Islamisasi

buka-bukaan

Posted on Agustus 12, 2008. Filed under: Islamisasi |

(hehehe, di bagi yaa.. mau rada syariat nih..)

hari ini, saya menerima imel japri dari teman, tentang bulan ramadhan yang sudah dekat dan memberi ucapan maaf lahir batin tuk kebersihan hati menyambut ramadhan nanti.
hmm, kapan ya persis ramadhannya? saya belum lihat kalender.
saya membalas dengan mengucap hal yang sama, di tambah selamat hut RI ke 63 tahun. hahahaha, merdeka! πŸ˜€

semalam baru saja saya bilang pada suami, kenapa ya mau puasa ini kok saya lebih letih? saya merasa seperti mau berbuka dan buka-bukaan. menjelang berbuka puasa itu memang terasa lebih letih loh. terasa lebih laper, karena sudah kebayang makanan kali yaa? hehehe πŸ˜€

lah, mata suami saya akan memblalak, maksudnya??

gini..
rasanya setahun ini, saya yang berbaju duniawi ini sibuk berpuasa dari ini itu, terbukti dengan menuliskan banyak “puasa” saya di sini. saya belajar menahan diri, belajar merapikan diri, juga belajar salah.. hehe, maksudnya saya masih saja salah dan salah lagi. jiwa saya sampe cape dan keletihan deh rasanya. seperti puasa yang penjang dan tidak ada habis-habisnya. kehausan dan kelaparan selama setahun. belum lagi, batal lagi dan batal lagi. jatuh lagi, jatuh lagi.

maka, mau ramadhan kok terasa saya bisa berbuka. ya?

yup, puasa ramadhan ini adalah berbukanya saya dari kesibukan berpuasa jiwa setahun lebih yang masih gagal dan gagal melulu itu.

berbukanya batin saya, dari puasa batin saya dan yang masih aja gagal gitu.

bagaimana batin saya tidak merasa seperti berbuka puasa coba? karena di ramadhan ini tubuh saya berpuasa, maka batin saya akan lebih terbuka. seperti tertirah sejenak tuk kemudian berpuasa lagi setahun ke depannya. urusan dunia itu bikin cape di jiwa saya deh.

sungguh loh, menjelang idul fitri tiba, biasanya saya sudah pusing lagi tuh. oleh urusan ini itu yang kembali menyibuki batin saya. bahkan menyiksanya. membuat batin itu harus kembali berpuasa di tengah jasad yang di manjakan dunia.

kebalikkah saya ini?
ga juga. dari dulu juga sudah merasa begitu.
sejak islam, jiwa saya tuh sibuk, sibuk, sibuk dan akhirnya keletihan. maka puasa, jiwa saya sejenak istirahat. bahkan secara harfiah, saya pernah suka puasa ramadhan kerena saya tidak harus memikirkan makan apa saja selama itu. hehehe.. lega terbebas dari sejenak urusan dunia gitu deh.

kemarin ini saja, saya sudah mengatakannya pada suami, kok jiwa saya letih ya. hehehe, jiwa kok letih? dan tiba-tiba merasa ada sejenak waktu tuk istirahat ya seperti dapet ventilasi gitu, bernafas kembali di ramadhan ini.
semoga bisa sejenak tetirah deh..

oya, puasa tahun lalu saya jadi marbot. berhubung di cluster saya belum ada musholla, dan rumah depan saya belum di tempati, maka rumah kosong itu di pinjami tuk tempat terawih. sebagai yang tinggal persis di depan rumah, maka saya yang setiap hari menyapu, menggelar tikar, menyiapkan sound system dsbnya. biasanya di setiap menjelang berbuka, jam 5 sore say amulai bersiap-siap. agar bisa dipakai segera setelah kita berbuka dan sholat maghrib. bahkan kalau banyak yang hadir, saya akan sibuk memasang tikar di jalan. lalu jika terawih sudah selesai saya akan berbenah kembali, melipat tikar2, mematikan lampu dan menutup pintu. tak lupa membawa kembali kotak kencleng ramadhan itu ke rumah. saya ketitipan jadi marbot deh.

dan sungguh, saya suka jadi marbot. hehehe.. πŸ˜€
bukan apa-apa. ada rasa suka cita saja ketika menggelarkan tikar itu. ada sensasi tuhan
.

manusia itu kadang inginnya selalu dilayani.
sementara saya nih sudah dilayani oleh si mbak yang rajin. dan juga sudah dilayani oleh suami yang rela sibuk dengan pekerjaannya yang setumplek. juga di layani oleh anak-anak yang sudah mau jadi anak-anak saya. maka ga papa deh, sesekali itu saya belajar melayani orang banyak.

ketika menggelar tikar, saya inget si mbak. inget betapa dia sudah cape melayani saya. ketika geser-geser sound system, saya teringat suami saya. yang suka oprek saya semua elektroniknya, dan suka saya jahilin. hanya tuk memuaskan keingintahuan saya. ketika menyalakan lampu-lampu, saya inget anak-anak saya, yang sudah rela di omelin saya, juga rela membahagiakan saya. tanpa mereka, hidup saya akan sepi kali yaa…

dan bener saja, belum lagi siap rumah itu tuk jadi mushola, sudah terdengar mofa yang teriak-teriak
– mamiiii… mofa bantu apa?
itu kalau lagi baik. kalau tidak..
– mamiii… bosen ah. setiap sore nyapu di sini..
atau yang besar, akan berkata..
– mi, mbak jadi penuh nih tarawihnya. sholatnya di depan rumah..
atau kalau lagi bete..
– mamiii.. ga terawih dong sekali, plissssssss…
maka saya akan menjawab,
– e, ini juga karena mami jadi marbot. hahaha..
jawab jujur, semata biar dia ga merasa saya terlalu memaksanya dan bahkan sedang eM pun saya tetap bebenah musholanya. seru aja.. saya menikmatinya.

begitulah..

puasa
ketika raga bak dipenjara
jiwa mereguk merdeka
sebaliknya
ketika raga merdeka
jiwa malah bak terpenjara

tidak ada yang salah
semua memang tuk membina
agar jiwa dan raga utuh terasa
puasanya dan berbukanya
menjadi satu bermakna

sungguh, akhir-akhir ini saya suka merasa begitu keletihan. seolah berjalan di padang gersang bernama kehidupan tuk mencapai oase bernama ramadhan. akan sampaikah saya kepadanya, padahal dia sudah di depan mata?

terimakasih tuk semua di sini yang sudi menemani saya meniti diri dari hari ke hari selama ini.

semoga oase itu nanti benar-benar memberi kedamaian yaa. buat semua insan tak terkecuali siapapun dia. semoga bukan malah dijadikan alasan tuk membesarkan tuhan dalam kepicikan jiwa mereka yang tidak benar-benar terbina. padahal Dia selalu mengajari dan membina kita lewat banyak kejadian dan pengalaman di setiap saat, tanpa terkecuali.

maaf kalau saya salah..

salam
anis

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

kesurupan

Posted on Agustus 3, 2008. Filed under: Islamisasi |

(apa sih ini?)

suatu ketika si mbak pernah datang pada saya, dengan nafas terengah-engah. hari masih pagi, anak-anak baru berangkat ke sekolah, saya masih asyik di depan komputer.
katanya, bu.. kemarin mbak ima – pembantu tetangga yang lain- : kesurupan!
kebetulan majikannya sedang pergi, jadi mbak ima sendirian. trus kesurupan sampai satpam dan ibu bandung (julukan tuk salah seorang tetangga dari bandung) datang menolong. mbak ima teriak-teriak minta kopi dan air putih banyak sekali. duh bu, saya tadinya tidak percaya. jadi apa sih kesurupan itu?

saya sudah menjelaskannya pada si mbak dnegan kapasitas otaknya, saya coba juga bagi di sini ya. dalam kapasitas saya yang terbatas.

seperti saya bilang, setan dan malaikat itu ada dalam diri kita masing-masing. bagi saya itu perlambang dari sisi baik dan sisi buruk kita. sehingga kalau kita bertemu, maka setan-setan dan malaikat-malaikat kita masing-masing ini juga bertemu. πŸ˜€

potensi ini di masing-masing kita berbeda tergantung tingkat pemahaman kita, keyakinan kita juga pengendalian kita. bahasa agamanya, tergantung tingkat hubungan kita sama tuhan.

sehingga, kalau kita berpikir setan itu berwujud, maka mewujudlah dia. ini kekuatan pikiran. dan ini tergantung dengan tingkat kecerdasan dan budaya setempat. sebaliknya juga, pada rasa malaikat itu. kalau kita berpikir dia berwujud ya mewujudlah dia.

kalau saya sih cenderung berpikir bahwa itu hanya refleksi saja. ada manusia-manusia tertentu yang dalam banyak hal lebih mampu merefleksikan kebaikan, maka bak malaikatlah dia. sebaliknya banyak juga manusia yang selalu lupa dan mengikuti nafsu sehingga hanya bisa merefleksikan keburukan dalam dirinya, maka bak iblislah dia dalam kehidupan ini. jadi setan dan malaikat ini nyata.

lantas bagaimana dengan kesurupan?

rasa was-was dan cemas itu bisa memicu alam pikiran kita berkembang menjadi membayangkan yang tidak-tidak. nah, kalau ini terus menerus dan menguat, maka ini akan lost atau lepas.
saya pikir wajar kok, kalau lewat kuburan atau mendengar suara-suara aneh maka bulu kuduk kita meremang. kita sendiri telah hidup di masa dan lingkungan yang mana persepsi seperti itu sudah lama dibiasakan. lingkungan turut mengkondisikan kita.

jadi ketika pikiran terus menerus melayang-layang, hati kosong, rasa meremang, ya menguatlah ekspresi aneh atau istilahnya kemasukan itu. bahkan bisa saling mengena satu sama lain atau masal, yang juga sama-sama mengalami kekosongan pikiran dan meremang demikian.

dalam banyak fenomena, hal ini melahirkan kesurupan. tapi jangan salah loh, di beberapa kasus malah melahirkan semacam tindak psikopat, bunuh diri, dst-dstnya. pikiran buruk menguat dan merusak citra diri. apalagi jika ditambah dengan sugesti dari pengalaman nyata atau eksternal, makin jadilah.

kyai pernah berkata pada saya, jangan dibawa pikirannya kesana. maknai lebih dalam. saya juga dilarang ikutan rukiyat (?) masal gitu. yang katanya untuk mengusir setan dan jin, sempat trend deh.

saya ya langsung ngeh. itu masalah kekuatan pikiran. kalau kita dikondisikan demikian, maka menjadilah kita demikian. karenanya kita hanya perlu menjadi diri sendiri dan terus konsentrasi pada apa yang kita yakini. kita menjadi sebagaimana keyakinan kita.

ya iyalahhh.. saya jadi islam karena keyakinan saya kan? bener tidaknya islam saya juga tergantung sejauh mana keyakinan saya. ini ukurannya bukan pada dalil-dalil saya, tapi pada ekspresi yang saya lahirkan. dan waktu akan menceritakan dan membuktikan kedalaman ekspresi berislam saya itu.

lah, bagaimana dengan kawat yang tumbuh dari tubuh ibu-ibu itu?

sekali lagi, saya sih kembalikan semua pada tuhan. semua dariNya dan kembali padaNya.

saya ga mau masuk dalam alam pikiran bahwa itu guna-guna dsbnya. saya akui itu tidak biasa, cermin ada orang yang tidak suka padanya, atau dendam dsbnya. tapi itu tentu tidak akan terjadi kalau kita sendiri tidak membenarkannya asal-asalan. selama kebencian itu tidak terbukti secara nyata, ya sudahlah.

mari bersabar dan tawakal dalam berinteraksi dengan sesama. berakhlaq yang baik tuk meminimalis kerumitan dalam pergaulan.

hentikan potensi pikiran buruk itu dalam diri kita, kembalikan lagi semua rasa dalam hidup ini pada tuhan.

suatu ketika, teman sekantor suami saya pernah mengalami hal-hal aneh. westafel rumahnya bisa jatuh dengan sendirinya, istrinya sakit muntah-muntah darah tanpa sebab dan tiba-tiba di lemari banyak belalang. teman itu sendiri sampai beberapa kali kecelakaan dstnya. konon, setelah ditanya, katanya itu kiriman. ada yang sentimen dan tidak ingin beliau dapat promosi di departemen itu.
saya cuma bisa mbatin, hari geneeh?? masa’ sentimen karir pake mistik sih? mbok pake nalar deh berlomba saling berprestasi. itu lebih ajeg dan lebih berkelas. ini menurut saya πŸ™‚

hmm, hidup memang pasti ada yang suka dan ada yang ga suka.

maka sudahlah, kembalikan lagi pada tuhan. tidak terjadi jika tidak tuhan kehendaki. dan terjadi bila tuhan yang mengkehendaki. itu saja. saya tipe yang ga mau mengada-ngada. resiko begituan bukan resiko saya, jadi saya juga tidak akan dimintai pertnggungjawaban dari apa yang diperbuat oleh orang lain. maknai saja, kalau saya memang belum berhak atas karir dan saya harus lebih kerja dengan keras demi prestasi yang lebih baik. itu saja.

kejahatan tidak harus dibalas lagi dengan kejahatan.

tuhan akan menjaga siapa saja yang menjaga Dia.
dan saya yakin tuhan tidak tidur.
mereka mungkin bisa mengelabui saya
tapi mereka tidak akan pernah bisa mengelabui tuhan saya.

jadi..
saya nih lebih banyak sibuk mengendalikan diri saya sendiri deh
hidup saya menjadi seperti sibuk di luar dan sibuk di dalam
saya ingin bisa banyak berkarya tuk sesama dan indonesia
dalam sibuk di dalam dan di luar ini, hehehe πŸ˜€

mari balance saja antara hati dan pikiran
kita juga tidak bisa menghindar jika tuhan menghendaki terjadi pada kita. kembalikan sajalah hidup ini pada sang empunya hidup ini sendiri
Dia kuasa atas segala sesuatu
dan Dia meliputi segala sesuatu

jangan pula terlalu berlebihan rasa percaya diri
toh, kita tetap manusia yang bisa lupa. maka semoga kalau lupa kita ingat tuk kembali berserah padaNya. sesungguhnya kita lemah dan kekuatan kita selama ini hanya dariNya
mari seimbangkan lagi diri lahir dan batin, jasmani dan rohani

bacaan-bacaan atau ayat yang diyakini bisa mengusir gangguan demikian, sesungguhnya hanya seperti sugesti. semua kembali pada sejauh mana kekuatan dari keyakinan kita. tapi ayat-ayat itu memang bisa membantu mengembalikan konsentrasi kita pada tuhan. atau di sebagian orang malah diucapkan disetiap awal hari beberapa kali. ya sekali lagi, itu demi membiasakan berkonsentrasi pada rasa bahwa tuhan itu ada

ini hanya seperti tips dari saya.
saya sendiri tidak tahu
karena hanya Dia yang maha tahu

maka siapa sih manusia itu?
kalau ternyata dia hanyalah makhlukNya yang begitu lemah
yang jika tanpa Tuhan berkenan ada didalam hatinya
hanya kehancuran demi kehancuranlah hidupnya
baik bagi diri sendiri maupun bagi banyak sesamanya

tuhan..
engkau yang tidak pernah tidur
engkau yang tidak pernah lengah
kuserahkan jiwa dan ragaku padamu

hidupku
matiku
tidurku
terjagaku
untukmu

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

punggung

Posted on Juli 14, 2008. Filed under: Islamisasi |

(jujur yaa, ini tentang eksplorasi sisi kewanitaan saya..)

saya pernah agak takut setiap membaca buku islam ttg wanita, terutama yang berbau timur tengah. saya pernah sangat serba salah karenanya.

saya tahu dan sangat tahu… kalau jadi wanita itu ya maunya jadi wanita baik-baik.
tapi sebaik apa??
tolong beri waktu tuk saya temukan sebaik apa yang saya mampu.
bukan melulu harus ini dan harus itu. kesadaran tuk menjadi anak baik, orang baik, warga negara yang baik juga wanita yang baik, itu sudah ada dalam benak saya sejak kecil. tapi tentu baik dalam kapasitas saya, dalam sebaik-baik pengenalan diri saya sendiri. ya ga??

nah, di awal keislaman dulu, teori baik itu pernah sangat dijejali di pikiran saya. oke.. saya ikuti dan lakukan. tapi saya kesulitan sendiri.

sederhana, saya pernah ikuti pengajian ttg munakahat (pernikahan). salah satunya ttg larang tuk menolak suami dan memunggungi suami, yang akan dilaknat oleh malaikat sampai pagi harinya.
hehehe, entah saya nih iseng.. entah saya nih polos. entah saya nih harfiah.., di awal pernikahan saya mengamalkannya..

aduh, pegel punggung saya kalau harus tidur dengan terus menghadap suami..

jujur, saya nih kalau tidur tuh suka dusel-dusel dan bolak-balik sampai saya merasa dapat posisi yang enak. baru deh, zzzzzzzz… saya tertidur. ini kebiasaan.
selama posisi itu belum saya dapat, saya akan terus walau sangat perlahan, mencari rasa yang enak tuk tidur.

maka kebayangkan..
betapa ga enaknya saya kalau harus tidur dengan “berbaik-baik” pada suami. (dibaca: teus menghadap suami). belum lagi, suami biasa sudah lebih dulu tertidur dari saya.
hehehe, maka saya merasa aneh deh dengan anjuran itu.

bahkan disuatu rasa kesal, saya ingin deh bilang ke malaikat..
– gimana kalau saya punggungi suami dan lihat mas malaikat saja??
mas malaikat pasti beristighfar yaa.. hahaha πŸ˜€

maka, saya pikir…
sebagai wanita, kita harus mau selalu menselaraskan kata dengan suami, agar dia mengerti dan tidak salah paham. sehingga kalaupun di punggungi itu bukan berarti salah, selama dia mengerti, tidak apa-apa toh??

rasa salah itu ya akan lahir ketika kita memunggungi suami dengan penuh rasa buruk ttg suami. maka rasa salah itu lahir dari jiwa kita, yang sesungguhnya sebagai wanita, jelas inginnya selalu baik dan bakti pada suami. itulah “makna dari memunggui”.. menurut saya.

jadi…
saya lebih setuju, jika kesadaran tuk menjadi baik dan berbakti pada suami itulah yang harus lebih dulu di kedepankan, dari apa dan bagaimana bentuknya. karena apa dan bagaimana bentuknya, kita akan mensepakatinya antara diri kita dan suami.

sebut saja..
dulu.. seorang bercerita pada saya, kalau dia bingung. sejak menikah, dia malah disuruh oleh suaminya tuk berlipstik yang menor – menurutnya. katanya, suaminya suka dia begitu. menurut saya ya sepakati saja. kalau dia merasa ga suka menor setiap saat, ya menornya kalau pas ada suami saja. atau minta sedikit lebih soft aja kali yaa warna lipstiknya kalau ketika bersama orang lain.

kita ini manusia, yang ditakdirkan tuk membuat banyak kesepakatan dalam hidup, ya manfaatkanlah itu. ya ga? hehehe..

berbeda dengan saya. malah ibu mertua dan tetangga yang dulu sempat ribut agar saya mau sedikit berdandan, biar ga kaya mahasiswa saja. saya kenal dandan di usia 30tahun! sebelumnya saya hanya kenal kosmetik tuk perawatan saja. saya cenderung malas dan suamipun cenderung ga suka saya macam-macam. ya sudah.. pada akhirnya ya saya dan suami tahu diri deh, sedikit polesan saja tuk agar ga pucet dan menempatkan diri pada tempatnya saja.

maka, satu deh.
jadikan keinginan menjadi baik itu yang utama.
bahwa bentuknya akan bagaimana, mari kita sesuaikan dengan diri kita dan keadaan kita, juga kemampuan kita. kalau ini bisa kita lakukan, maka kita bisa memahami orang lain, sebagaimana kita memahami diri kita sendiri. bahwa kita ini memang memiliki kapasitasnya masing-masing..

e, ini dalam konteks kebaikan loh.
karena dalam kebaikan, banyak hal yang sama antara masing-masing kita sebagai manusia. justru ketika kita memaksakan kehendak, kita telah berlaku tidak baik..

siapa yang tidak ingin menjadi wanita baik-baik?
siapa yang tidak ingin memiliki wanita baik-baik?
tapi menjadi baik?
yang terbiasa baik?
tidakkah itu lebih utama jika dibangun dari kesadaran yang terbaik?
agar baiklah semua-semuanya??

yukk, menjadi wanita baik-baik dalam kapasitas kita, dan terus semakin baik karenanya..

salambaik-baik,
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 10 so far )

dan maka saya jarang mengaji….

Posted on Mei 13, 2008. Filed under: Islamisasi |

(sejujurnya, saya ini jarang ikut pengajian. saya letih sekali dengan segala pengajian yang berbau dogma. tapi demi silaturahmi dengan lingkungan sekitar, akhirnya saya ikut pengajian yang sudah 2 bulan ini saya absen. konon ustadnya baru dua kali datang di lingkungan kami. dia dari sebuah pesantren yatim piatu di belakang kompleks rumah saya..
ehmm, ada sedikit yang menarik darinya.. mau tahu??)

materi hari itu tentang niat.
ustad yang lulusan fiqih, menceritakan betapa kita itu suka beramal tapi tidak suka memperbaharui niat kita. kemudian dia bercerita bedanya niat dalam ibadah dan adat istiadat.
seperti minum air, itu biasa dan adat kita ya minum saja. tentu akan berbeda nilainya jika di sertai sebuah niat. meski itu hanya niat, -ya Allah.. semoga air ini menyehatkanku-. begitu katanya..

maka saya pun bertanya padanya,
– ustad, kemarin saya menonton acara oasis di metro tv. ttg kebiasaan adat di pulau lombok dalam merayakan maulid nabi. mereka itu suka cita menyambut hari lahir nabi, junjungannya. acaranya dengan makan bersama, menari dan berdoa bersama. bagaimana dengan itu? toh niatnya, bersyukur tuk nabinya. apakah itu salah? pertanyaan ini mengingat banyaknya kebiasaan membid’ahkan dari sebagian muslim kepada banyak adat istiadat di nusantara..

lalu seorang ibu juga bertanya, ttg tahlilan. niatnya juga kan hanya meperbanyak doa tuk yang wafat. apakah itu salah dan bid’ah terkait dengan niat dan adat itu tadi?

jawabannya cukup sejuk.
ibu… kalau soal bid’ah, kita baca qur’an di kertas itu juga bid’ah. karena Rasul dulu belum ada wur’an lembaran gitu. naik mobil juga bid’ah, karena Rasul dulu naik unta. tidak ada saya baca kebiasaan membid’ahkan dari Rasulullah..
tradisi, selama tidak menyalahi islam, tidak dijadikan syirik (dituhankan), dan kembali pada niat tuk Allah dan kebaikan.. itu boleh, bu. yang salah, jika sudahkah tidak mampu, dipaksa tahlilan. sudahkah tidak mampu, di paksa melarung kepala kerbau pula. utamakan yang lebih manfaat saja bu..

kemudian, ustad itu mengajak ibu-ibu tuk memperbaharui niatan dalam berumahtangga. karena katanya, dalam islam, derajat ibu-ibu justru diangkat dalam pernikahan itu. itu perjanjian yang mulia antara seorang hamba dengan Allah -tuhannya, tuk menikahi seorang wanita..

maka saya pun kembali bertanya..
– ustad, kalau memang islam memuliakan wanita dengan pernikahan, mengapa angka kasus KDRT itu tinggi?

dan ustad itu menjawab, itulah bu. saya ingin mengajak kita semua sejalan dengan islam. saya juga mengamati persoalan kemasyrakatan di sekitar kita. memang sangat memprihatinkan. maka sebagai penceramah agama, saya ingin mengajak kita semua sungguh-sungguh kembali memperbaiki niatan dan amalan, agar hidup kita kembali berkualitas.. ajak bapak-bapak mengaji atau berbagilah ilmu dari ibu-ibu yang rajin mengaji semua di sini..
mengamati kenyataan di sekitar itu juga iqra’ loh, bu.
juga membaca dan merenungi. toh jibril ketika pertama menyuruh Muhammad iqra’ itu, tidak ada qur’an di depannya. Allah meminta rasulullah merenungi kenyataan hidup saat itu dan memikirkannya baik-baik..

kemudian ustad menambahkan,
sebagai ustad, saya juga sangat mengkhawatirkan negeri kita bu. bangsa kita telah tidak mampu memperbaiki negeri ini, meski hanya dari sekedar niatan. niat itu, walau mungkin tidak terlaksana, sudah di terima sebagai sebuah amalan yang baik. tentu beda niat dan angan-angan, kalau angan-angan itu jelas di dalam hati tidak ada kesungguhan. hanya bualan kosong. sementara niat, itu pasti disertai kesungguhan, meski masih sebatas doa dan selemah-lemahnya iman..
mari kita niatkan dan bangun cita-cita tuk negeri kita, bu..

aha.. maka saya pun kembali bertanya..
– ustad.. kalau memang boleh bermimpi dan berniat tuk negeri ini, boleh saya tahu apa mimpi ustad tuk indonesia? tuk islam yang rahmatan lil alamin itu? yang seperti apa dan yang bagaimana?

ustad itu menarik nafas dan berusaha menjawab..
sederhanakan saja ya, bu.. seperti lalu lintas di jalan raya saja. hidup itu ada lampu merahnya, lampu kuningnya dan lampu hijaunya. ada yang boleh ada tidak, ada yang haram ada yang halal. kalau kita ikuti aturan main dengan baik, tentu selamat bu. lalu sebagai orang yang naik mobil, kita harus menghormati yang jalan kaki. dan sebagai yang jalan kaki kita harus menghormati yang duduk, dstnya. maka ada punten, ada permisi, ada kulonnuwun.. sampai seperti itu loh islam mengajari kita bu…
tentu itu untuk semua ibu-ibu yang hadir..

ehmm, ok juga nih.. πŸ˜‰

perhatikan, hal yang menarik dari ustad itu..
terutama di bagian ketika dia berkata ini, ttg iqra’ dan ttg dirinya sebagai ustad, yang tetap harus membaca keadaan sekitar dan mengajari islam yang mampu menjawab tantangan yang ada dan bukan hanya sekedar memberi angan-angan kosong ttg islam…

hehehe, maka saya ini jarang mengaji..
saya sudah letih dengan pengajian yang hanya berupa dogam dan tidak menjawab realitas kita. buat saya, jujur.. buat apa mengaji jika itu hanya memberi angan-angan kosong? ttg islam yang mulia tapi jauh dari kenyataan kita? menyuruh ini itu yang hanya menjauhkan kita dari akar budaya kita? buat apa mengaji jika itu hanya menserabut kita dari akar jiwa kita?

maka saya jarang mengaji..
tapi tuk ustad yang satu ini, saya mau berbagi..
sebagaimana dia mau tuk kritis, maka saya akan bertanya lebih kritis lagi..
sebagaimana dia ingin kebaikan, maka sayapun setuju dengan kebaikan yang ditebarkannya..
walau tentu dia tetap berusaha menggunakan dalil-dalil yang diperlukan.. πŸ˜‰
dan sementara ada sekelompok ibu-ibu yang hanya mau mendengarkan saja, dan dengan kesungguhan penuh ketekunan tuk juga terus mempelajari islam.

maka kalau anda seorang ustad..,
apakah anda akan membohongi ketulusan niat suci pendengar anda yang ingin berislam dengan benar?
atau anda hanya menginginkan sesuatu dari mereka?
baik dari materi sampai berupa dukungan dan kekaguman?

ah, maaf jika saya bersikap kurang ajar dengan bertanya demikian di sini..
saya nih ya sudah sangat letih mendengarkan dogma-dogma agama..

selamat berceramah..
dan bukankah tuhan tidak tidur? πŸ™‚

anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 12 so far )

terpuruk

Posted on Januari 11, 2008. Filed under: Islamisasi |

masih menyoal cinta..

Dulu, ketika berada diantara orang-orang yang selalu mengatas namakan Allah untuk jihad fi sabilillah, saya memang sangat tidak mengenali diri sendiri deh.
Mereka selalu berkata, kita harus berlemah lembut pada orang beriman dan bersikap tegas dan keras pada orang kafir. Bahkan ada yang menyebut saya yang mualaf ini dengan “yatim piatu dalam islam”. Hubungan saya dengan ortu yang kafir itu sudah tidak dihisab lagi, begitu katanya.
Sepintas memang bermaksud agar saya kuat menghadapi ortu, yang saat itu keras melawan keislaman saya. Tapi sejujurnya, saya tega ga tega bersikap begitu.
Tapi karena itu selalu dikondisikan atas nama islam, saya pun berpikir memang demikianlah islam..

Suatu saat, ketika saya pernah terlibat pertengkaran soal agama dengan ortu, saya sampai bisa beranggapan mereka itu sudah mati, saya menyebutkan apa yang sering saya dengar, bahwa saya ini “yatim piatu dalam islam”.
Ortu saya jelas merasa terhina sekali. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 20 so far )

stob arabisasi

Posted on Januari 6, 2008. Filed under: Islamisasi |

Hehe, judulnya mengundang kontroversi ya??
Yuk, ikuti jejak saya menelusuri pemikiran tentang ini..

Manusia secara naluriah, berusaha menangkap suara-suara alam
tempatnya hidup. Berusaha menangkap desiran anginnya, gemuruh ombaknya, gelegar
halilintarnya,
tetesan airnya, gemerisik pepohonannya, gemerincing gerabahnya,
kicau paginya dan juga senyap malamnya.. dst

Maka kemudian lahirlah budaya lokal, dimana manusia itu hidup..
Allah menciptakan bumi ini, memiliki dataran yang terbentang dengan
iklim-iklim tertentu..
ada yang dinginnya sepanjang hari, dan ada yang panasnya sepanjang
tahun.
ada yang hujannya merata, ada yang saljunya dimana-mana dst..
sebuah bentangan yang luar biasa, bukti maha karya penciptaanNya..
Ini adalah kemutlakan Allah sang Maha Pencipta, yang menciptakan
buminya demikian..
Haruskah ini dikhianati? (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 16 so far )

manusia itu korban tuhan

Posted on Desember 28, 2007. Filed under: Islamisasi |

Ini adalah diskusi terhadap e-mail dari kawannya, ada di bagian bawah:

Kawan..,
saya orang yang pernah pindah agama..
tau ga.., dari katolik ke Islam itu dulu terasa cuma kaya ganti baju
aja..
ganti cover..
intinya tetap saja seperti yang kawan tulis..
manusia itu menjadi “korban” tuhan..
waktu saya sempet berpikir, apa-apain nih?
udah berkorban terlalu banyak, tapi cuma untuk seperti “ganti
baju”ini ??
useless.. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 15 so far )

di rumah tuhan yang kubahnya terbalik

Posted on Desember 26, 2007. Filed under: Islamisasi |

Pagi cerah, sahabat berangkat sekolah seperti biasa. Sesampai disana, seorang guru agama Islam menyambutnya dengan airmata. Sahabat bertanya-tanya, ada apa?

Dia menangis ditemani seorang wakil kepala sekolah yang wanita, terharu dan bertanya mengapa sahabat memilih Islam. Setelah memahami, dia berpesan untuk sahabat kuat, karena dalam tes kelulusan sekolah, jika nilai agama merah maka resikonya adalah tidak lulus. Wakil kepala sekolah, berniat untuk melindungi nilai agama sahabat dari angka merah, sekalipun terdapat intimidasi dari pihak agama sebelumnya.

Semua akan direkayasa. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 25 so far )

tuhan dalam hening (re write)

Posted on Desember 26, 2007. Filed under: Islamisasi |

This is a re write, by request of the original writer:

Ketika melihat sahabatnya tidak menemukan Tuhan di rumah ibadah berlonceng itu, maka dia mengajaknya ke rumah ibadahnya yang sederhana dan khas berbau dupa.

Diminta sahabatnya duduk tenang di sebuah alas duduk berbentuk bundar, lalu pejamkan mata dan telapak tangan saling bertemu di depan dada.

Lalu sayup-sayup terdengar doa-doa dalam bahasa yang tidak akrab di telinga.

Dia berbisik pada sahabatnya, β€œTuhan ada dalam hening”

Tung!..Tuhan ada dalam hening.. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 5 so far )

mengapa islam pluralis

Posted on Desember 23, 2007. Filed under: Islamisasi |

Justru.. JUSTRU loh, saya pluralis karena saya Islam..

di Katolik tidak ada pluralisme,
dalam banyak hal malah bertentangan dengan protestan.
makanya waktu saya masuk Islam, teman-teman yang protestan
berlomba-lomba menawarkan ‘produk’nya..karena tahu saya dari katolik.
dan maaf, pluralisme ini juga ditentang oleh banyak agama, ga cuma
Islam. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 33 so far )

« Entri Sebelumnya

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...