pertamina dan Pemerintah.

walhasil, jangan-jangan tunggu Indonesia ini tinggal sisa-sisa baru semua pihak terkait menyadari bahwa kesalahannya ini dan ini, lalu di sini dan di sini.
hehehe… better late than nothing.. but it’s too late…
jadi inget lagu Apologize dari One Republic feat Timberland

pagi ini saya cuma teringat
tidak untuk berdebat
tidak juga untuk menggugat
rasanya sudah terlalu pekat
Indonesia bertobat?
apa kata dunia???

terakhir saya bertemu si mbak jamu, dia sudah tidak produksi jamu godok yang digendong sendiri. sekarang dia bawa jamu pakai motor. keren sih, pangling juga melihatnya yang biasa berkain bawa gendongan jamu, sekarang terlihat lebih praktis dan naik motor. katanya, itu dagangan temannya, dia hanya sesekali menggantikan.
– biar tetap jadi tukang jamu, Bu. sebetulnya sih sudah gulung tikar. untung saya bisa bawa motor, jadi masih kepake walau cuma jualin punya orang lain. mau jadi pembantu rumah tangga, saya ndak bisa sepenuhnya, sesekali masih harus pulang ke Imogiri tuk nenggok ibu dan anak saya. ndak enak ke majikan kalau saya banyak izin.
– lah, tapi kok jarang kelihatan di sini?
– ya iya, Bu. sesekali saya juga nyambi-nyambi.
– nyambi apa?
dia tersenyum..
– pengennya sih bisa menikah lagi, bu..
– mmm… amiiiin.

saya tersenyum, tapi rasanya kok getir ya?
dalam hati,
– Tuhan, sampai kapan Kau tega membiarkan rakyat yang selalu berusaha kuat ini dizalimi? tidakkah Kau mau mengabulkan harapan dan cita-cita mereka tuk kehidupan yang lebih baik?

semoga Tuhan tidak seperti rumput yang bergoyang..

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

Sistem

Posted on Juli 20, 2010. Filed under: islam indie |

cerita yaa..  sebagai cara untuk menyambung kembali kata di sini dan di hati semua..

selamat menikmati

dan semoga tetap menginspirasi

.


waktu itu saya geli sekali melihat ekspresi wajah suami saya ketika kita datang ke acara family gathering kantornya di Taman Impian Jaya Ancol. suami kaget melihat sampah yang banyak dan berserakan di area hiburan yang disewa EO dari pihak kantornya. hari itu kita memang memilih datang agak telat dan santai saja dari rumah. ketika sampai, acara hiburan dan pembagian door price dari kantor sudah hampir usai, para keluarga pekerja sudah diperbolehkan menikmati hiburan secara pribadi di taman hiburan itu. dan benar-benar menyisakan sampahnya yg luarbiasa di area tersebut.

suami saya agak ngomel, padahal dia tipe yang jarang komentar.
– kok ga kebawa kebiasaan menjaga kebersihan di kantor ya? kalau pihak keluarga tidak terbiasa, mbok yang karyawan kantor itu yang memberitahu. secara di kantorkan buang sampah pd tempatnya itu dibiasakan sekali.
keluh suami sambil mengambili sampah yang berserakan dan membuang ke tempat sampah yang disediakan.

lah, anak-anaknya protes melihatnya begitu karena sudah tak sabar ingin bermain di Dufan, pilihan dari acara family gathering saat itu. kata anak-anak, ngeles..
– papiii, kitakan diajarkan tuk tidak membuang sampah sembarangan. bukan untuk ngambilin sampah sembarangan…
halahh.. hehehe, sy geli dengarnya. lah, suami ngotot juga,
– ini masalah peduli.

suami saya kerja di pabrik milik Jepang. semua tentu paham bagaimana kebersihan sebuah pabrik tak cuma dibiasakan tapi diperlukan tuk kelancaran dan persyaratan produksi.
tapi siapa sangka ya kalau kebiasaan itu cuma berlaku di pabrik saja, tidak berbekas di luar pabrik.

budaya Indonesia?

tak sengaja, saya melihat ada anak yg pipis sembarangan di rumput dekat pintu masuk, yang bahkan dibantu oleh orangtuanya. saya diam saja deh. nanti acara gathering bisa menjelma jadi acara diskusi yang kurang kondusif nih. e, tiba-tiba anak saya yang besar bilang,
– kok bau pesing ya?
hehehehe. haduh, begini deh kalau ke tempat-tempat umum di Indonesia. kayak kita bukan Indonesia aja?

kemarin malam sambil menyampul buku sekolah anak-anak, saya nonton Discovery tentang kereta api di Cina. negeri naga itu memang sedang sangat menakjubkan. jadi kalau dalam sajiannya kali ini saya juga jadi takjub, tentu biasa. tapi sungguh, saya takjub pada hal kecil yang mereka biasakan di sana.

saya tertegun pada bagaimana sistem perkeretaapian dibenahi bukan hanya melulu menyoal teknologinya. tapi perubahan yang didasari pada prilaku semua pihak. sebagai pekerja kereta api juga sebagai pengguna kereta api.

terlihat dari bagaimana pekerja kereta api bangga dengan seragam sebagai korps dan cara pelayanan mereka. mereka tak sungkan untuk menutupkan pintu kamar penumpang di kereta api malam. melarang dengan sopan penumpang yang merokok di pintu dan sambungan gerbong demi keamanan. di setiap pintu gerbong, mereka menjaga dan mengecek nomor gerbong di tiket penumpang, jika salah ditunjukkan dimana gerbong yang tercantum pada tiket. setiap petugas bertanggungjawab pada pelayanan di dalam gerbongnya. lalu juga bagaimana mereka melayani pembelian tiket di atas kereta. mereka membawa mesin tiket seperti alat menggesek kartu kredit seandainya ada penumpang yang kehilangan tiket. suasana terlihat sangat profesional dan tetap edukatif. bahkan mereka mengajari pemakaian toilet di gerbong pada penumpang yang kebingungan. di muka stasiun, mereka menjaga juga menyapa seandainya ada penumpang yang kebingungan mencari loket atau mencari taxi tuk melanjutkan kembali perjalanannya.

katanya, prilaku berkereta api itu tergantung sistem yg diterapkan oleh perkeretaapiannya. bukan tergantung pada budaya penumpangnya.

mereka bertekad membuat prilaku yang baik dalam berkereta api. maka selain terus memperbaiki pelayanan dan teknologi kereta api, mereka juga merasa punya tugas sebagai guru untuk masyarakat di kereta. mereka membuka museum KA, yang secara berkala mengajak pengunjungnya mencoba berperan menjadi masinis. di sana diperlihatkan sekali bahwa tuk mengerem KA itu butuh jarak yang cukup jauh. maka prilaku keamanan di rel itu penting tuk keselamatan semua pihak. mereka berprinsip semakin banyak yang paham perkeretaapian, itu akan menjadi sosialisasi tersendiri di khalayak umum.

bahkan pada garis batas berdiri di tepi peron mereka menyediakan petugas yang menjaga agar penumpang tidak berdiri melebihi garis batas itu. mengingat bahaya yang mungkin ditimbulkan dari laju kereta di tepi peron.
waduh, garis batas di tepi peron itu membuat saya teringat ketika saya belajar naik KRL ekonomi Bogor Jakarta bersama teman saya. sepanjang peron banyak orang berdagang dan berdiri menunggu kereta. ketika saya berjalan ditepinya melewati banyak dagangan dan orang-orang, lalu tiba-tiba kereta datang. gustiii…, untung saya tidak terbawa atau tertarik oleh laju kereta. rasanya gamang sekali di tepi jalur kereta itu. kapok deh. itulah sekali-sekalinya saya belajar naik KRL kita dan saya belum mau mencobanya lagi.

maka betapa tertegunnya saya melihat acara tentang kereta di Cina itu. memang pendek-pendek hal yang dibicarakan tapi terlihat sekali mereka serius berubah dari hal-hal kecil. berubah dari hal-hal yang tidak terbentur biaya atau anggaran. berubah dari hal-hal yang bahkan sudah semestinya.

ajaib. katanya dalam beberapa tahun, prilaku tertib berkereta terbentuk dengan baik setelah dibimbing dan dipandu dengan apik. membuat saya teringat cerita teman saya yang melihat bagaimana TKI dimarah-marah petugas di bandara Soekarno Hatta. alih-alih dipandu malah dihina. sementara di Cina, mereka memilih mengajari dari selalu menghukum. padahal Cina terkenal sangat-sangat tegas pada tindak pelanggaran.

dan perubahan itu tidak sia-sia. perbaikan prilaku perkertaapian itu telah mampu mendongkrak 5x perekonomian Cina!
pelosok-pelosok jadi terjangkau, ekonomi di pelosok hidup. bahkan penduduk desanya belajar tertib, bersih dan kesopanan pertama kali di kereta sebelum mereka menginjakkan kakinya di kota. kereta telah menjadi duta dan jembatan kemajuan antara kota dan desa.

dengan keberhasilan mendongkrak perekonomian itu membuat Cina semangat membangun sistem, stasiun-stasiun juga teknologi kereta lebih maju, baru juga lebih banyak. lebih tepat waktu, lebih unggul. di kota mereka telah menggunakan layanan kereta cepat. merekapun bercita-cita tuk menjadi sistem perkeretaapian nomor 1 di dunia. dan sepertinya itu akan jadi nyata. karena saat ini Cina telah masuk 5 besar sistem perkeretapian terbaik di dunia.

huaaah, sudahlah. Cina memang layak bangga dan maju. wong usaha pemerintah mereka juga luarbiasa tuk mengejar banyak ketertinggalan setelah lama memilih politik tertutup. walau mereka juga bekerja keras tuk mengatasi dampak keterbukaan dan kemajuan saat ini.
tapi begitulah bernegara, dinamis dan berpandangan jauh ke depan.

bagaimana dengan kita?

masihkah kita mimpi akan perubahan-perubahan besar seperti padi varietas super, energi biru alternatif, ruang pemantau daerah yang canggih sampai negara bebas korupsi jika merubah prilaku saja kita tidak bisa?? belum lagi tuk perubahan-perubahan besar itu katanya butuh biaya besar dan kita lagi-lagi berhutang dan berhutang? atau masihkah kita mimpi sebuah sistem ideal bernama negara agama yang katanya dari Tuhan, padahal nabinya itu berkata Tuhan menyukai kebaikan yang kecil tapi terus berkelanjutan? katanya kebersihan sebagian dari iman padahal membuang sampah pada tempatnya saja kita sering tak mampu? apakah kita lebih mampu secara materi tuk mengejarTuhan ke tanah suci, membangun banyak rumah ibadah, bahkan mampu merusak tempat ibadah agama lain, tapi ternyata kita tak benar-benar mampu secara moral tuk membangun kebiasaan baik pada anak cucu kita?

saya berterimakasih kepada Taman Impian Jaya Ancol yang sudah menyediakan aneka tempat sampah dalam jarak yang sangat dekat, kurang lebih 5 meter. juga yang telah menyediakan banyak tenaga cleaning service, yang senantiasa tanggap melihat sampah dan segera menyapu lalu membuangnya ke tempat sampah. tapi tentu budaya bersih itu akan lebih indah jika didukung oleh kebiasaan hidup keseluruhan masyarakat Indonesia yang juga bersih.
maka kami, saya dan suami sambil berjalan santai menuju kendaraan di sore setelah selesai bermain sambil melakukan ‘sweeping’ memungguti sampah yang masih tercecer dan membuangnya ke tempat sampah. sesekali anak-anakmengikuti walau juga kadang keluar protesnya, karena sudah kecapaian dan ingin segera pulang.

sudah lama juga, saya dan suami enggan memperdebatkan Tuhan. kita hanya ingin bisa perlahan membuktikan diri sebagai makhluk berTuhan dari hal-hal kecil yang sering terlupakan. maka sore itu kita berjalan saling berangkulan, tidak untuk selalu dibilang bermesraan, itu semata karena kita sama-sama kecapaian menemani anak-anak bermain seharian. hehehe..

duh, Tuhan.. sering aku ingin bertemu denganMu
tapi sering juga kutahu mimpipun aku tak pernah mampu
karena hanya yang bersih yang boleh melangkah pasti menuju surgaMu
hanya pada kebersihan aku kembali dan boleh melihatMu
pada bersih lahirku
pada bersih batinku
pada bersih rasaku
pada bersih asaku
pada bersih sekitarku
pada bersih bangsaku
pada bersih negeriku
sungguh, tak salah jika di acara itu, seorang pakar pekeretapian Cina berkata ciri utama negara maju adalah bersih. maka ia memperlihatkan pentingnya kebersihan termasuk itu di lokomotif kereta. kebersihan lokomotif memperpanjang usia pengoperasian kereta.

akankah kebersihan juga memperpanjang usia bangsa dan negara kita? terhindar dari kepunahan sebagaimana sejarah mencatat umat-umat yang punah akibat angan-angan, prilaku & kebijakannya yang mungkin “kotor”? mari kita jawab bersama, selama kita merasa Indonesia..

.

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...