kisah menuju cahaya

masih bunga

Posted on Juli 16, 2008. Filed under: kisah menuju cahaya |

(inget tentang wanita dan bunga yang pernah saya tulis dulu?.. masih ada satu bunga yang belum saya tulis nihh..)

** tuk semua saudara-saudara saya tercinta, siapapun dan bagaimanapun anda. izinkan saya mengucapkan ini sebagai pengantar tuk kisah di tulisan ini..

dalam apapun keyakinan kita, mari kita sama-sama berjuang dan tetap teguh dengan apa yang kita yakini. karena nilai diri kita tidak ditentukan oleh apa dan bagaimana keyakinan itu, tapi oleh sejauh mana kita bisa memperjuangkannya dan menjadi baik karenanya… izinkan hidup berwarna-warni karenanya

***

dulu, ketika melihat ibu saya berprahara dalam kehidupannya, saya tidak tahan juga. maka ibu saya menenangkan saya, katanya gini..
– di dataran tinggi cina, konon ada bunga namanya mei hwa. ini seperti sakura tapi semak. dia hanya kembang di musim yang dingin dan bahkan mekarnya di saat-saat terdingin suhu sekitarnya. dia langka dan jarang bisa ditemui, tapi sangat indah dan halus..
– emang mama pernah lihat?
– nonnn.. ini pelajaran filosofi. bukan soal ada atau tidak ada, ini soal apa yang bisa diambil hikmah daripadanya..
– ok, ok.. jadi? hehehe..
– jadi… kita hidup harus punya tekad. punya keinginan kuat dan punya keyakinan yang baja. tanpa itu kita tidak akan bisa melewati masa terberatnya dari hidup kita. hidup pasti punya cobaannya.
– jadi?
– jadi… apa yang menjadi keputusan mama tidak harus membuat anis sedih. mama akan menanggung semua resiko keputusan mama. sebagaimana anis harus berani menanggung semua resiko dari keputusan anis..
– sekalipun mama sengasara nih??
– sekalipun demikian di mata anis
– maksudnya?
– buat mama ini bukan kesengsaraan, ini pembuktian diri..
– apa yang mau mama buktikan dari rumah tangga yang seperti berantakan ini?
– mama ingin buktikan kalau mama wanita yang baik buat papa.
– hah?? segitunyakah?
– sekalipun hanya segitu..
huahhhh…!!

maaf ya, menurut saya ibu saya sangat emosi. keputusannya mempertahankan rumah tangga yang waktu itu sudah bagai diujung tanduk seperti buah simalakama. pahit.. e, saya belum pernah lihat buah simalakama loh, hehehe..
saya sendiri sebagai anaknya saja sudah nyerah deh waktu itu, saya ga tega melihat keadaan ibu dan ayah saya. saya pikir pisah akan memerdekakan mereka dari pikiran mereka itu. tapi mereka bertahan..

dan resikonya….

ternyata… -saya sendiri tidak menyangka- bertahannya mereka membuat saya yang pergi. saya “pergi” dibaca: masuk islam.
semahal itukah pengorbanan mereka? berkorban untuk siapa? saya pergi mencari kedamaian tuk jiwa saya.. di usia yang sangat dini, saya hanya menyakini, saya ingin menjadi lebih baik dengan pilihan saya, sebagaimana pilihan ibu saya..

dan saya??

saya harus menjadi bak bunga mei hwa di dingin terdingin musim dingin yang pernah ada dalam hidup saya. saya harus bertahan dari apa-apa yang sudah saya putuskan. nilai diri saya tidak pada apa yang saya capai, tapi ada pada apa yang saya perjuangkan..

saya adalah perjuangan saya itu sendiri..

saya menulis ini dengan sedikit air mata nih..
saya diuji dengan apa-apa yang saya yakini..
tidak lebih dan tidak kurang dari itu..

dan saya takjub pada perumpamaan dari ibu saya itu. karena ketika saya bertahan di dingin terdingin itu, saya justru merasa hangat. entah hangat oleh air mata saya sendiri, entah memang ada yang hangat yang lahir dari dalam jiwa saya..

saya jadi mengerti..
mengapa siang dan malam di pergilirkan
mengapa air di perjalankan
mengapa hidup diadakan

saya mengerti Dia hanya ingin buktikan kalau Dialah yang terbaik tuk kita
sebagaimana ibu saya ingin buktikan kalau beliaulah terbaik tuk ayah saya
terbaikkah saya tuk hidup saya?

hehehe… setidaknya saya menjadi baik sebagaimana tekad saya ketika melangkah masuk islam..
walau saya masih segini hari ini, setidaknya saya ingin dan terus ingin menjadi baik dalam pilihan saya..

karena telah saya lewati dingin terdinginnya
hanya butuh satu lagi langkah tuk saya kerjakan
kebaikan dari yang terbaik yang sudah saya dapatkan

ibu saya meninggal di stroke keduanya, sehabis bertengkar dengan ayah saya. saya miris mendengarnya. karena ketika saya bertemu, beliau sudah koma, saya hanya mendengar ceritanya saja.
apakah tekad itu begitu mahal sehingga harus dijawab dengan kematian?

seorang teman mama saya bilang begini
– anis… anislah yang terbaik yang dimiliki mama.. meski anis masuk islam, semua tetap tahu itu.
aaarghhhh… ingin deh saya ulangi hidup, agar tidak begini..
e, teman mama itu bilang lagi..
– hidup ga mungkin diulang mundur, justru menjadi baiknya anis karena ini.. ya kan?

***

tuhan..
tuk wanita yang Kau titipkan aku dalam rahimnya
tuk wanita yang Kau titipkan aku dalam pengasuhannya
aku mungkin tidak pernah mengerti mengapa Kau mengujinya begitu berat
tapi aku tahu, kalau Kau besarkan aku dalam setiap ujian yang dilaluinya
untuknyakah semua ujian itu?
kalau ternyata aku temui semua ujiannya itu justru untukku belajar tentangMu?

tuhan..
sesungguhnya di mata hatiku
ibuku adalah wajahMu
yang Kau tunjukkan untukku
aku menghafal gurat wajahnya
sebagaimana aku hafal semua tentangMu

tuhan..
maka hanya terimakasih dariku untukMu
untuk semua yang tidak hanya ibuku
yang sudah Kau tampakkan padaku
dan didikku dengannya

sakitku dan lukaku karenanya
hanya sementara
karena sembuhnya adalah aku yang baru
aku yang selalu baru
baru dan lagi-lagi baru

tuhan
terimakasih
tuk datang di dingin terdingin
dari dinginnya hidupku
dan hangatkanku

karena bukankah hangat tak datang jika tidak ada dingin?
dan tentu.. bukan pencerahan namanya jika tidak ada gelap sebelumnya.. ya ga?

salamhangat
anis

ps. ternyata kata anak saya… bunga mei hwa itu ada.. dia tau dari majalah BOBO. kalau sakura bhs inggrisnya cherry blossom, mei hwa ini bhs inggrisnya peach blossom. sakura warnanya pink, mei hwa warnanya putih. ibu saya pernah bilang gini sih, bunga itu dengan salju tuh ya sudah sama aja. seperti satu putihnya.. tapi salju mah salju, itu mah bunga. hehehe… thx, mbak adhin.. 🙂

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 1 so far )

doa

Posted on Juli 15, 2008. Filed under: kisah menuju cahaya |

(dibagi yaa..)

saya pernah bertandang ke rumah seorang -sebut saja- kyai..
karena beliau sangat baik tak seperti kyai pada umumnya. beliau lebih seperti bapak buat saya.
beliau juga mengenakan pakaian yang baik seperti tuan rumah yang bersahaja tuk tamunya.. padahal saya bukan siapa-siapa dan apa-apa dibanding dengannya.

selain itu, beliau juga seorang pengusaha.. banyak yang hidup dari beliau deh.. -ini dalam kacamata dunia kita- karena sesungguhnya beliau meciptakan sistem yang para santri itu sendirilah yang menciptakan hidup tuk diri mereka sendiri. kyai hanya fasilitator..

nah, setelah cukup lama saya mendapat banyak cerita dari beliau, karena wejangan tidak ada dalam bentuk kata-kata khusus ataupun ayat, maka saya berkata begini..
– mang, doain saya yaa..
e, jawabnya..
– bukannya dari tadi kita sudah berdoa nis??

hehehe, beliau membuat saya tersenyum, geli dan malu sendiri.

yup, apa sih doa itu?
serangkaian kata-kata penuh permohonan?
bukankah dari melek hingga merem lagi kita tengah selalu memohon??
saya menyadari kalau dari merem sampai merem saya lagi tuh isinya hanya permohonan demi permohonan. saya sudah kehabisan kata tuk memohon, saya telah kehabisan waktu tuk meminta. rasanya semua gerak dan nafs saya adalah permohonan itu sendiri. tuhan tahu keinginan saya lebih dari diri saya sendiri, tuhan juga paham harapan saya lebih dari diri saya sendiri.

saya adalah doa-doa saya itu..

sungguh loh, ketika sholat saya tidak berpikir tuk memohon. saya hanya ingin hadirkan saja rasa tentangNya. sesudah itu saya hanya ingin Dia selalu ada dalam hidup saya. sudah..
saya tidak bisa lama-lama berdoa..
saya telah kehabisan banyak kata tuk doa yang biasa itu..

entah karena saya telah letih meminta
entah karena saya telah terlalu sering memohon
entah karena saya telah begitu menyatu dengan semua asa saya
saya ga tahu..

ketika saya menengadahkan tangan saya tuk berdoa
saya suka merasa..
aku malu padaMu, Tuhan
tangan ini masih saja selalu di bawah
jadikan dia di atas
agar padaMupun aku bisa memberi..

hehehe aneh ya saya??
sungguh, saya ingin memberi pada tuhan
walau saya tahu tuhan tidak butuh
tapi saya ingin memberi padaNya
bahkan kalau perlu beri seluruh jiwa dan raga ini..

sungguh, saya malu karena telah banyak meminta
tapi sangat sedikit yang bisa saya bagi
maka ketika saya bisa berbuat baik walau sedikit
rasanya saya ingin berlari ke pelukan tuhan
ingin bilang,
aku bisa tuhan..
aku bisa berbagi denganMu..
aku bisa tak hanya meminta padaMu
aku bisa..

hehehe, lucu yaa?
saya ga tahu kapan saya mulai begitu..
yang pasti, saya pernah hanya berdoa dan berdoa
sampai menghafal banyak doa-doa di buku praktis itu
dan sungguh, tak satupun yang lekat di benak saya

sampai suatu ketika saya seperti terdiam dari doa
terdiam yang teramat panjang
dan tiba-tiba menjelma menjadi doa itu sendiri
maka ketika kyai berkata begitu, saya tersenyum..
kok kyai tahu yaa?? hehehe..

tuhan, Kau tahu aku
sebagaimana aku tahu Engkau
haruskah aku nyatakan semua inginku?
karena bukankah Engkau ada dalam setiap nafasku?
haruskah pula aku sembunyikan hasratku?
karena bukankah Engaku ada dalam setiap rasaku?
izinkah aku memberi padaMu
dengan pemberian terbaikku
sebagai rasa syukurku
atas semua tentangku dan tentangMu
itu bahagiaku..
dan pasti Kau tahu itu…

***

disuatu arisan sore hari
banyak muslimah dan hanya dua yang berbeda
ibu ketua itu meminta kita berdoa tutup majelis
katanya itu penuh berkah dan itu di contohkan
walau dia bilang silakan yang berbeda berdoa sendiri
saya merasa ada yang jengah dan tidak biasa
maka saya bilang pada temen sebelah
saya tidak hafal doa akhir majelis
teman sebelah tertawa mengaku juga tak bisa
teman yang berbeda jadi tertawa
katanya jangan bikin malu ah
hafalkan cuma pendek kok
tapi dia tertawa dan terlihat lega
cair ketegangannya sebagai yang sedikit di ruang itu
sementara yang sama dan bisa malah melotot
anis hafalkan! itu wajib dan mudah kok
saya tertawa dan oke-oke saja
dalam hati, saya sudah berdoa
bahkan dari awal hingga akhirnya
bahkan nantinya
kalau saja disadarinya

doa
mengapa di tunggu kabulnya?
mengapa di pisah rasanya?
karena dia ada dalam usaha dan karya
dia ada dalam diam dan ka
ta

ora et labora

salam
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 3 so far )

Bagai cinta terlarang

Posted on Februari 3, 2008. Filed under: kisah menuju cahaya |

 (masih melanjutkan kisah..)

 Minoritas cenderung berkelompok, sadar atau tidak sadar, demi mempertahankan diri juga demi pergaulan yang lebih nyaman. Ini fitroh, seseorang cenderung merasa nyaman di kelompoknya. Hampir mustahil dan terlalu beresiko buat seseorang dari golongan minoritas untuk berbaur tanpa batas dengan mayoritas saat itu.
Walau secara umum terlihat harmoni, sejujurnya seperti ada api dalam sekam. Yang sewaktu-waktu dapat tersulut, jika ada kondisi yang memancing api untuk membesar.

Sahabat kecil seiring tumbuh kembangnya menjadi remaja, belajar meniadakan perasaan minoritas itu, belajar keluar dari kelompoknya dan berbaur dengan siapa saja dan apa saja. Tak memandang warna, rupa, dan bentuknya. Yang sahabat utamakan adalah rasanya, rasa persahabatan, rasa kebersamaan juga rasa berbagi di antara mereka. Agak sedikit sulit, dan agak sedikit mengingkari kenyataan.
Karena hasilnya lebih sering berupa menutupi perbedaan. Kebersamaan terbentuk lebih karena menutupi perbedaan bukan karena menerima perbedaan. Maka ketika pembicaraan mengarah ke bagian yang menyangkut perbedaaan, terasa ada yang sakit dan tidak mengenakkan. Menjadi minoritas dalam sistem yang diterapkan penguasa saat itu, dimana minoritas dibungkam dan dimarginalkan, tentu sangat tidak mudah. Tak sedikit mayoritas seenak-enaknya, dan tidak sedikit minoritas mengeksklusifkan diri.
Jurang tak terelakkan.

Beragama pun sama, mayoritas mengklaim minoritas melakukan misi tersendiri untuk menentang mayoritas, minoritas mengklaim mayoritas bertindak semena-mena.
Sahabat letih berada di tengah-tengah.
Meniadakan satu dari yang lain, tentu tidak mungkin.
Walau meniadakan satu dari yang lain sangat mudah. Kembali saja ke komunitas sejenis, dan menutup erat pintu, jangan pernah dibuka agar tak perlu bersentuhan. Tapi nurani tak bisa memungkiri, bahwa perbedaan tidak harus menjadi batas, itu perasaan yang ada dalam hati sahabat.
Sahabat terasa terlalu idealis dengan perasaan seperti itu, teman-teman karibnya pun mentertawakan.

Mayoritas tak harus menekan minoritas, minoritas tak harus merasa tersingkirkan. Tuhan yang besar, seharusnya dapat merangkum semua perbedaan dalam kebesarannya.
Karena siapa yang mimpi terlahir berbeda? Siapa memilih terlahir menjadi minoritas? Mengapa tuhan tidak adil melahirkan seorang menjadi kelompok minoritas jika minoritas harus dimarginalkan? Kenapa tidak semua dilahirkan sama, agar tidak ada satu menguasai yang lainnya? Tuhan yang kuasa menempatkan seorang hamba, mengapa sahabat ditempatkan pada sesuatu yang sulit?

Pertanyaan demi pertanyaan keluar bak air yang mengalir menuju muara, perlahan tapi pasti mengejar jawaban.
Sahabat mulai membaca “Mengapa memilih Islam” cerita seorang mualaf asal Jerman.
Tidak begitu jelas arah tulisan buku tersebut untuk seumuran sahabat waktu itu, hanya sekelumit untaian kata-kata dari Goothe, penyiar Jerman yang terkenal yang dikutip penulisnya, bahwa jika Islam itu artinya berserah diri pada yang kuasa, maka semua yang dilangit dan bumi ini adalah Islam.
Kata-kata yang indah dan selalu terkenang.
Dan seharusnya memang begitu, jika tuhan yang besar tempat untuk menyerahkan diri, maka tuhan yang besarlah pelabuhan terakhir semua perjalanan, muara yang dituju semua pertanyaan.

Seperti jatuh cinta pada sesuatu yang terlarang, rasanya mustahil memilih tuhan yang besar itu. Tuhan yang besar bagai mimpi di siang hari bolong, terlalu mengada-ada, dan tidak pada tempatnya. Karena bagaimana mungkin memilih tuhan yang besar?
Sahabat terjepit antara realitas mayoritas dan minoritas.
Melahirkan tanya dalam hatinya, memilih tuhan yang besar itu hanya untuk menjadi bagian dari mayoritaskah? Menanggalkan identitas minoritasnya untuk diperlakukan sama dengan mayoritas? Apa itu yang dijanjikan tuhan yang besar bagi sahabat?
Semua terasa aneh, sahabat terlalu muda usia untuk mendifinisikan. Dan seperti cinta pada pandangan pertama yang terlanjur bersemi, terasa terlarang dan menyesatkan, tapi merayu dan memanggil jiwa hari demi hari.

Sama dengan dibanyak cerita, cinta terlarang sebaiknya ditiadakan, dibuang bahkan dienyahkan dari muka bumi. Sahabat sekuat tenaga menghalau rasa cintanya, tapi semakin dihalau semakin menjerat dan menguasai hati.
Tuhan yang besar itu bak cinta yang mencandu dalam hati, sahabat meratap minta diambil saja cinta itu, dengan menawar lebih baik tak mencinta siapa-siapa daripada melawan realitanya yang ada.
Didengarkah oleh tuhan?

Suatu ketika, sahabat diajak pelesir oleh temannya ke kota yang sejuk udaranya. Untuk melihat cita-cita akan kampus idaman jika suatu saat berkuliah, disanalah tujuannya. Ditengah kelaparan, temannya mengajak mampir disebuah kantin di dekat sebuah rumah tuhan. Sahabat tak tahu persis apakah itu, jalannya memutar ke arah asrama putri, yang banyak kudanya. Teman pun tidak berinisiatif mengajak sahabat melihat-lihat seputaran kantin itu, karena kata temannya, itu bukan rumah tuhan sahabat, mungkin tidak boleh sembarangan. Maka hanya sampai kantinnya saja.

Tapi entah kenapa, sahabat merasa suatu saat akan kembali lagi kesana.
Lalu hari-hari sahabat berlalu khas remaja pada umumnya, bermain, belajar dan cerah ceria.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

Tuhan yang Besar

Posted on Januari 31, 2008. Filed under: kisah menuju cahaya |

 (melanjutkan kisah nyata menuju cahaya)

Sahabat kecil bersama teman-teman senang mengoleksi buku. Semua buku dibaca, tak ada batasannya. Banyak buku tentang tokok-tokoh terkenal disukainya, sangat mengasyikkan mengenal dan mempelajari jalan hidup manusia tuk menjadi ternama dan berarti.
Menginspirasi dan mengajari banyak hal tentang perjuangan hidup.
Adalah sebuah buku menyusun tokoh-tokoh berdasarkan mau si penulis. Seratus orang tokoh disusun berdasarkan prestasinya dalam kehidupan, begitu kata penulisnya. Sahabat kecil membeli dan ingin mengetahuinya.

Pertama dibuka, dia yang disusunan pertama bernama Muhammad. Katanya seorang nabi dari Arab. Membawa ajaran bernama Islam, dengan kitab al-Qur’an. Dia menguasai hampir seluruh Jazirah Arab, sebagian Afrika sampai ke Eropa dengan Cordobanya yang terkenal dengan lautan ilmu.
Baru kali ini ada nabi menguasai sampai ke luar jazirahnya, membawakan dengan ilmu dan penuh pesan kebaikan. Tidak diulas lebih dalam, yang jelas nabi itu berhasil merubah dunia dan peradaban. Agama yang dibawanya adalah agama Islam, konon agama yang universal.

Agama Islam..,
seperti agama mayoritas kehidupan disini, begitu gumam sahabat kecil.

Tak hanya buku itu, di sebuah buku kecil yang memuat kisah-kisah teladan, ada sebuah kisah yang sangat disukai sahabat. Kisah seseorang Arab bernama Umar, salah seorang sahabat Muhammad – si nabi dari Arab.
Ketika Umar berkuasa menjadi pemimpin, Umar gemar menyamar dan berkeliling kota, mengawasi kehidupan rakyatnya. Suatu malam, terdapatlah seorang ibu tua yang sedang menangis sambil menanak batu. Ketika anaknya bertanya kepada ibunya mengapa menanak batu, ibu tua itu menyesali Umar sang pemimpin, yang tidak melihat pederitaannya. Dan kebetulan sekali, Umar lewat di dekat situ. Sambil menangis, Umar pulang mengambilkan gandum dari rumahnya dan memberikannya kepada ibu tua itu dengan dipanggul di punggungnya sendiri. Umar melakukan itu karena takut pada Allah tuhannya, yang maha mengetahui dan maha melihat.

Bagi sahabat kecil, itulah kisah terindah dari seorang yang Islam, yang menggugah hatinya. Sahabat sang nabi itu begitu santun dan baiknya. Lebih takut kepada Allah tuhannya dari manusia manapun. Bahkan seorang ibu tua pun dilayani karena takut pada tuhan.
Sosok si miskin yang malah sangat dilupakan di masa sekarang.
Sahabat sering mendengar kisah kebaikan nabi, tapi kisah ini kisah sahabatnya nabi.
Jika sahabatnya saja begitu, bagaimana hebatnya sang nabi ya?

Sahabat juga memiliki dua teman karib sejak kecil, bak satu jiwa mereka bermain bersama. Tidak lihat suku, agama atau kedudukan sosial ekonomi. Mereka bertiga bisa mewakili kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Mereka memang berbeda-beda. Tapi semua seolah menyatu, satu rasa satu jiwa. Sesekali berbeda itu biasa tapi tidak pernah terjangkit permusuhan atau kesalahpahaman. Mereka membicarakan suka dan duka, termasuk mengerjakan tugas bersama. Bahkan berjanji untuk tetap bersahabat hingga tua usia menghampiri.
Indah dan bahagia, itulah rasanya manakala persahabatan dapat mengisi jiwa dan raga. Ketika semua orangtua semakin sibuk dengan diri mereka, sahabat mengisi dengan bersama belajar mengarungi hidup, saling menuntun, saling mengoreksi juga saling berbagi.

Terbayang betapa bahagianya sang nabi, punya sahabat sebaik itu. Mengamalkan ajaran tuhan sampai begitu santunnya. Padahal dimana-mana, penguasa cenderung minta dilayani dan terus dipenuhi maunya. Bagaimana bisa menjadi begitu ya?
Pengaruh tuhannya pasti sangat besar, sehingga bisa membuat seorang penguasa bisa sedemikian baiknya pada rakyat kecil. Mengantarkan sendiri gandum untuk rakyatnya.

Apa yang diajarkan sang nabi? Mengapa tuhannya begitu besar?

Dalam mayoritas yang ada di keseharian, sahabat kecil dapat melihat betapa penganut agama dengan tuhan yang besar ini menguasai minoritas, membungkam dan nyaris tak memberi ruang, selain kesalahan demi kesalahan yang ditimpakan kepada minoritas, seperti kambing hitam, tak mampu membela diri.
Begitukah Tuhan yang besar itu mengajarkan kebesarannya?
Sahabat kecil tak dapat menjawabnya, tapi perlahan mulai melangkah mencari jawabnya.

Dalam sebuah bacaan sederhana dari kisah-kisah teladan itu, dikatakan tiada tuhan selain Allah adalah karena tuhan seharusnya satu. Tidak beranak dan diperanakan. Kasat dan jelas, sangat mengoreksi tuhan yang sahabat kecil pertanyakan. Dan sejak dulu, sahabat kecil telah diam-diam menolak perumpamaan itu dari logikanya, karena tak dapat merasakan kehangatan tuhan dalam realita perumpamaan itu.
Dalam keterbatasan, perumpamaan seperti itu membuat tuhan memang terasa jauh dari hati, sejauh orangtua dari hati karena konflik pribadi yang berkepanjangan.
Minimal untuk sahabat sendiri, entah mengapa?

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

tidak ada kata terlambat kan untuk cinta

Posted on Januari 8, 2008. Filed under: kisah menuju cahaya |

(higs.. tapi indah..)

waktu saya masuk islam di usia 18 tahun, ada seorang teman yang bilang gini..
– anis, lu gila ya?? gua lagi asyik pacaran, lu malah masuk islam..
hehe.. iseng, saya menjawabnya..
– berhubung ama nyokap ga boleh pacaran, maka masuk islam aja..
dasar!

lalu sejak masuk islam itu, saya berkelompok dengan mereka yang sangat islami.
pikiran saya pun dijejali pemikiran yang islami. yang katanya semua ini harus lillahi ta’ala, hidup ibadah, jihad fi sabilillah, dakwah harus kenceng demi tegaknya islam di muka bumi.. dsbnya.
tak lama dari itu, saya pun diajak ikutan materi tentang munakahat (pernikahan), dari surga istri di ridlo suami, sampai tidak boleh menolak yang akan dilaknat malaikat sepanjang malam.
saya pun tenggelam dalam pembicaraan muslimah yang ge-ernya kalau dilihat ikhwan (pria) yang berjanggut dan bercelana cingkrang, yang dakwahnya kenceng, yang ngajinya oke, dst..dstnya sampai yang didahinya ada tapak sujudnya..

pikir-pikir, memang ga ada yang salah..
saya juga merasa semua itu benar-benar saja
tapi, sejujurnya..
untuk saya pribadi, saya merasa banyak hal yang saya tekan dari dalam jiwa demi mengedepankan semua itu.
dan itu dikatakan, memang demikian seharusnya , karena itulah islam.
tidak ada kata yang tepat tuk saya kemukakan apa yang ada dalam jiwa, selain.. saya kok merasa tidak menjadi diri saya sendiri ya..??
tapi, demi “agama” saya mengalah..

walhasil, hidup bagi saya menjadi sangat bersyarat.. kudu ini kudu itu
kalau tidak ini dan itu.. ya tidak islami..

sementara kalau saya boleh jujur sedalam-dalamnya,
rasanya di hati ini, ada deh rasa cinta yang cuma cinta aja..
ga ada syaratnya, ga ada kudu-kudunya.. bahkan ga ada janggut dan tapak sujudnya..
rasanya di hati ini ada deh karunia cinta yang saya yakini dari ilahi..
yang tulus aja adanya dan ga mau apa-apa.. selain cinta itu sendiri..
salahkah saya??

pernah saya kemukakan ketertekanan itu pada teman kecil saya..
dia tertawa dan bilang gini..
– lu masih perawan deh, nis..
– halooo, udah punya anak dua nih..
– maksud gua, hati lu yang perawan..
– apaan?
– menurut gua, lu tuh belum tahu jatuh cinta yang sebenarnya deh, nis.. hidup lu agama mulu. lu cari cowok yang baik hati yang mau ajarin lu cinta deh.. hahaha..
– sebentar, bukankah hidup beragama itu mulia? 😉
– nis, nyadar dong.. hidup ini ada rasanya. alam aja indah-indah.. masa lu hidup kaya jalanin peta buta gitu sih?? boleh dong merasakan sesuatu yang indah.. masa serem aja bawaannya. sometimes.. lu kaya “mother marry” deh. hidupnya suci mulu gitu.. hahaha..
– serius nih..
– gini ya, gua tahunya lu tuh ga bisa bo’ong lama-lama sama diri lu sendiri. dari dulu lu ga bisa mengklasifikasikan orang, maka lu stress berada diantara orang-orang yang sukanya ngebeda-bedain orang dan mengkelas-kelaskan orang.. tuh yang bikin lu tertekan..
– tapi, mereka itu kan sholeh..
– sholeh ga nya, jahat ga nya, hati lu bisa ngukur kan??
– hehe, iya sih..
– makanya nis, cinta lu itu juga cinta yang baik-baik aja.. bukan yang terlalu bersyarat. lu malah jadi pusing sendiri. orang lain boleh dan bisa seperti itu. tapi lu ga bisa, lu sadari itukan??

hehe, saya memang suka diejeknya.. karena terlalu polos..
sementara dia pacaran berkali-kali, makanya wawasannya luas..
tahu apa yang diinginkannya.. tahu bagaimana dirinya..

semua pacaran baginya adalah pertemanan yang mau saling membicarakan diri masing-masing. bukan pacaran yang aneh-aneh penuh nafsu.. baginya hidup ada etika. dan saya melihat, dia sangat tahu apa itu hidup, walau tidak berlabel agama..

kini, islam saya hari ini, membukakan mata hati saya
tuk menerima semua rasa yang pernah ada dalam jiwa saya..
yang adanya bukan rekayasa dan bukan untuk menuntut ini itu
yang adanya ya ada saja..

dan, karena saya sudah bersuami..
saya mengajak suami ke kafe, menikmati life music tuk menghabiskan malam..
atau ajak suami hunting ini itu berdua saja..
atau ajak suami menemui hal-hal baru..
sekedar untuk menemukan dan merasakan rasa-rasa yang pernah ada..
sesekali ditemani anak-anak.. tuk juga ajari mereka mengeksplorasi kehidupan

bener deh, kata teman saya itu..
hidup ini ada rasanya..
ga cuma kumpulan teori dan persepsi..

dalam hati ini, saya berterimakasih pada Allah yang telah mau me”manusia”kan saya lagi…
setelah sekian lama saya tidak mengenali diri sendiri..
setelah sekian lama saya menekan dan mengingkari perasaan2 dalam jiwa ini..
setelah sekian lama saya tak mampu mengambil sikap atas yang lahir dari dalam hati.. tentang rasa, yang sejuta kata tak mampu melukiskannya..

pesan teman saya itu,
– nis, kalau lu sudah temui rasa cinta itu. menurut gua, lu akan menjadi lebih “mother marry” deh.. suci sebenarnya. suci yang ga penuh pura-pura lagi.. yang baiknya terasaaaaaaaaa sekali..
yang ini, gua serius.. lu tuh bakatnya jadi orang baik. kali-kali semua temen-temen lu yang baik itu, juga begitu..

yup, nanti deh..
beri waktu tuk saya merasakan cinta yang mengalahkan smua benci..
cinta yang proporsional.. sesuai denganNya, dengan diri saya..
dan..
tidak ada kata terlambat kan untuk cinta??

salampenuhcinta
anis

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 11 so far )

manusia – antara iblis dan malaikat ciptaanNya

Posted on Januari 3, 2008. Filed under: kisah menuju cahaya |

perhatikan manusia normal kalau ia berjalan..
kanan kiri, kanan kiri, kanan kiri
kakinya saling bergantian melangkah..
maka manusia itu berjalan maju dan ke depan..

bayangkan kalau manusia itu hanya menggunakan kaki kanannya tuk
malangkah..
maka ia akan ke kanan, ke kanan, dan ke kanan..
begitu sebaliknya jika hanya kaki kirinya yang melangkah..
maka ia seperti kepiting yang melangkah ke samping… (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 10 so far )

siapakah gerangan dia?

Posted on Desember 27, 2007. Filed under: kisah menuju cahaya |

Masa kala itu adalah masa yang lalu, dikota yang kecil yang sedang berkembang dan lengang. Hidup terpelihara dan terjaga dalam lingkungan yang nyaris sama saja. Tertawa dan penuh canda seperti yang lain dan lazim untuk anak seusianya. Sehari-hari sekolah, memulai hari dengan doa dan suatu waktu berangkat beribadah bersama. Semua biasa saja.

Sampai suatu ketika, sebagai bentuk tersentuh kemajuan, pasar serba ada dan mudah berdiri disana. Sahabat kecil dan keluarga juga teman-teman sesekali belajar belanja ke sana. Semua serba tersedia, mungil tapi terampil, aneka rupa tertata sempurna. Bisa kesana menjadi kebanggaan, karena mewahnya terbatas jangkauan. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 6 so far )

Berawal dari Tanya

Posted on Desember 27, 2007. Filed under: kisah menuju cahaya |

Hati selalu ceria menanti datangnya pagi. Membuka pagi bagaikan membuka halaman buku cerita, yang penuh kata didalamnya, melukiskan kisah dan menimbulkan keasyikan buat yang membaca. Begitulah harusnya pagi untuk semua anak-anak, semangat menuju sekolah, menuntut ilmu bersama sahabat-sahabat tercinta.

Di sekolah yang penuh kedisiplinan dan nuansa religi, para guru menyiapkan hari untuk melayani pendidikan di setiap pagi. Sahabat kecilpun memandang penuh suka kepada para guru, mengagumi kelembutan wajah dan sinar hati yang dipancarkan dari mereka. Belajar menjadikan pintar dan tahu banyak hal. Guru selalu mengawali hari dengan doa, mangajak semua murid dan sahabat kecil merasa hari ini akan baik hingga malam berganti. (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

cahaya (1)

Posted on Desember 27, 2007. Filed under: coretan, kisah menuju cahaya |

Seekor burung kecil gemar memandang cakrawala

Menatap nun jauh di sana nampak seperti cahaya

Membuat semua yang terlihat jelas adanya

Burung kecil terpikat cahaya

Entah pada siapa dia boleh bertanya

Tiada jawaban yang cukup bermakna

Hari demi hari, burung kecil rindu cahaya (lebih…)

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...